Archive for the ‘ Zona Indo ’ Category

Susahnya Menembus Label Rekaman

Menjadi dikenal, di puja dan memiliki banyak uang, menjadi tujuan para musisi disamping tujuan utama mereka, mengkreasikan musik. Perkembangan musik Indonesia cukup pesat, setiap bulan ada saja penyanyi ataupun band band baru yang muncul di layer kaca, atau single nya terdengar di media radio. Namun taukah anda kalau ternyata menembus label rekaman kemudia terkenal itu tidak mudah.

Zona Indo edisi 8 januari 2010 kedatangan KIMZY Band, sebuah band lokal Palembang yang sudah mulai menjajaki keseriusn di dunia musik. Band Indie yang sudah go nasional ini terdiri dari Arco di KeyBoard, Dennis di Bass dan Julian pada Vocal. Saat ini mereka sudah mengeluarkan album kedua dengan 6 single di dalamnya.

Ditanya soal jatuh bangun dengan lantang, dennis mantan personil Kertas Band ini mengatakan “semua pernah dilewati, mengirim sample dan ditolak, bertemu dangan calo calo recording sampai ditipu” ujarnya.

Selain Kimzy, Armada Band pun memiliki pengalaman yang sama. Ketika dihubungi melalui telpon malam itu, Rizal sang vokalis menungkapan, kesuksesan yang mereka dapatkan saat ini sudah melewati berbagai usaha yang tidak mudah.
“kita sering sekali di tolak label, namun teman teman terus berbesar hati, terus merevisi, mengecek kembali dan tidak putus asa” kata rizal. Armada band, band asal Palembang yang dikenal dengan lagu ‘buka hatimu’ dan mulai mempromosikan single hit kedua mereka ‘mau dibawa kemana’ ini mengharapkan agar musisi musisi local Palembang tidak lantas putus asa, atau berfikir untuk membubarkan grup band mereka hanya karena tidak juga tembus ke label rekaman. “yang penting berkreasi, karena musik itu adalah selera, hobby dan tidak harus dibangun dengan obsesi” tambahnya.

Selain 2 Band asal Palembang yang berbincang pada malam itu, Eko, manager dari Commando, band asal Pekalongan yang berhasil menembus Sony Music juga membagi Tipsnya. “Gak perlu bernafsu untuk langsung ke label, ingat loh sekarang ini banyak sekali mafia mafia recording, orang orang yang mau mengambil keuntungan dari band band baru. Teruslah berkreasi di dalam kota, mengasah kualitas, membiasakan di panggung, mepelajari teknik teknik musisi dan mengenalkan diri ke masyarakat. Ketika kualitas bagus sudah terbentuk, kita tidak perlu mengeluarkan uang sedikit pun, mereka yang akan membayar kita’ katanya tegas.

Jadi, siapa bilang menembus label itu susah, ketika kita memiliki kemampuan yang baik, kualitas yang bias diacungkan jempol, label sendiri yang akan datang ke kita. Siap berkarya ? (dinnaherly)

Fla, mencoba keberuntungan sebagai penyanyi solo di awal 2010

kita tentu masih ingat dengan grup Vokal Tofu.Grup vokal yang beraliran R&B ini telah mengeluarkan empat buah album. Lagu lagu yang manis dirangkai dengan musik yang kreatif membuat grup vokal yang terdiri dari Anton, Uya, dan Fla ini cukup diminati dimasanya. Dengar saja hits mereka Mimpi Terindah atau Cinta semu, dijamin kita akan kembali bernostalgia ke masa lalu.

Awal Januari, satu persatu personil dari tofu mengundurkan diri dari grup vokal ini dengan alasan yang berbeda beda satu dengan yang lainnya.
Ketika dihubgungi Trijaya Palembang Jum’at malam di Zona Indo, dengan ringan fla menjelaskan bahwa masing masing personil sudah menyadari bahwa grup ini tidak akan berumur panjang.
“8 tahun waktu yang cukup lama, karena memang dari awal dibentuk Tofu tidak bermimpi untuk bertahan selamanya”

Lalu apa kegiatan Fla saat ini, berniatkah kembali meraih keberuntungannya di bidang seni suara. “saya sempat mengeluarkan single, persembahan untuk anak saya yang berulang tahun saat itu, Baby Love (judul lagunya) ternyata juga cukup diminati banyak orang.”

Mengenai keseriusannya menggarap album solo, dengan ringan fla menanggapi, “saat ini sebenarnya saya sudah menggarap satu album, dimana 10 lagu yang berada didalamnya saya buat sendiri, baik ide maupun liriknya. Saya tidak banyak melibatkan musisi dalam album ini, cuma suami dan beberapa teman dekat”

Album yang rencananya akan dirilis february 2010 ini masih akan bergenre pop R&B, namun tema yang diusung cukup bervariasi, mulai dari cinta, persahabatan dsb (dinnaherly)

Kemana Penyanyi Cilik Indonesia?

Dunia artis cilik Indonesia menjadi kosong, mungkin ini ungkapan yang tepat untuk saat ini. Joshua, Enno Lerian, Trio Kwek Kwek , Sherina dan lainnya mulai beranjak dewasa, anak anak kita menjadi kehilangan idolanya. Belum lagi lagu lagu band bertema cinta ramai bersliweran membuat anak anak lebih mudah mengingat dan menghapal syair syair lagu dewasa.

Zona Indo edisi Jum’at 24 Juli 2009, mengundang opini pendengar seputar krisis penyanyi cilik di negara kita, jawabnya pun beragam. Mulai dari Industri penyanyi cilik yang dinilai kurang menjual, sampai anggapan kekurang pedulian para penulis lagu, untuk membuat syair anak anak.

“anak anak tidak lagi bernyanyi lagu satu ditambah satu, melainkan jatuh cinta atau patah hati” ujar salah satu pendengar yang dihubungi melalui telp.

Belakangan, kontes cari bakat anak anak, juga sempat menjaring beberapa nama, seperti Debo dan kawan kawan, namun tetap lagu yang mereka bawakan juga bertema cinta, dan remaja. Belum lagi, kemunculan 3 putra musisi Ahmad Dani, dengan lagu Bukan Superman.

apakah sudah tidak ada lagi pencipta lagu anak-anak seperti Papa T Bob dkk? atau sudah tidak ada lagi penyanyi-penyanyi cilik yang berkualitas? sepertinya jawabannya bukan itu. musik sekarang sudah menjadi industri, profitabilitas lah yang menjadi sasaran. label-label major lebih memilih memfasilitasi karya-karya yang sesuai dengan permintaan pasar. sama halnya dengan stasiun televisi yang menayangkan AFI Junior dan Idola Cilik, acara yang tadinya dipandang bermanfaat untuk mencari dan memandu bakat menyanyi bagi anak-anak malah ‘memaksa’ anak-anak untuk menjadi dewasa karena mereka lebih banyak menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang isinya cinta

Semoga, ini tidak berdampak banyak pada perkembangan anak anak Indonesia, apabila musik juga memiliki peranan dalam pembentukan pribadi anak.

“semoga musik Indonesia juga memberikan sedikit spacenya untuk putra putri kita” isi sms dari seorang pendengar (dinnaherly)

Perkembangan Musik Indonesia

Semakin hari semakin terlihat perkembangan musik indonesia yang semakin pesat. Pihak label tidak perlu repot lagi mencari calon calon musisi baru karena dengan menjamurnya band band ini dari berbagai aliran jenis musik membuat kerja dari pihak label menjadi lebih mudah.

Zona Indo edisi 10 April 2009 lalu, menccoba kilas balik perkembang musik indonesia, kembali ke puluhan tahun silam.

Di era 70an, musik Indonesia di dominasi oleh lagu lagu perjuangan, seperti halo halo bandung, maju tak gentar dan lainnya disusul oleh lagu lagu koesplus.

Sepuluh tahun setelahnya jenis lagu yang mendominasi adalah lagu pop yang mendayu-dayu, bertempo lambat dan cenderung berkesan cengeng. Rinto Harahap, Pance pondaaq, A ryanto, dan Obbie Mesakh adalah nama-nama pencipta lagu yang cukup produktif di era ini.Yup inilah masanya lagu patah hati! Nama-nama seperti; Nia Daniaty, Betharia Sonata, Ratih Purwasih, Iis Sugianto, adalah beberapa nama yang merupakan spesialis lagu sedih.Lagu-lagu balada juga lumayan laku ini mungkin karena temponya lambat juga, Franky dan Ebiet G Ade merupakan musisi yang eksis dijalur ini.

Setelah Mentri Harmoko melakukan pelarangan terhadap musik cengeng akhirnya, aliran musik ini menjadi surut, dan musik pop Indonesia seperti kehilangan arah. Hasilnya di tahun 90an musik dangdut menjadi lebih hidup dan meriah. Bahkan banyak dari para penyanyi yang tadinya beralirab pop dan rock beralih ke dangdut dan kemudian tercipta jenis musik baru yaitu pop dangdut!

Disaat yang bersamaan saat musik Pop Indonesia kehilangan Greget, masuklah Ami Search, musisi dari negeri jiran, Malaysia dengan lagunya ‘ Isabela’ dan langsung menjadi Hits! Lagu Isabela inilah yang menjadi lokomotif bagi musisi dan lagu-lagu malaysia lainnya untuk membanjiri pasaran musik Indonesia.Beberapa nama yang menjadi terkenal kemudian adalah Salim Iklim, Ella, Nora, dll. Saat itu musik Malaysia benar-benar merajai musik Indonesia.

namun ada beberapa musisi yang tetap bertahan dengan alirannya ditengah gejolak musik Indonesia yang tidak stabil tersebut, seprti dewa19, gigi, vina panduwinata dsb.

Masuk ke era 2000an, musik kita semakin bergelora, mulai banyak musisi musisi daerah yang percaya diri menunjukkan kebolehannya, lewat Indie kompetisi. Perhatian terhadap perkembangan musik indonesia pun semakin terlihat dari banyaknya kompetisi musik untuk mecari bakat bakat baru, serta intens nya media yang menghadirkan program program musik Indonesia di akhir 2009. (dinnaherly)

Dadakoe, bukan numpang ngetop

Semakin hari, Musik Indonesia semakin di ramaikan oleh para pendatang baru sebagai solois, grup vokal atau band. Masyarakat dihadapkan kepada pilihan yang nantinya bisa disesuaikan dengan selera bermusik mereka.

Di ketatnya persaingan antar musisi, masing masing pendatang baru harus memiliki modal yang kuat yang dapat membuat mereka mampu bersaing satu dengan yang lainnya.

Diantara sekian banyak musisi pendatang baru, muncul ” DaDakoe” yang merupakan sebutan singkat untuk David dan Damon Koeswoyo. Benar, David merupakan putra dari musisi legendaris Yon Koeswoyo sementara Damon adalah Putera dari Ton Koeswoyo. Nama koeswoyo sendiri adalah nama yang sudah cukup dikenal kiprahnya di dunia musik Indonesia. Apakah kesuksesan koeswoyo akan juga dirasakan oleh anak anaknya?

Dalam Zona Indo edisi 29 february 2009, Trijaya mencoba menghubungi David Koeswoyo selaku vokalis dari dadakoe.

“bukan mendompleng nama orang tua, karena jelas musik yang kami bawa berbeda, tapi jika masyarkat beranggapan demikian, buat kami itu bukan masalah” ujar david.

Ditanya berapa besar kontribusi orang tua selaku musisi senior di album perdana mereka, dengan tegas david mengatakan selain support, sama sekali tidak ada. (dinnaherly)

Lagu Religi lebih dicari

Memasuki bulan Ramadhan 1429 H, hampir semua umat Islam melakukan banyak persiapan, mulai dari makanan, pakaian serta bekal peribadatan. Banyak hal juga yang mulai dilakukan oleh para pelayan masyarakat untuk melengkapi kebutuhan dan makan dari bulan suci ini. Termasuk para musisi.

Khas Ramadhan, sesuatu yang hanya marak saat Ramadhan tiba, misalnya Baju Koko, timun suri, dan album album religi. Apa yang akan disodorkan oleh para musisi pada Ramadhan kali ini?? Dan kenapa harus Album Religi? Dalam Zona Indo edisi 29 Agustus yang lalu, ditemukanlah jawabannya.

Album-album religi selalu laris manis, tak kalah dengan hidangan pembuka puasa yang diserbu orang menjelang Maghrib datang

Sebut saja Opick sebagai contohnya, Penyanyi Religi yag hanya muncul satu tahun sekali ini mempunyai tempat khusus di hati pendengarnya di bulan Puasa.Ia pun banyak menerima order manggung, baik on air maupun off air. Boleh jadi, kenyataan ini tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Maklum, sempat terjun di dunia musik rock, nama Opcik nyaris tak terdengar di blantika musik Indonesia.Untuk tahun ini, Opick mencoba menampilkan sesuatu yang baru lewat album Cahaya Hati, yang baru saja diluncurkan dua pekan silam.

Bukan cuma Opick,Grup Band Ungu mengaku, hampir setiap Ramadhan mereka selalu menyiapkan album bernuansa religi, termasuk Ramadhan 1429 H kali ini. Di album Aku Dan Tuhanku dengan single hits Nafasmu yang mulai dipasarkan pertengahan Agustus ini, mereka mencoba memberikan gambaran tentang pencarian seorang anak manusia terhadap agamanya.

Sementara band asal Sukabumi Vagetos, juga menyiapkan album religi terbaru dengan judul Kuatkan Aku yang akan dirilis pekan ini. Bedanya dengan album reliji lainnya, album ini juga disertai buku tentang pengalaman rohani dari masing-masing personel Vagetoz yang ditulis oleh Kunto Wibisono.

Penyanyi pendatang baru yang kini tengah naik daun, Afgansyah Reza alias Afgan pun ingin mencicipi lezatnya kesuksesan album reliji. Penyanyi yang bernaung di bawah label indie, Wanna Be Productions itu menjelang Ramadhan ini merilis album Padamu Ku Bersujud.

Pengamat musik Bens Leo mengungkapkan, maraknya album-album relegius di bulan Ramadhan sebenarnya sudah di prediksi lama oleh para produser musik, mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

Bens mencatat, pada 2005 Gigi lewat album Perdamaian bikin gebrakan karena angka penjualannya lebih tinggi dari album regulernya. Begitu juga dengan Ungu, album religiusnya justru lebih laku ketimbang album regulernya.

Barangkali ini wajar karena pangsa pasar untuk musik religius sangat besar mengingat kebanyakan penduduk Indonesia Muslim. (dinnaherly)

Sekolah musik untuk anak, Investasi orang tua

“Yuk, daftarin anak anak kesekolah musik, siapa tau bisa jadi artis, lumayan kan?”

Jadi artis cilik, mungkin ini yang diimpikan oleh sebagian orang tua untuk putra putri mereka. Honor yang menggiurkan membuat para orang tua mempersiapkan putera puteri mereka untuk berlaga di dunia hiburan tanah air. Sekolah musik menjadi alternative media untuk mewujudkannya. Baca lebih lanjut