Archive for the ‘ Profil Minggu Ini ’ Category

Toton Dai Permana

PALEMBANG(07/01) – Saya menjalani hidup ini tanpa target, semua mengalir begitu saja dan saya pun tidak menolak aliran itu. Hal inilah yang paling saya ingat ketika tadi malam menghabiskan waktu hampir satu jam bersama seorang penulis novel yang juga merupakan Kepala Bagian Humas di Pemprov Sumatera Selatan.
(Toton paling kiri)
Ya, laki-laki beranak dua ini pernah hadir di Trijaya sebelumnya ketika talkshow seputar ‘Angin’, novel pertama yang ia tulis. Ia tampak begitu bersemangat membicarakan ‘Angin’. Mungkin karena memang keinginan memiliki sebuah novel ini sudah mengakar sejak lama. Bisa jadi sejak ia pertama kali menulis cerita pendeknya, sesaat setelah ia menamatkan sekolah menengah atasnya. “Selepas SMP, saya masuk ke Sma Negri 3, namun karena saat remaja saya nakal, saya lalu pindah ke Sma Negri 1,” Ujar pria yang merupakan putra sulung dari empat bersaudara ini.

Ia mengaku lahir dari bapak yang tidak meninggalkan apa-apa kecuali buku. “Hanya buku lah yang bisa menyelamatkan kalian,” kenangnya ketika saya bertanya mengenai aliran sastra yang ada dalam darahnya, yakni dari sang bapak. “Bapak saya memperkenalkan saya pada banyak puisi, jadi memang dari awal saya dan adik-adik saya sangat erat dengan dunia sastra,”.

Meski begitu, Ia tak mengenalkan dirinya sebagai seorang sastrawan atau penulis atau seniman. “Saya abdi negara,” ujarnya mantap. Ia berpendapat bahwa sebagai PNS lah ia dapat hidup dan menghidupi istrinya, Rosy Lawiyah, perempuan yang memberinya seorang perempuan lagi yang menginspirasi, seorang putri, dan juga seorang putra yang berani.

“Apa saja, yang penting hidup ini harus penuh karya,” Ujar Toton Dai Permana, si penulis Angin. (vira)

Benyamin Sueb (alm), serba bisa

Pro kontra di pajangnya Patung Obama kecil di taman menteng beberapa waktu yang lalu membuat pengamat dan masyarakat menyebutkan beberapa nama yang dianggap pantas apabila dibuat patungnya dan dipajang di taman Menteng. Salah satu nama yang juga sempat terdengar adalah Benyamin Sueb, seniman betawi yang juga anak menteng. Beliau memang sudah meninggalkan kita, tapi nama dan karya karyanya di dunia hiburan, masih tetap mengundang perhatian sampai dengan sekarang.

Profil minggu ini, edisi hari libur, Tahun baru Isalam 1431 Hijriah, mencoba mengingatkan para profesional muda dengan tokoh betawi yang jahil dan humoris ini.

Seniman yang lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939 ini sudah terlihat bakatnya sejak anak-anak.  Sejak kecil, Benyamin Sueb sudah merasakan getirnya kehidupan. Bungsu delapan bersaudara pasangan Suaeb-Aisyah kehilangan bapaknya sejak umur dua tahun. Karena kondisi ekonomi keluarga yang tak menentu, si kocak Ben sejak umur tiga tahun diijinkan ngamen keliling kampung dan hasilnya buat biaya sekolah kakak-kakaknya.

Benyamin mengaku tidak punya cita-cita yang pasti. “Tergantung kondisi,” kata penyanyi dan pemain film yang suka membanyol ini. Benyamin pernah mencoba mendaftar untuk jadi pilot, tetapi urung gara-gara dilarang ibunya. Ia akhirnya menjadi pedagang roti dorong. Pada 1959, ia ditawari bekerja di perusahaan bis PPD, langsung diterima , sebagai Kenek. Baru setelah menikah dengan Noni pada 1959 (mereka bercerai 7 Juli 1979, tetapi rujuk kembali pada tahun itu juga), Benyamin kembali menekuni musik. Bersama teman-teman sekampung di Kemayoran, mereka membentuk Melodyan Boy. Benyamin nyanyi sambil memainkan bongo. Bersama bandnya ini pula, dua lagu Benyamin terkenang sampai sekarang, Si Jampang dan Nonton Bioskop.

Tidak puas dengan hanya menyanyi, Benyamin lalu main film. Diawali Honey Money and Jakarta Fair (1970) lalu mengucur deras puluhan film lainnya. Judulnya, antara lain Benyamin Biang Kerok (Nawi Ismail, 1972), Benyamin Brengsek (Nawi Ismail, 1973), Benyamin Jatuh Cinta (Syamsul Fuad, 1976), Benyamin Raja Lenong (Syamsul Fuad, 1975), Benyamin Si Abunawas (Fritz Schadt, 1974), Benyamin Spion 025 (Tjut Jalil, 1974), Traktor Benyamin (Lilik Sudjio, 1975), Jimat Benyamin (Bay Isbahi, 1973), dan Benyamin Tukang Ngibul (Nawi Ismail,1975).

Dia juga main di film seperti Ratu Amplop (Nawi Ismail, 1974), Cukong Blo’on (Hardy, Chaidir Djafar, 1973),Tarsan Kota (Lilik Sudjio, 1974), Samson Betawi (Nawi Ismail, 1975), Tiga Janggo (Nawi Ismail, 1976), Tarsan Pensiunan (Lilik Sudjio, 1976), Zorro Kemayoran (Lilik Sudjoi, 1976). Sementara Intan Berduri (Turino Djunaidi, 1972) membuat dirinya, dan Rima Melati, meraih Piala Citra 1973.

Tahun 1992, saat sibuk main sinetron dan film televisi (Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan) Benyamin mengutarakan keinginannya pada Harry Sabar, “Gue mau dong rekaman kayak penyanyi beneran.”

Maka, bersama Harry Sabar, Keenan Nasution, Odink Nasution, dan Aditya, jadilah band Gambang Kromong Al-Haj dengan album Biang Kerok. Lagu seperti Biang Kerok serta Dingin-dingin menjadi andalan album tersebut. Inilah band dan album terakhir Benyamin. Benyamin yang sudah tiga kali menunaikan ibadah haji ini meninggal dunia seusai main sepakbola pada tanggal 5 September 1995, akibat serangan jantung. Ia bukan lagi sekadar sebagai tokoh masyarakat Betawi, melainkan legenda seniman terbesar yang pernah ada. Karena itu banyak orang merasa kehilangan saat dirinya dipanggil Yang Maha Kuasa.

Akan tetapi, karya karyanya  tetap dikenang sepanjang masa. Terimakasih Om Ben. (dinnaherly)

*dilengkapi dari tokohindonesia.com

Inke Maris on air di Trijaya Palembang

Nama ini cukup dikenal di Indonesia, khususnya mereka yang berprofesi sebagai penyiar radio, televisi bahkan reporter. Kiprahnya di dunia jurnalistik yang total mengundang rasa kagum banyak orang. Inke Maris, si pewawancara tokoh tokoh kelas Dunia ini memberikan kesempatan kepada Trijaya untuk berbagi cerita  dalam Profil Minggu ini edisi Jum’at 11 Desember 2009.

Dihubungi melalui telp, suara berat sedikit serak Inke Maris, menyapa ramah para pendengar Trijaya di Sumatera Selatan. Intonasi yang jelas, serta penyampaian kata perkata dengan sangat hati hati, menggambarkan bahwa di usianya yang paruh baya ini, sosok Inke Maris masih layak untuk menjadi seorang Penyiar.

“Tidak, Penyiar Radio, Presenter Televisi, atau Reporter, semua itu ada masanya. Saya sudah melakukannya dengan sangat sadar bahwa satu saat nanti akan ada masa di mana saya harus berhenti, dan di gantikan” ujarnya.

Inke Maris melewati masa sekolah menengahnya di Jerman, mengikuti sang ayah yang di tugaskan di kedutaan RI di sana. Inke +/- 12 tahun bekerja diradio BBC, di Bush House, Aldwych, London.

“Awalnya saya itu cuma pegang acara yang ringan ringan saja, terima telp, putar lagu. Eh, saya senang kemudian merasa sepertinya ini dunia saya. Lalu saya tekuni” ujarnya bersemangat.

Di BBC,London , Inke menjadi Penyiar , Reporter dan Korespondensi dari Harian Sinar Harapan. “Penyiar yang baik, harus bisa menjadi reporter, dua duanya menjadi satu kesatuan, sulit untuk dipisahkan.”

Menikah dengan Rizal Maris, Inke kembali ke Indonesia, dan di negerinya tercinta inilah Inke Maris mulai menjajaki dunia televisi, muncul di layar kaca. Inke menjadi penyiar pertama ketika diluncurkan program khusus siaran berbahasa Inggris TVRI, English News Service. Disamping itu Inke Maris juga dikenal sebagai penyiar Dunia Dalam Berita, program berita andalan TVRI. Dan saat itulah, Inke mulai menjadi Pewawancara Tokoh Tokoh Kelas Dunia.

“Setelah menjadi penyiar TV, saya akhirnya melihat dunia penyiaran ini cukup luas”ujarnya.

Wanita dengan 3 anak, dan 1 cucu yang mengaku tidak bisa bernyanyi ini saat ini konsen dengan Perusahaan Consulting miliknya.

“saya merasa apa yang sudah saya dapatkan adalah lebih dari cukup” tutpnya.

Inspirasi yang dibagi oleh Inke Maris, semoga bisa membuat  kita semakin tahu bahwa sesuatu yang dilakukan dengan total akan menjadi luar biasa. DinnaHerly

Ko Afen, pemilik Afen foto studio, diusir pun pernah.

Afen foto studio, untuk warga Palembang brand ini cukup dikenal, mungkin karena telah lama berdiri atau cabangnya yang berada dimana2. Namun siapa sangka, pemiliknya adalah seorang pekerja keras dan sangat terbuka dengan siapa saja.

Diundang sebagai bintang tamu dalam Program Profil Minggu ini edisi 6 Nov 2009, Pria berbadan besar ini dengan ramah mengatakan bersedia terbuka, bercerita ttg kehidupannya dan berbagi kiat sukses apa saja.

“saya ini melewati perjalanan yang cukup panjang dan tidak mudah” ujarnya.

Ko Afen, begitu beliau disapa, dilahirkan di kota Baturaja. “saya melihat hidup saya tidak bisa begitu begitu saja. Kami bersepuluh, dan hidup hanya mengandalkan satu toko saja, milik ayah, oleh karena itulah saya putuskan untuk hijrah ke Palembang pada saat usia 14 tahun.

Ko Afen mengawali usahanya dengan membuka toko kosmetik di sebuah pusat perbelanjaan. “Tidak langsung sukses, karena pusat perbelanjaan tersebut kebakaran” tambahnya.

Tidak menyerah begitu saja, ko Afen muda mencoba menekuni hobby fotography nya sebagai profesi, beliau mencoba untuk mencari objek objek foto. “Yang penting orang kenal dulu dengan saya, makanya saya gak segan waktu itu dipake gratisan, bahkan beberapa kali memberikan bonus untuk customer saya” ujarnya. Usaha tersebut berhasil, mulai sebagai foro wedding door to door, ko afen mencoba untuk menyewa tempat usaha, cuci foto sendiri “Beberapa kali saya diusir, karena saingan saya yang selalu mencoba untuk membayar sewa lebih mahal dari harga sewa saya, tapi saya pasrah saja. Saya yakin rejeki itu pati ada”

Saat Ini Afen Foto Studio sudah memiliki 5 cabang yang tersebar di kota Palembang. Bukan cuma itu, Afen berhasil mengajak semua keluarganya menekuni bidang usaha yang sama dengan total 16 foto studio serupa. “putri saya memiliki hobby tata rias, jadi saya izinkan dia usaha bridal ” tambahnya. Dan dalam waktu dekat, Ko Afen akan membuka Sekolah Fotography di Palembang.

Akan banyak sekali waktu yang dibutuhkan untuk berbincang panjang lebar dengan pria yang hobby bercerita ini. Sebelum menyudahi, Ko Afen hanya berpesan ‘Tetaplah Rendah Hati dan Ramah dengan siapa saja, karena sukses akan datang dari sana’

Satu Jam pun ditutup dengan bagi bagi 10 T- shirt untuk pendengar trijaya yang telah berpartisipasi (dinnaherly)

Memulainya sebagai penjual Mie Instan (Yoki Firmansyah, pemilik nyenyes.com)

Ada dua pandangan tentang pendidikan yang berbeda pada setiap orang. Banyak yang berfikiran, pendidikan itu sangat sangat penting, untuk itu mereka rela mengaplikasikan pepatah, kejarlah ilmu sampai ke negeri cinta. Tapi tidak begitu berlaku untuk seorang Yoki Firmansyah, pemilik usaha nyenyes.com, kaos kaos khas bergambar animasi dan kalimat lucu khas Palembang.

Bukan menyepelekan pendidikan, tapi Yoki begitu beliau disapa, lebih suka menjadi wirausaha ketimbang melanjutkan kuliah di perguruan tinggi seperti semua saudara saudaranya. Diundang emnjadi bintang tamu dalam acara profil minggu ini, edisi Jum’at 20 Oktober 2009, pria kelahiran 1983 ini tidak segan membagi ceritanya.

“semua berawal dari kepindahan saya ke jogja, disanalah saya melihat dunia dalam kehidupan yang sebenarnya. Saya sekolah disana, mencoba menekuni dunia musik, menjadi seorang Gitaris, saya bisa namun saya hentikan seketika. Bagi saya musisi itu tidak bisa membuat say amenjadi kaya. Mereka Berkarya bukan mencari harta” ujarnya.

Pria yang mengidolakan keluarga pengusaha Yusuf Kalla ini juga mengaku, terpaksa memutar otaknya, dengan modal 18.000 rupiah saja. “saat itu saya berfikir bagaimana caranya agar tetap bisa bertahan dengan uang seadanya, saya jadi penjual mie instan dengan uang sisa di kantong, saya masak untuk mahasiswa yang suka nonton bola.. dari sana uang saya berputar, dan semangat usaha saya tumbuh.’

Benar saja, dari mie Instan, Yoki selalu mencoba menjual sesuatu yang baru, seperti Pisau, Ikat Pinggang, Tas HP, sampai Dasi Bekas. “tapi saya bukan sales, walaupun saya jajakan door 2 door, itu modal saya sendiri” tegasnya.

Lalu, bagaimana ceritanya sampai bisa menjadi pengusaha kaos khas Palembang?

“saat saya memutuskan kembali ke Palembang, kebetulan sedang ada acara akbar, KTNA, ketika para petani dari seluruh penjuru Indonesia berkumpul disini. Saya jalankan ide saya membuat kaos bergambar jembatan ampera, waktu itu warnanya hanya hitam dan putih,saya jajakan disana, luar biasa laku keras. Sisanya, di stock di beberapa toko toko pakaian” terangnya

Saat ini, Yoki yang tidak ingat dimana dia menyimpan ijazah SMA nya memiliki usaha kaos khas Palembang dengan 3 merk. Tujuannya untuk menjangkau tiga golongan masyarakat. Salah satunya adalah Nyenyes.Com yang outletnya dapat anda temui di Palembang Indah Mall

Semoga dengan keberadaan orang muda yang kreatif seperti ini, akan semakin banyak orang palembang yang merasa bangga menyebut dirinya WONG KITO (dinnaherly)

Cinta Yang Tidak Diperbaharui Adalah Perbudakan

Palembang – Ia adalah sosok yang akhir-akhir ini sibuk melakukan release ke media-media mengenai polemik yang terjadi antara Carrefour dan PT BJLS. baru satu bulan ia bergabung di PT BJLS, ia harus sudah berhadapan dengan kasus ini “Ya saya hadapi saja, saya belajar dari tim, dan tim juga banyak mendukung saya,” ujarnya.

Liza Sako, perempuan keturunan Jepang dan bandung ini mengaku orang Palembang. “Saya lahir di Palembang, besar di palembang, Hidup di palembang dan punya sahabat-sahabat di palembang, saya orang palembang,” jawabnya ketika ditanya mengenai asal-usul darah campurannya yang Indonesia – Jepang.

Ibu dari dua orang putra dan satu orang putri yang punya hobi travelling, belanja dan pergi dengan teman-teman ini mengaku bahwa Ia sangat menikmati kesibukannya saat ini. “Saya kan singel fighter, jadi ya harus survive dan enjoy”.

menurut salah satu sahabatnya, Liza adalah orang yang tegar. menanggapi pernyataan itu, liza yang menamatkan pendidikannya di Universitas Sriwijaya jurusam manajemen ini mengaku bahwa ia memang harus tegar. “Gagal rasanya nggak enak banget, tapi menjalaninya dengan syukur lah yang bisa saya lakukan”.

Kelahiran 21 Juni tahun 1976, ketika datang ke Trijaya tampak lelah. “Ya, saya memang capek, tapi bersyukur akhirnya BJLS dan carrefour sudah memiliki kesepakatan siang tadi,” ujar Liza yang masih mengenakan setelan kerjanya sejak siang.

Cinta yang tidak diperbaharui setiap hari akan menjadi kebiasaan dan kemudian menjadi perbudakan. Adalah Quote yang dicantumkan oleh Liza di situs milik pribadinya. Apa pendapat Liza mengenai kalimat ini, “Pengulangan yang terjadi setiap hari membuat cinta yang awalnya luar biasa menjadi biasa saja kalau kita tidak ada upaya untuk membuatnya tetap luar biasa”. (vira)

Abdurrahman; menjadi perantau sejak usia 3 bulan

Terbuka, kata yang tepat menggambarkan tokoh muda ini, terbukti ketika dengan sigap beliau menyetujui undangan radio Trijaya untuk mengisi acara profil minggu ini edisi 26 Juni 2009.

“Abe, orang orang biasa memanggil saya” ujarnya ramah. Abdurrahman, kelahiran 1974 adalah Branch Manager dari Rumah Zakat Indonesia Cabang Palembang setelah sebelumnya di Padang dan Pekanbaru.

“pertama kali saya datang kesini, saya melihat semangat yang luar biasa dari masyarakat Palembang” ujarnya ketika ditanya ttg pendapatnya ttg Palembang.

Rumah Zakat bagi seorang Abe, adalah pekerjaan yang selama ini di idamkan, cita cita yang sebenarnya.
“tadinya saya malu, harus mendatangi nasabah satu persatu, mengingatkan mereka membayar kewajibannya, tapi kemudian saya sadar ini adalah pekerjaan mulia, saya menyelamatkan mereka dari neraka” tambahnya

satu jam perbincangan dengan Trijaya Palembang, menyimpulkan bahwa, ayah 4 orang anak ini adalah sosok yang lembut tapi tegas dan mandiri,

“sudah sejak umur 3bulan, saya diasuh oleh nenek saya berganti gantian, dari satu kota ke kota lainnya, mungkin ini yang membuat saya mandiri dan terbiasa dengan lingkungan baru” ujarnya mantap
(dinnaherly)