Archive for the ‘ Psicho Family ’ Category

Orang Tua dan Anak, Ibarat Petani dan Tanamannya

Ilustrasi

PALEMBANG-Baik buruknya tanaman, sangat ditentukan oleh perlakuan si penanam. Jika ia memilih dan menyiapkan ladang subur untuk benihnya, lalu senantiasa menyiraminya dengan air yang bersih (tidak tercemar ), ditambah dengan perawatan yang teratur, niscaya tanamannya pun akan tumbuh subur. Apalagi kalau rumput dan gulma senantiasa disiangi, hama disemprot, dan pupuk tak lupa ditabur, maka akan semakin kokoh dan kuatlah tanaman itu. Buahnya akan lebat, menngiurkan dan mempesona.

Sebaliknya, jika petani memilih dan menyiapkan ladang gersang untuk bibitnya, menanamnyapun asal-asalan, rumput dan gulma tak pernah disiangi, air pun mengalir kadang-kadang, maka tanamanpun akan tumbuh meradang, mungkin layu, lalu hilang !. Tinggallah sang petani tepekur menyesali nasibnya , tak ada satupun buah yang bisa dipetik. Kasihan !

Mengapa orang tua harus terlibat dalam pendidikan anak ? itulah, bahasan PSYCHO FAMILY (14/1) bersama yayasan pendidikan islam Auladi, program yang menjadi rujukan keluarga dengan segala permasalahan?? Diungkapkan Ridwan ya’kub narasumber sore itu, Semua pengharapan yang positif dari anak tersebut tidaklah dapat terpenuhi tanpa adanya bimbingan yang memadai, selaras dan seimbang dengan tuntunan dan kebutuhan fitrah manusia secara kodrati. Dan semua itu tidak akan didapatkan secara sempurna kecuali pada ajaran Islam, karena bersumber pada wahyu illahi yang paling mengerti tentang hakikat manusia sebagai makhluq ciptaan-Nya.

Anak merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dibina, dipelihara, dan diurus secara seksama serta sempurna agar kelak menjadi insan kamil, berguna bagi agama, bangsa dan negara, dan secara khusus dapat menjadi pelipur lara orang tua dan penenang hati ayah dan bunda serta kebanggaan keluarga. Dampak Positif Keberhasilan Pendidikan Anak 1. Kehidupan anak menjadi berkah 2. Orang tua mendapat pahala tiada putus 3. berkumpul bersama di surga
Dampak Negatif Keberhasilan Pendidikan Anak :1. Orang tua mendapat dosa 2. Orang tua gagal menikmati indahnya surga

Di sisi lain pepen ali yang juga narasumber ke-2 menambahkan. Sering kali, kunci menuju pendidikan yang baik adalah keberadaan orang dewasa yang penuh perhatian. Lebih bagus lagi adalah satu atau kedua orang-tua anak itu yang berperan aktif untuk pendidikan sang anak. Orang tua harus menunjukkan sikap mendukung dan sangat terlibat dalam pendidikan anak-anak. Bahkan orang-tua harus cukup sering berinteraksi dengan lembaga pendidikan dalam hal ini adalah para pengajar di sekolah untuk memantau perkembangan anaknya.
Beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orang tua agar anaknya dapat berprestasi dalam pendidikan di sekolah antara lain sebagai diringkaskan sebagai berikut:
• Dukungan orang tua terhadap anak
• Kerja sama dengan para pendidik di sekolah
• Sediakan waktu cukup banyak dengan anak Anda
• Awasi kegiatan belajar di rumah
• Ajari anak bertanggung jawab di rumah
• Praktekkan disiplin dengan tegas namun penuh cinta
• Jaga kesehatan anak agar berprestasi
• Dan, jadilah teman terbaiknya

Belum puas dengan hal tersebut, ikuti obrolan-obrolan kami setiap kamis jam 15-16.30 diyakini akan memberi pencerahan untuk keluarga anda.(Rifqi)

Iklan

Mari Berhemat

PALEMBANG – Aduh, saya agak gimana nih menuliskan laporan untuk Psycho family edisi Kamis (17/12) lalu bersama Bapak Ridwan Yakub, Ketua yayasan pendidikan Islam Auladi, karena beliau secara implisit mengatakan bahwa peringatan tahun baru Masehi pada 31 Desember 2009 yang akan datang mengandung unsur ‘hidden agenda’ nya tersendiri terkait latar belakang historis penanggalan Masehi dan Hijriyah.

Untuk itu saya memilih untuk tidak usah membahasnya di tulisan ini. yang jelas bahwa Ridwan mengatakan bahwa peringatan tahun baru Masehi yang penuh dengan hingar bingar bunyi terompet dan gegap gempita kembang api itu mubazir dan sebaiknya sebagai umat Islam, tidak melakukan hal tersebut.

Ridwan menyayangkan apa yang terjadi pada hari ini dimana Indonesia yang merupakan mayoritas Islam namun peringatan tahun baru Hijriyah sama sekali tampak tidak ‘meriah’. “Definisi meriahnya juga bukan dengan pesta pora, namun dengan kembali mengingatk ke-Islaman kita, kembali pada semangat Nabi Muhammad SAW ketika melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah yang ditetapkan sebagai hari pertama dalam penanggalan umat Islam.”

Apakah mungkin permasalahan tidak meriahnya tahun baru Hijriyah ini dikarenakan karena ‘alasan komersial’? “Bisa jadi,” sambung Ridwan. Para kapitalis melihat bahwa tahun baru Masehi dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan konsumsi sehingga tahun baru Masehi dikemas sedemikian rupa agar lebih menarik, agar lebih dapat menghasilkan uang yang banyak, bagi para kaum pemilik modal. (vira)

Jadilah Pendengar yang Bijak

PALMEBANG – Setiap anak memiliki bakat sejak kecil, hanya terkadang kita sebagai orang tua kurang peka terhadap bakat yang dimilikinya. Apa bakat anak Anda? Menyanyi? Bermain sepak bola? Menulis puisi? Menggambar? Bila hingga saat ini Anda belum memiliki gambaran apa bakat anak anda, segera cari tahu. Mengenali bakat anak memang butuh kecermatan. Jangan juga bakat disamakan dengan pintar. Berbakat berarti memiliki potensi. Psycho Family bersama Ridwan Ya’kub dari Yayasan Islam Terpadu Auladi, kamis (29/10) dengan topik ”Hargai Kembangkan dan Wujudkan Bakat Anak”.

Eksplorasi dalam menemukan sendiri bakat anak dan jangan disertai dengan paksaan, urusan akhlaq dan moral orang tua di depan namun soal potensi para orang tua harus di belakang anak atau sebagai fasilitator. Jadi didiklah anak mu sesuai dengan zamanya ini yang harus di pegang oleh orang tua/praktisi pendidikan, guru dan sebagainya dalam mendidik anak dan harus memperhatikan rambu-rambu yang harus diikuti dalam mengembangkan bakat anak seperti jangan terlalu oteriter dalam mendidik atau kata kuncinya ”Jadilah Pendengar yang Bijak”.

Sebagai penutup Ridwan memberikan renungan bersama :

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, dia akan belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia akan belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia akan belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia akan belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia akan belajar menyenangi diri sendiri.
Jika anak dibesarkan dengan kasih, dia akan belajar menemukan cinta dalam hidupnya. (Rifqi)

Marah

PALEMBANG- Psycho Family (15/10) bersama Pepen Ali dari Auladi Islamic School sore itu membhasa mengei kemarahan. Pepen membuka program sore itu dengan menceritakan keprihatinannya tentang adanya anak yang membunuh ibunya, juga ada seorang bapak yang melindaskan kaki anaknya ke rel kereta apa. “Sanking marahnya, hal itu terjadi, marah itu harus wajar,” ujar pepen.

Kebiasaan marah atau kontrol emosi yang tidak baik juga bisa terjadi karena lingkungan yang memang begitu adanya. Orang tua yang kerap marah-marah akan menjadi contoh bagi anak-anaknya, sehingga si anak menjadi pemarah. Memiliki anak yang pemarah tentu tidak dikehendaki oleh semua orang tua, namun, emosi sebetulnya penting dan boleh-boleh saja diekspresikan, akan tetapi anak anak hendaknya diberikan contoh yang benar mengenai mengatasi kemarahan.

Anak-anak sangat mudah menangkap, memori berkembang sejak masa kanak-kanak awal, orang tua hendaknya selalu mengusahan agar aak lebih dapat mengingat hal-hal atau aspek yang dapat menimbulkan kemarahan sehingga orang tua dapat mewaspadai situasi-situasi atau pola interaksi yang dapat memicu kemarahan si anak.

bahasa yang baik tidak hanya verbal namun juga non verbal harus diajarkan kepada anak-anak agar mereka dapat mengkomunikasikan emosi mereka. Selain itu juga kontrol diri, “memang kontrol diri belum dimiliki oleh anak-anak, namun orang tua hendaknya membimbing agar dasar anak-anak dapat mengontrol emosinya, sudah ada,” ujar pepen.

bagaimana agar anak dapat memahami dan mengelola kemarahan?, yaitu ciptakan iklim di rumah yang nyaman. orang tua hendaknya menjadi contoh yang baik, selalu membimbing anak-anak untuk mengontrol diri, mengembangkan kemampuan mengenali perasaan-perasaan marah dan dengarkan lah anak-anak kita, mereka pun juga ingin didengarkan. (vira)

Silaturahmi Yuk

PALEMBANG – Hari raya idul fitri selalu dihiasi dengan silaturahmi. Sayangnya ritual saling kunjung mengunjungi itu, beberapa tahun belakang, mengalami degradasi. Ada apa? Pepen Ali, dari Auladi Islamic School dalam Psycho Family Kamis (10/09) menyebutkan alasannya. “Kemungkinan karena orang-orang lebih suka dengan pola hidup hedonis. Liburan bukan berkunjung ke sanak keluarga tapi malah ke mal-mal”.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Ridwan Yaqub Ketua yayasan Auladi Islamic School bahwa sebetulnya saat ini keengganan orang-orang untuk bersilaturahmi dipengaruhi oleh banyak faktor, selain pola konsumerisme, keadaan yang kurang menyenangkan saat kumpul-kumpul keluarga juga jadi faktor keengganan itu “Misalnya kita kumpul-kumpul keluarga, yang terjadi adalah ada beberapa keluarga yang sibuk menceritakan keberhasilan dan kesuksesannya sehingga membuat orang lain menjadi rendah diri”.

Silaturahmi ini sangat penting karena jika tidak dilakukan bisa menyebabkan kehilangan kontak, jaringan dan lain-lain “Tak urung bahwa kerap kali anak-anak kita tidak mengetahui sana keluarganya sendiri karena orang tuanya jarang mengajak anak-anak nya untuk berkunjung,” papar Ridwan.

Momen lebaran menjadi sangat penting untuk menjalin tali silaturahmi karena kemungkinan pada hari-hari biasa, kita sulit sekali untuk bertemu diakibatkan oleh kesibukan. terutama bagi anak-anak, momen Idul Fitri dapat dijadikan ajang untuk mengenalkan keluarga besar. Meskipun anak-anak belum melakukan interaksi dalam pertemuan tersebut, dengan berkumpul bersama keluarga besar, anak akan melakukan penyesuaian diri dan beradaptasi untuk melakukan interaksi terhadap yang lain. (vira)

Bicaralah Agar Tak Ada KDRT

PALEMBANG – Kekerasan domestik, atau lebih dikenal dengan KDRT di palembang saat ini mulai mengemuka. Novian Pranata, Ketua Himpunan sikolog Indonesia Wilayah Sumatera Selatan menyatakan bahwa kasus KDRT bermunculan di ruang publik karena saat ini semakin banyak hal dijadiakn ruang komunikasi. Selain itu KDRT ini juga menjadi pembahasan sejak adanya UU KDRT 23 Tahun 2004.

Anak yang sering menyaksikan orang tuanya sering berantem akan mengakibatkan dampak psikologis di keudian hari. Misalnya membuat seseorangmemiliki tingkat agresifitas yang tinggi dan berpikir bahwa kekerasan adalah problem solving yang tepat. “Ada yang bisa jadi agresif, ada juga yang tidak karena ia akan berpikir berseberangan. Misalnya bahwa ia tidak boleh melakukan kekerasan. jadi bekas yang ada akan menimbulkan efek yang tidak sama pada semua anak,” ujar Novian.

KDRT memiliki spketrum yang sangat luas. penyebabnya isa beragam. Misalnya Laki-laki yang punya masalah di kantor, stress dengan pekerjaan sehari-hari dan rutinitas yang berulang kemudian stress tersebut dilampiaskan kepada keluarga. Atau juga bisa jadi KDRT karena adanya permasalahan ekonomi.

“Yang jelas KDRT terjadi karena adanya kegagalan dalam mencari problem solving.” Jalan keluar yang paling benar adalah bicara dengan tenang dan tanpa emosi. Jika memang permasalahan yang ada sangat pelik, jangan terburu-buru membawanya ke ruang publik, misalnya dengan melakukan pengaduan ke polisi, tetapi selesaikan terlebih dulu melalui komunikasi antarkeluarga. (vira)
4

Jiwa Usaha

PALEMBANG – Dian Aryogo, Humas Himpunan Psikolog Indonesia Wilayan sumatera Selatan, hadir kamis sore (23/07) pukul17.00WIB ke studio Trijaya untuk menjadi narasumber psycho family. Dian Aryogo, yang kerap bikin saya nggak mudeng, karena saat memaparkan sesuatu suka tiba-tiba diem. Tiba-tiba diem karena beliau rupanya sedang berpikir.

Dian Aryogo kali ini membahas tentang psikologi kewirausahaan. Psikologi Kewirausahaan ini sendiri merupakan ilmu psikologi terapan yang mencakup pola perilaku, karakteristik kepribadian pewirausaha. “tentunya berbeda dengan management entrepreneurship, psikologi kewirausahaan lebih menekankan pada aspke-aspek indvidual misalnya ketahaanan pewirausaha menghadpi kompetisi, menghadapi tekanan,” ujar Dian.

Dian sendiri tidak sepakat dengan wacana yang banyak dikatakan orang megenai seorang pewirausaha bersifat ‘genetik’ “Kalau ada jiwa usaha, baru bisa berhasil berusaha, saya nggak setuju dengan itu. Karena sebetulnya menjadi seorang pengusaha yang handal itu bisa dipelajari. Semua orang bisa asal memiliki minat dan mau melakukannya”.

Apakah seorang bisa menjadi pengusaha karena dipengaruhi faktor lingkungan? bisa jadi, karena behavior rumusnya individu + lingkungan. Maka kalau memang seseorang berada di lingkungan yang banyak pengusaha nya, kemungkinan besar juga ia menjadi seorang pengusaha. tapi hal ini harus dikaji lebih ketat, jangan sampai dipelintir bahwa kalau orang tua jahat, anaknya pasti jahat.

Perlu ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan pewirausaha di sini ialah siapapun yang memiliki karakter kewirausahaan dalam konteks yang luas, sesuai dengan definisi kewirausahaan sebagai kapasitas kreatif-inovatif dalam mewujudkan produk atau jasa. (vira)