Archive for the ‘ Spirit Of Ramadhan ’ Category

Memberi Yuk

PALEMBANG – Menjadi dermawan. Dermawan adalah dengan senang hati tanpa keterpaksaan memberikan sebagian harta yang dimilikinya untuk kepentingan orang lain yang membutuhkan. Kedermawanan ini menjadi tema Spirit Of Ramadhan, Rabu (16/09) bersama Ustad Haryono Kardi Al Javi. Menjadi Dermawan ini adalah perintah Allah. Menjadi dermawan yakni diimplementasikan dalam bentuk anjuran untuk senantiasa bersedekah, berinfaq. Sebaliknya dalam Islam, sama sekali tidak ada anjuran untuk meminta-minta.

“Meminta-minta dan memberi uang kepada pengemis dikhawatirkan akan membuat mereka menjadi malas untuk bekerja. Kita boleh memberikan bantuan, tapi bukan ikannya, melainkan kailnya, agar jika esok kita tidak lagi membantunya, mereka bisa hidup sendiri,” papar Ustad.

Umat Islam juga diharuskan untuk menjadi kaya. Namun bukan berarti kaya untuk bermegah-megah. Kaya yakni mengusahakan kehidupan yang layak sehingga dapat bersedekah dan selalu membelanjakan hartanya di jalan Allah SWT. Dengan menjalankan laku seperti ini, maka seseorang mencerminkan keimanannya yang kuat. Tingkat tertinggi dalam kedermawanan adalah Itsar, yakni mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri. “tetapi Itsar ini bukan berarti mentelantarkan diri dan juga keluarga kita,”

menumbuhkan sifat dermawan dapat dilakukan dengan cara memahami bahwa harta merupakan titipan Allah. Serta tidak boleh iri terhadap harta orang lain. Senantiasa mensyukuri apa yang ada, selalu menjadi dermawan di saat lapang dan sempit, selalu rela mendermakan harta, memahami keutamaan menjadi dermawan dan memahami akibat dari sifat bakhil.

adapun adab-adab seorang dermawan yakni melakukannya semata-mata karena Allaht SWT, menyembunyikan shodaqah, barang yang diberikan hendaknya sesuatu yang berkualitas, tidak menyakiti hati orang yang menerima sedekah, tidak mengungkit-ungkit apa yang telah diberikan, menyegerakan berzakat, sedekah diutamakan untuk keluarga/kerabat terlebih dahulu baru orang lain dan melakkan seleksi orang yang akan menerima sedekah sehingga didapatkan benar-benar oleh orang yang membutuhkan. (vira)

Iklan

Qanaah

PALEMBANG – Apakah anda adalah manusia yang Qana’ah? Qana’ah adalah harta yang tak akan pernah hilang. kekayaan yang tak pernah berhabis. Ustad Totok Haryanto, dalam Spirit Of Ramadhan, Selasa (15/09) menjelaskan bahwa Qana’ah artinya rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan.

yang terbaik adalah tangan berada di atas, bukan di bawah. Yang tebaik adalah selalu ingin memberi, bukan meminta. Ustad Totok saat ini juga sangat menyangkan bagaimana bulan Ramdahan sepertinya peminta-minta semakin banyak. Ustad Totok menjabarkan bahwa hanya ada tiga golongan saja yang boleh meminta-minta yaitu : 1.- Orang yang menanggung hutang (gharim,untuk mendamaikan dua orang
yang bersengketa atau seumpanya). 2- Orang yang kena bencana, gempa bumi, kebakaran dan lain-lain, sehingga hartanya musnah. 3- Orang yang ditimpa kemiskinan, (disaksikan atau diketahui oleh
tiga orang yang dipercayai bahwa dia memang miskin). Orang itu boleh
meminta-minta, sampai dia memperoleh sumber penghidupan yang layak.

Namun yang perlu dicatat juga adalah ketiga golongan di atas pun boleh meminta-minta dengan batas waktu. “Sampai mereka bisa mendapatkan penghidupan kembali,” maka, Ustad meneruskan, bahwa meminta-minta tidak boleh dijadikan profesi.

Agar tidak menjadi golongan yang suka meminta minta, Qona’a lah! Sifat fitrah manusia memanglah sangat sulit untuk merasakan puas. Batas sepertinya tidak pernah ada, dan hal itu memang sudah sifat kodrati manusia, kita semua punya hawa nafsu yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya.Tapi sifat qanaah bisa dipelajari, bisa diraih melalui hal-hal kecil misalnya selalu melakukan sesuatu dengan mengucapkan bismillah di awalnya dan alhamdulillah di akhirnya. (vira)

*Alhamdulillah tulisan ini selesai 🙂 *

Mau Menjadi Kekasih Allah SWT?????

PALEMBANG – Bicara tentang kekasih, identik dengan berbicara tentang cinta. Sesuatu yang dicintai dan dikasihi, dimakhlumi sebagai kekasih. Nabiyullah Ibrahim mendapat julukan Kholilullah (Kekasih Allah), artinya beliau mendapatkan cinta dan kasih sayang-Nya. Cinta yang hakiki-murni-sejati adalah cinta pada Dia, Dzat Maha Suci yang secara realitas telah memberi segala yang kita rasakan sekarang. Cinta hakiki adalah cinta pada dzat yang mencintai kita, yah itulah pengantar ustad Mugiono Abu Hafifah di spirit of romadhon senin (14/09) di hari ke-24 romadhon 1430 H.

Satu hal yang penting dicatat, tidak mungkin Allah SWT menyayangi dan mengasihi kita dalam keridhoan-Nya bila kita sendiri tidak mencintai-Nya. Inilah kiat pertama yang mutlak dilakukan: Jadikanlah Allah sebagai kekasih kita, niscaya kita akan menjadi kekasih-Nya. Katakanlah: Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang . Begitu firman Allah SWT dalam surat Ali Imron [3] ayat 31.

Ditegaskan kembali oleh Ustad Mugiono, seorang muslim, apalagi pengemban dakwah, sudah sepatutnyalah menjadikan cinta tertingginya untuk Allah SWT. Karena dia adalah penyebar ajaran-ajaran-Nya. Dengan demikian ia akan menjadi uswah dan qudwah bagi masyarakat obyek dakwahnya. Sulit dibayangkan seseorang mengajak orang lain untuk mencintai Allah SWT bila dia yang mengajaknya tidak menjadikan Allah SWT sebagai kekasihnya. Jadi, keimanan dan tanggung jawab ini akan mendorong setiap mukmin pengemban dakwah terus berusaha untuk mencintai sekaligus dicintai oleh Allah. Demikian pula muslim pada umumnya.

Langkah Menjadi Kekasih-Nya Beberapa karakteristik tersebut di antaranya :

1. Beriman (Adanya iman pada seseorang, merupakan syarat mutlak bagi hamba yang berhasrat dicintai Allah. Tanpa ini, jangan harap ada cinta dari-Nya).
2. Bertaqwa (Allah SWT berfirman : (Bukan demikian) sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuatnya) dan bertaqwa maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.� ( Qs. Ali Imron [3] :76 ))
3. Selalu Sabar (Seperti halnya dalam kehidupan yang lain, dalam medan da’wah pun tidak luput dari tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan. Semua itu pada hakekatnya merupakan ujian. Maka sabar merupakan pakaian para pengemban dakwah dimanapun berada dan kondisi apapun yang tengah dihadapinya).
4. Tawakkal (Satu ciri lain orang yang dicintai Allah SWT adalah orang yang tawakkal. Kaum mukminin di perintahkan untuk menyerahkan segala urusannya (tawakkal) hanya kepada Allah SWT (Ali-Imron:122; Al-Maidah:11).
5. Mencintai Allah SWT (Mencintai Allah SWT dilakukan dengan cara mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW dalam segala peri kehidupannya (Ali-Imron:31).
6. Bertaubat, membersihkan diri dan jiwa.

Itulah di antaranya beberapa hal yang dapat membimbing kita untuk menjadi kekasih Allah SWT. Siapapun yang telah mencurahkan cintanya kepada Allah SWT dan berhasil menjadi kekasih-Nya, niscaya hasilnya akan kembali kepada dirinya sendiri. Ini adalah janji Allah SWT yang disampaikan oleh Nabi SAW untuk umatnya. Berusaha-lah mencitai Allah & Semoga kita termasuk kekasih Allah, Tutup ustad mugiono. (Rifqi)

Mau Fitrah benahi dulu Iman kita

PALEMBANG – DI hari ke-23 spirit of romadhon (13/09) untuk edisi terakhir bersama, ustad suhaely Ibrahim,Lc dengan tema “CIRI-CIRI MANUSIA FITRAH” memulai tausiyahnya dengan melampirkan hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi sebagaimana seekor hewan melahirkan seekor hewan yang sempurna. Apakah kau melihatnya buntung?” kemudian Abu Hurairah membacakan ayat-ayat suci ini: (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. (Hukum-hukum) ciptaan Allah tidak dapat diubah. Itulah agama yang benar. Tapi sebagian besar manusia tidak mengetahui (QS Ar Rum [30]

Bagi manusia yang berada dalam fitrah yang benar, maka dia akan menuhankan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesugguhnya (ke-tauhidan)dalam hal ini adalah maslah iman yang menjadi focus utamanya. Misalnya ada orang yang menuhankan kekuasaan, bagi orang yang menuhankan Allah, maka dia akan meyakini bahwa kekuasaan itu sesungguhnya adalah milik Allah yang dititipkan sejenak pada manusia. Ada yang menuhankan harta, padahal hakikat harta di dunia ini hanya tiga, yaitu yang dimakan menjadi kotoran, yang dipakai menjadi usang, dan yang dinafkahkan (insya Allah) menjadi amal shaleh.

Ustad Suhaely lebih lanjut menambahkan : orang yang kembali ke fitrah adalah orang yang kembali menuhankan Allah Yang Mahaagung. Posisinya begini. Allah pemilik alam semesta ini menciptakan kita selaku hamba-Nya. Agar kita efektif menghamba kepada-Nya, maka Allah menciptakan dunia beserta segala isinya. Dunia adalah pelayan kita. Semua yang ada di dunia adalah sarana dari Allah agar kita bisa semaksimal mungkin mempersembahkan hidup kita untuk mengabdi kepada-Nya.

Kalau saat Ramadhan kita memacu diri dan sesudah Idul Fitri kita gigih berupaya kembali fitrah, tinggal kita tunggu saat kepulangan kita yang semoga penuh kehormatan (husnul khatimah). Mari kita membuka lembaran baru di bulan Syawal (bulan setelah ramadhan) nantinya dengan menjadi hamba yang sangat bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah. Hidup hanyalah untuk mempersembahkan yang terbaik. Bermakna bagi dunia dan berarti bagi akhirat. Bermanfaat bagi diri dan penuh maslahat bagi umat. Selamat menikmati Idul Fitri yang penuh dengan kegigihan untuk akrab dengan Allah dan kesungguhan untuk menjalani sunnah Rasul dan insya Allah, semoga kita berjumpa kembali dengan bulan ramadhan yang penuh berkah ini Amiin, statement ustad suhaely mengakhiri penjelasanya. (Rifqi)

Betapa Nikmatnya Taubat Nasuha Itu

PALEMBANG – Sesungguhnya tidak satu manusia pun di alam ini yang terbebas dari dosa walaupun kecil. Namun demikian Allah swt dengan rahmatnya kepada hamba-hamba-Nya selalu memberikan kepada mereka yang berbuat dosa kesempatan untuk bertaubat dari segala dosa dan kesalahan. Allah selalu membukakan pintu taubat-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang mau bertaubat selama ruhnya belum berada di kerongkongan atau matahari terbit dari barat, itulah sebagian Muqodimah yang di jelaskan oleh ustad sumarno ahmad jamil di spirit of romadhon, sabtu (12/9).

Ustad sumarno menambahkan, Taubat dari dosa menurut Al Ghozali adalah kembali kepada Sang Maha Penutup aib dan Yang Maha Mengetahui yang ghaib (Allah swt). Ia merupakan awal perjalan orang-orang yang berjalan, modal orang-orng sukses, langkah awal para pencinta kebaikan, kunci istiqomah orang-orang yang cenderung kepada-Nya, awal pemilihan dari orang-orang yang mendekatkan dirinya, seperti bapak kita Adam as dan seluruh para Nabi.(Ihya Ulumuddin juz IV hal 3)

Tentunya taubat seorang yang berdosa hendaklah dilakukan secara serius dan sungguh-sungguh bukan bertaubat kemudian dengan mudahnya dia mengulangi lagi perbuatan maksiatnya seperti taubat sambel (bilangnya pedes tapi masih dimakan). nah layaknya lah di bulan yang penuh berkah ini di manfaatkan dengan memohon ampun kepada Allah melalui Taubat Nashuha artinya taubat yang sebenar-benarnya, murni dan tulus, sebagaimana firman Allah swt,”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.At-Tahrim:8)

Dosa yang dilakukan seorang manusia baik yang terkait dengan Allah swt, seperti : tidak menjalankan perintah-perintah-Nya ataupun dosa yang terkait dengan manusia lainnya, seperti : mencuri harta bendanya dan lainnya, menuntutnya untuk melakukan taubat agar Allah swt memberikan ampunan kepadanya dan manusia yang dizhalimi tersebut memberikan pemaafan kepadanya.
Cara-cara melakukan taubat nashuha :
1. Meninggalkan kemaksiataan yang dilakukannya.
2. Menyesali perbuatannya.
3. Bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi selama-lamanya.
4. Jika terkait dengan hak-hak orang lain maka hendaklah ia mengembalikannya kepada yang memilikinya.

Namun sebaiknya taubat nasuha itu ditambahkan sholat taubat yang dikerjakan oleh seseorang disebabkan menyesali perbuatan maksiat (dosa) dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi Waktu mengerjakannya Kapan saja merasa berdosa,baik terhadap manusia terlebih terhadap Allah maka cepat-cepatlah bertaubat,jangan sampai terlambat mengerjakan sholat taubat. Caranya sebagaimana mengerjakan sholat sunnah biasa,boleh 2/4. sesudah sholat Taubat Sehabis sholat perbanyak membaca istighfar,mohon ampun kepada Allah, kembali pada jalan Allah, berdzikir, dan berjanji tidak akan mengulangi lagi dosa yang diperbuat. (Rifqi)

Syukur

PALEMBANG – Syukur. Sudahkah anda bersyukur hari ini? Kalau belum, bersyukurlah, karena rasa syukur lah yang membuat kita selalu merasa kaya. Spirit Of Ramadhan kali ini, membahas masalah syukur bersama Ustad Haryono kardi Al-javi,Kamis (10/09). Syukur dan sabar adalah dua hal yang saling bekaitan “Keduanya tidak dapat dipisahkan. Syukur adalah sebagian dari iman, sementara sebagian lagi adalah sikap sabar,” ujar Ustad.

Kita sangat perlu mengucapkan syukur secara tulus dari dalam hati karena manusia sudah diberikan bermacam-macam nikmat. Nikmat Jasmani yaitu kesehatan, kemampuan untuk belajar, kemampuan untuk mencari nafkah, mengaktualisasikan diri adalah nikmat jasmani yang diberikan oleh Allah SWT. Selain itu, manusia juga diberikan nikmat rohani yakni perasaan mencintai, perasaan senang ketika menikmati keindahan dan sebagainya. Nikmat rohani ini bersifat abstrak, pengetahuan, akal pikiran juga adalah bagian dari nikmat rohani.

Banyak cara yang dapat dilakukan oleh manusia untuk mengucapkan syukurnya kepada Allah SWT. Misalnya dengan hati, dengan lisan yakni mengucapkan secara langsung perasaan syukur kita “Berucap alhamdulillah adalah hal yang paling simple yang dapat dilakukan oleh manusia sebagai ekspresi syukur kepada Allah SWT,” himabu Ustad.

Selain dengan lisan, dengan perbuatan dan harta yang kita miliki pun kita dapat mengungkapkan perasaan syukur. Misalnya dengan membantu orang lain, bersedekah dan membayar zakat. Ustad mengatakan “perasaan syukur juga terlihat dari orang-orang yang suka memberi”.

Ada beberapa hal keutamaan orang-orang yang bersykur yakni Allah akan menambahkan nikmat untuk orang tersebut, Allah akan senantiasa memberikan ridho nya, syukur juga dapat mensucikan jiwa seseorang serta mendorong jiwa manusia untuk beramal soleh. Serta perasaan syukur ini juga akan membuat kehidupan sesama manusia menjadi senantiasa harmonis. (vira)

Perlawanan

PALEMBANG – Jihad saat ini adalah kata yang diasosiasikan erat kaitannya dengan terorisme. Padahal tidak demikian adanya. Ustad Totok Haryanto dalam Spirit Of Ramdhan, Rabu (09/09) menegaskan bahwa jihad adalah bagian dari aqidah Al islamiyah. Jihad adalah konsep yang sudah absolut kebenarannya di dalam Alquran baik anjuran dan pahala yang dijanjikan oleh Allah SWT, tinggal bagaimana menerapkannya. Jihad ini diinterpretasikan tentu saja tidak dapat berdasarkan hanya berdasarkan ayat-ayat di Alquran saja, tanpa melihat bagaimana Rasullullah menterjemahkan ayat-ayat tersebut dalam kehidupan beliau.

Jihad ini sendiri dikatakan Al-Jahdu (Al-Jahd) artinya Al-Masyaqqot (jerih payah), dan Al-Juhdu (Al-Juhd) artinya At-Thooqot (kekuatan). Dan dalam Lisanul Arab juga terdapat perkataan Al-Jihaad maknanya : Istifrooghu maa fiil wus’i wattooqoti min qaulin aw fi’li (Mencurahkan segenap tenaga dan kekuatan baik berupa Ucapan maupun Perbuatan). Sehingga jika kita berbincang bincang tentang jihad, jihad ini adalah salah satu kamar dalam dakwah.

Bentuk Jihad ini ada banyak ragamnya, yakni : Perjuangan dalam diri sendiri untuk menegakkan syariat Islamiah, misalnya sholat. Perjuangan terhadap orang lain , baik lisan , tulisan atau tindakan dan Jihad dalam bentuk pertempuran : QITAL. Dalam Islam peperangan terjadi karena dua hal, defensif dan ofensif. Diwajibkan berperang, jika, muslim diserang (karena agama) terlebih dahulu.

Terorisme tidak bisa dikategorikan sebagai Jihad. Bom bunuh diri dan bentuk lainnya di indonesia bukanlah Jihad. Karena sebetulnya untuk menegakkan syariat islam juga harus dengan pendekatan proses terlebih dahulu. Jihad dalam bentuk perang harus jelas pihak-pihak mana saja yang terlibat dalam peperangan, seperti halnya perang yang dilakukan Nabi Muhammad yang mewakili Madinah melawan Makkah dan sekutu-sekutunya. Alasan perang tersebut terutama dipicu oleh kezaliman kaum Quraisy yang melanggar hak hidup kaum Muslimin yang berada di Makkah (termasuk perampasan harta kekayaan kaum Muslimin serta pengusiran). Sebelum sebuah perang dilakukan, ada sebuah organisasi atau anjuran terlebih dahulu dari sebuah institusi keagaamaan yang benar. (vira)