Archive for the ‘ Riau Hitam Putih World Music Festival ’ Category

New Music For The Next Tradition

7th RIAU HITAM PUTIH WORLD MUSIC FESTIVAL 2009
HARI KE-3 ( 25 Juli 2009 )
Hari terakhir Riau Hitam Putih World Music Festival 2009 dibuka dengan sebuah prosesi yang unik,yaitu prosesi arak-arakan membawa 2 plakat best performance yang dilakukan oleh anak-anak rata-rata masih bersekolah SD & SMP yang dipilih dari hasil Workshop Music Appreciation For Children sebagai bagaian kegiatan dari event ini.Mereka melakukan gerakan tarian koreografer yang memikat membawa 2 plakat best performance tersebut sampai akhirnya plakat di pajang di sisi kiri dan kanan stage dan diakhiri dengan membawakan sebuah komposisi lagu melayu yang liriknya bercerita tentang eksistensi dari acara Riau Hitam Putih World Music Festival ini yang sudah berlangsung berturut-turut untuk ke-7 kalinya.
ZOMBE ETNICA

ZOMBE ETNICA kelompok asal Aceh yang tampil di session awal memberikan konsep musik tradisi dipadu dengan musik modern rock. Diawal mereka membawakan didong musik tradisi dari gayo dimana ada vokal dan tepukan tangan sebagai beatnya, juga lagu-lagu rakyat Aceh seperti Musaresare yakni cerita tentang saat dimana kegembiraan dan syukur atas hasil panen. Lagu lainnya adalah Yangna bertutur keadaan sekarang yang damai dan dulu saat aceh konflik. Karya lain Resam masih lekat dengan mix paduan tradisional musik perkusi dan olah vocal dengan balutan konsep rock. Lagu berlirik tentang kepedulian pada lingkungan terutama kelestarian hutan tercermin di komposisi Burning Louser yang menjadi lagu pamungkas Zombe Etnica.
KEMUDI

Penampilan berikutnya grup KEMUDI dari Dumai kelompok ini terbentuk tahun 2000, kali ini mereka dibantu 3 vokalis 2 wanita dan 1 pria dengan balutan kolaborasi musik elektrik seperti keyboard,bass,gitar dengan alat tradisional perkusi,rebana,tamborin.Lagu yang dibawakan berjudul Filosofi Melayu dengan lirik cinta damai dengan memasukkan beragam aransemen format musik mulai dari samba,latin hingga rock.
Dari Palu ada kelompok TO WANA grup ini beranggotakan orang wana, masyarakat suku adat terpencil penghuni hutan di Morowale Sulawesi Tengah. To Wanna membawakan sebuah sajian berjudul Folklive yang musiknya berintikan keseharian masyarakat adat terpencil To Wanna. Menurut Amin Abdullah pembina kelompok ini ada 3 tujuan menampilkan To Wanna yaitu memberi hak mempresentasikan budayanya sendiri terhadap masyarakat adat terpencil dan menarik perhatian publik terhadap tradisi suku terpencil serta memberi warna bagi seni musik pertunjukkan tradisi di Indonesia. Dengan mengenakan pakaian adat khas suku To Wanna dan alat-alat musik tradisinya perfomancenya memberikan warna tersendiri.
TO WANA

Hujan deras kembali terjadi di hari penutupan Riau Hitam Putih World Music Festival 2009 ini, yang akhirnya penampilan kelompok berikutnya dipindah dari stage utama outdoor ke dalam Gedung Olah Seni disamping kanan stage masih dalam lingkup Taman Budaya. Ada KOMUNITAS MUSIK KONTEMPORER dari Lampung yang membawakan sebuah komposisi berjudul Ragon Segata juga penampilan RIAU RHYTHM CHAMBERS dari Pekanbaru yang mengusung kolaborasi etnik melayu dengan musik rap dan rock dengan ditunjang tarian latar ala breakdance.
Congratulation untuk Riau Hitam Putih World Music Festival 2009. Apresiasi masyarakat terhadap sebuah perkembangan musik tradisi atau musik yang berakar pada nilai budaya setempat sangatlah diperlukan dan lebih daripada itu penting untuk disadari bahwa tradisi itu tidak hanya lestari namun juga harus diberikan ruang seluas luasnya untuk berkembang tanpa harus kehilangan nilainya.Tidak menciptakan tembok untuk sebuah sentuhan yang lebih kini atau daya capai sebuah pemikiran atas ide ide yang lebih segar dalam menyajikan konten lama hingga tidak hanya berkutat pada pakem yang ada untuk suatu proses kreatifitas yang bersifat inovatif . Seperti tema yang diusung yaitu New Music For The Next Tradition.
Seperti dikatakan Tengku Ryo bahwa keterbukaan wawasan dalam berbagai faktor dan menambah wacana dalam suatu proses kreatifitas dan belajar mengakui keunggulan orang lain adalah kunci dari kemajuan sebuah budaya, saat ini bisa dipastikan bahwa budaya kian bercampur padu dari satu kepada lainnya, masing masing saling mempengaruhi, bila hal ini kita sadari sepenuhnya bahwa bisa dikatakan tidak ada budaya yang berdiri sendiri.(Eko Adji)

Iklan

TENGKU RYO & THE MALAY Pesona Gesekan Biola

7th RIAU HITAM PUTIH WORLD MUSIC FESTIVAL 2009
HARI KE-2 ( 24 Juli 2009 )
BOB SKUNJES

Bertempat di Gedung Olah Seni komplek Taman Budaya Pekanbaru Riau Hitam Putih Wolrd Music Festival 2009 hari ke-2 dibuka tepat pada pukul 15.00 WIB dengan Workshop music appreciation for children yang berisi Drum Clinic.Apresiasi dari peserta yang didominasi anak-anak muda cukup banyak yang hadir dan tampak dengan serius menyimak penjelasan disertai praktek bagaimana teknik-teknik bermain drum secara detail dari beragam jenis musik yang disampaikan olah Bob Skunjes.
Ada sedikit tambahan properti dari sisi penataan setting tempat acara berlangsung di panggung utama,selain back drop stage yang memanfaatkan keunikan bangunan rumah-rumah adat Riau yang jadi latar belakang panggung dimana dengan permainan lighting cahaya lampu menjadikan suasana eksotis.Para penonton juga asyik dapat duduk dengan rileks di atas papan-papan kecil yang ditopang dengan potongan batang pohon dibuat sedemian rupa jadi tempat duduk yang nyaman.Ada beberapa jembatan dibuat diatas sungai kecil sebagai penghubung untuk penonton yang ada di area belakang.Selain itu banyak bambu-bambu kecil di seputar lokasi acara dimana diatasnya dikasih semacam senthir (obor kecil) sehingga menambah keindahan area Taman Budaya.
BMC

Acara utama sendiri dimulai tepat pada pukul 20.00 WIB dengan penampilan kelompok
BMC dari Kepulauan Riau yang membawakan 2 karya komposisinya yaitu Kerinduan dan Fun Within Blues.Mereka mencoba meramu musik melayu dengan musik modern dan musiknya didominasi oleh permainan perkusi yang cukup atraktif dipadu dengan harmonisasi dari alat-alat musik tiup tradisional.
GALIGO

Berikutnya adalah performance grup GALIGO asal Kabupaten Kampar.Mereka membawakan sebuah komposisi berjudul Musik Musiman yang digali dari musik tradisi dari 20 kecamatan di Kampar yang mempunyai ciri khas permainan musik sungai telok-telok yaitu musik yang dimainkan saat tiba musim ladang/panen yang dipadu dengan aransemen musik kekinian.Yang unik alat musik yang digunakan berasal dari daun.
Kelompok YANGNYONGSANG dari Dumai tampil di session berikutnya dengan sebuah karya berjudul Noktah (Titik Sebuah Perubahan) konsep musik special melayu edition, kolaborasi beragam musik menjadi sebuah noktah, sebuah titik perubahan, kebebasan dalam bermusik dari para pemain menjadi dasar utama dalam meramu beragam musik yang dimainkan dengan sisipan puitisasi lirik-lirik yang universal dengan satu landasan bermusik yaitu apa yg kau rasakan, rasakan apa yang kau mainkan.
SANGEETA ISVARAN

Penampilan berikutnya dari SANGEETA ISVARAN dari India,wanita asal India ini tampil khas dengan baju identitas didominasi warna ungu dengan balutan alat kemericik di ke-dua kakinya.Dia bernyanyi sambil menari dan berkolaborasi dengan musisi dari Universitas Negeri Medan.Dengan iringan keyboard dan dominasi perkusi dengan penonjolan suara bunyi-bunyian dari mulut.Yang menarik adalah bagaimana sound musik yang dimainkan musisi pengiring saling bersahutan menyambung dengan Sangeeta Isvaran yang mencoba memainkan acapella dalam bahasa India.
BATHIN GALANG

BATHIN GALANG dari Kabupaten Kepulauan Meranti,menjadi penampil berikutnya.Mereka tergabung dalam sebuah sanggar yang menonjolkan ekspresi musik kesenian dari seniman kampung/dusun desa Hokon yang jauh dari kota dengan memainkan tradisi musik melayu ke musik modern tercermin dari kolaborasi alat musik tradisional seperti kendang ,tambor,kompang dipadu drum,gitar,bass elektrik.Karya mereka diberi judul Bele Kampong.
JOE BUNMARK

JOE BUNMARK gitaris dari Malaysia banyak mendapat applause dari penonton yang didominasi anak muda.Dia bermain solo instrumental dengan memasukkan unsur elemen tradisional melayu digabung dengan musik rock dengan ditemani 3 musisi lainnya pada drum,bass dan keyboard.Skill kecepatan jari-jemarinya pada dawai gitar dengan distorsi efek-efek sound yang kental rock dengan sisipan melodi-melodi melayu menjadi daya tarik tersendiri.
TENGKU RYO

TENGKU RYO & THE MALAY BAND performance pemuncak di hari ke-2, grup ini beranggotakan Tengku Ryo (Biola), Badi (Elektrik Gitar), Edy (Bass), Bang Ai (Drum), Imat (Percussions), Yusrizal (Keyboard).Penampilan awal mereka dibuka dengan Hymne Tanah Melayu dimana Tengku Ryo mengajak semua penonton berdiri untuk memberikan rasa hormat terhadap kebudayaan melayu.Disusul dengan komposisi The Great Malay dengan beat tempo cepat dalam musikalitas permainan biola.Perpaduan musik tango dan zapin sangat menarik diaransemen oleh Tengku Ryo dimainkan karyanya Musake. Berikutnya ada lagu Sri Langkat yang diiringi oleh dancer penari Sinar Budaya Kesultanan Serdang komposisinya dimainkan dalam irama jive.Disusul komposisi Lagu yang dinyanyikan oleh musisi senior Atuk dari Tengku Ryo dengan lirik-lirik dan pantun jenaka yang membuat penonton tersenyum dan tertawa.Lagu Mak Inang Pulau Kampai menyusul dimainkan yang cenderung dominan sound eletrik gitar rock dipadu gesekan biola.Komposisi lagu The Spirit Of Rossana jadi klimaks penampilan atraktif dan komunikatif dari Tengku Ryo & The Malay Band dengan masing-masing individu personil bersolo memainkan alat musiknya.(Eko Adji)
APicture 223

Dendang Anak Sajian Khas Dari Malaysia

7th RIAU HITAM PUTIH WORLD MUSIC FESTIVAL 2009
HARI KE-1 ( 23 Juli 2009 )
AIMG_5464

Event Riau Hitam Putih World Music Festival 2009 memasuki tahun ke-7 penyelenggaraan,yang berubah tentu saja dari tempat acara dilangsungkan,kalau tahun-tahun sebelumnya bertempat di Bandar Serai ( MTQ dekat Bandara ) untuk event tahun ini berpindah tempat ke Kawasan Komplek Taman Budaya di Jl.Jendral Sudirman Pusat Kota Pekanbaru Riau.
Puncak karya kreatif pemusik populer yang mengkolaborasikan
keragaman musik – musik, merupakan ciri utama pada kegiatan RIAU HITAM –
PUTIH WORLD MUSIC FESTIVAL. Pengkolaborasian musik modern dengan musik
tradisi tempatan, menjadi tujuan penampilan. Pada akhirnya akan
melahirkan para musisi muda dengan musik yang berciri kental kedaerahan
serta mempunyai daya kompetitif dan akan membawa warna tersendiri
sebagai kekuatan diri.
AIMG_5476

Menurut Hari Sandra salah satu penggagas acara, untuk tahun 2009 ini tagline atau tema yang diangkat adalah NEW MUSIC FOR THE NEXT TRADITION artinya
event ini adalah event musik yang bersifat sosial budaya yang bertujuan untuk
menumbuhkembangkan minat dan bakat para pecinta/insan seni musik
dalam memahami tentang arti pentingnya melestarikan budaya khususnya
musik tradisi dan membuka wawasan terhadap musik kekinian.
Diharapkan terjadi dialog antara musik tradisi dan musik modern yang
dipertemukan dalam kolaborasi yang tercipta dari daya kreativitas
peserta sehingga akan meningkatkan daya appresiasi bagi penonton dan
peserta lainnya. Tentunya juga sebagai hiburan bagi masyarakat yang mempunyai nilai edukasi dalam mempertahankan musik tradisi untuk tetap eksis, sehingga pada saatnya
nanti diharap Riau akan menjadi pusat perkembangan musik Melayu Dunia.
Hari pertama acara dimulai pukul 20.00 WIB menampilkan Dendang Anak dari Terengganu Malaysia,Galigo dari Kabupaten Kampar,Bathin Galang dari Kabupaten Kepulauan Meranti,Tasik dari Kabupaten Bengkalis,serta puncak acara hari pertama menampilkan Kito Siopo kelompok kolaborasi dari Inggris dan Jepang.
AIMG_5485

Opening acara seremoni dibuka kreasi multimedia dan lighting disusul terdengarnya suara gong 3 kali dilanjutkan tampilnya Dendang Anak dari Terengganu Malaysia yang membawakan sebuah karya berjudul Warisan Panji pada session pertama berikutnya jeda dengan layar screen di kanan-kiri stage muncul video profil kelompok ini berlanjut session kedua Dendang Anak menampilkan komposisi diberi judul Puja Puji.
Karena stage panggung utama bertempat di outdoor dengan setting seperti pertunjukkan di taman, ketika terjadi hujan dan semakin deras,memaksa panitia menghentikan acara seusai penampilan dari grup Dendang Anak. Dan perfomance dari grup berikutnya ditunda dan akan ditampilkan di hari ke-2. (Eko Adji)

AMIN ABDULLAH AND FRIEND PASTIKAN HADIR PADA EVENT 7th RIAU HITAM – PUTIH WORLDMUSIC FESTIVAL 2009

Amin Abdullah and friend pastikan diri untuk hadir pada event 7th RIAU HITAM – PUTIH WORLDMUSIC FESTIVAL 2009 yang akan digelar pada tanggal 23 – 25 Juli 2009 mendatang. Amin yang datang bersama beberapa orang musisi asal Kota Palu ini, direncanakan akan berkolaborasi dengan musisi – musisi muda Riau yang tergabung dalam Urban Rhythm.
Ketika dikonfirmasi melalui telepon genggamnya, Amin yang saat itu sedang berada di Solo menyatakan antusiasnya dalam mengikuti event worldmusik yang di taja Malay Music Institute ini. Amin juga menyatakan kesediaan untuk menjadi pembicara pada seminar worldmusic talk series (salah satu kegiatan pendukung, red) dan akan membicarakan tentang perkembangan Melayu di Nusantara. Menurut Amin, Melayu tidak saja berada di Sumatera namun juga ada di Sulawasi. Ini dibuktikan dengan adanya alat musik gong atau sejenis di Sulawesi.
Selain Amin Abdullah, beberapa grup yang telah menyatakan kesediaannya untuk berpartisipasi sebagai peserta antara lain, Songkhla Rajabhat University, Thailand Selatan, TENGKU RYO & THE MALAY BAND – Jakarta, Dendang Anak – Terengganu Malaysia, Topa – Tenggarong, Mahagenta – Jakarta, ZOMBE ETNICA – Aceh, BMC – Kepri, Riau Rhythm Chamber Indonesia – Pekanbaru, Fantasia Merideño – Venezuela, Barricada Sur – Mexico dan lainnya.
Sementara itu, Malay Music Institute sebagai pelaksana kegiatan, saat ini telah mengantongi rekomendasi izin kegiatan dari Kepolisian Republik Indonesia Daerah Riau dan dalam waktu dekat akan mengurus Izin pelaksanaan kegiatan di MABES POLRI demikian yang diungkapkan oleh saudara Nofriwisyah, Sekretaris Malay Music Institute saat ditemui di ruangannya.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Malay Music Institute (MMI) Jln. Jend. Sudirman Komp. Taman Budaya Riau Pekanbaru – Riau Tlp. 0761 7016227 /sdr. Hari 0761 7710719 (Eko Adji)

MEMPREDIKSIKAN MUSIK MASA DEPAN

MEMPREDIKSIKAN MUSIK MASA DEPAN
Oleh: Amin Abdullah
Disampaikan pada
Festival Riau Hitam Putih – Malay Music Institute 2009

Saya memahami tema “new music for the next tradition” ini dengan futorologi atau ilmu memprediksikan masa yang akan datang. Ilmu ini sudah mulai berkembang di negara – negara maju dengan mengamati apa yang terjadi pada masa lalu dan masa kini untuk melihat masa yang akan datang. Olehnya, makalah ini mencoba melihat musik baru untuk tradisi yang akan datang dengan perspektif linear .

DEFENISI
Musik baru atau ada istilah lain lagi “musik kreasi baru” adalah nama yang aman untuk menyebut musik yang diciptakan saat ini. Istilah ini digunakan sebagai alternatif pengganti kata musik kontemporer atau musik modern yang cukup hangat permasalahannya ketika digunakan di Indonesia. Hal ini disebabkan dii Indonesia masih sering mempertentangkan antara tradisi dan modern. Seolah-olah, istilah itu berlaku tetap pada sesuatu.

Padahal, identifikasi tradisi atau modern terhadap sesuatu terbatas pada ruang dan waktu serta tidak tetap. Terbatas pada ruang, karena apa yang disebut tradisi pada sebuah wilayah, dapat dianggap sebuah hal yang baru pada wilayah lain. Misalnya, tradisi musik Barat dengan segala unsurnya yang telah berlangsung ratusan tahun di Eropa, dianggap hal baru dan modern di sebagian wilayah Indonesia. Terbatas pada waktu, karena apa yang dianggap tradisi hari ini, dulunya adalah sesuatu yang baru dan kontemporer. Keroncong misalnya, dulunya dianggap sesuatu yang trend. Namun, saat ini dianggap tradisi yang harus diselamatkan.

Olehnya, persoalan musik tradisi dan modern, baru dan lama selayaknya dipahami secara bijak dengan memperhatikan konteks penggunaannya pada sebuah musik. Yang lebih penting dari itu adalah bagaimana berusaha menyelami tradisi dengan hidup didalamnya dengan menghidupinya.

Ada dua point pemikiran yang coba diuraikan dalam makalah ini. Pertama, musik baru untuk tradisi yang akan datang adalah sebagai lanjutan masa lalu dan masa kini. Kedua, musik baru untuk tradisi yang akan datang mempunyai muatan yang tidak tunggal.

LANJUTAN MASA LALU DAN MASA KINI
Musik baru untuk tradisi yang akan datang tidak turun dari langit atau tidak terpenggal dan berdiri sendiri, lepas dari sejarah dan konteks yang melatarbelakanginya. Dia adalah sebuah proses dalam memaknai tradisi dan pengembangan selanjutnya diujung tradisi tersebut.

Dengan menyepakati tradisi sebagai sumber penciptaan seni, maka yang penting sekali dilakukan oleh tradisi yang akan datang untuk membuat musik-musik baru adalah kajian teks dan konteks yang seutuh mungkin terhadap tradisi tersebut. Olehnya, pendidikan kemudian menjadi salah satu kunci untuk calon-calon penggarap musik baru. Pendidikan yang dimaksud adalah bukan hanya pendidikan formal di instititusi pendidikan kesenian, namun juga pendidikan non-formal seperti workshop, belajar dari masyarakat tradisi dengan melakukan survey, berusaha menyelami dan hidup dalam tradisi, serta banyak menonton pertunjukan – pertunjukan lain sebagai bahan banding.

Menjadikan tradisi sebagai sumber penciptaan seni, akan menghasilkan warna karya yang beragam. Karena pengalaman dan cara pandang setiap individu berbeda – beda. Olehnya musik baru di masa yang akan datang semakin bervariasi dan kemungkinan besar semakin bergeser dari karya kolektif menuju konsep karya yang mementingkan kemandirian individu .

Karya – Karya multi media akan semakin marak kedapan. Karya multi media yang dimaksud adalah karya yang tidak mengkotak-kotakkan seni dalam ruang-ruang yang ketat seperti musik, tari, teater, senirupa, fotografi, film dll. Munculnya istilah dance-theater, music-theatre adalah contoh gejalanya. Hal ini juga ditunjang oleh seni pertunjukan tradisi kita yang bila kita amati tidak dapat dipisahkan yang mana musik, tari dsb.

Tehnologi masa depan akan semakin memudahkan penggarap berkarya, membuat karya lebih kaya alternatif dan meminimalisir anggaran pembuatan karya dan pementasan. Sehingga memungkinkan seorang komposer dapat pergi ke berbagai festival hanya seorang diri dengan peralatan yang canggih.

BERMUATAN BANYAK
Musik baru untuk tradisi yang akan datang tidak bermuatan tunggal, namun jamak. Dalam sebuah karya, dapat saja penekanannya pada salah satu muatan, namun tetap muatannya tidak sendiri.

Sejalan dengan isu identitas yang diperkirakan semakin marak pada abad 21 ini, maka karya – karya musik akan tetap mengusung identitas siapa dan dari mana seorang komposer berasal. Muatan identitas etnik / budaya sang penggarap tetap muncul dengan intensitas yang bervariasi.

Bahkan , yang akan sangat menarik adalah bila latar belakang sang penggarap yang berasal dari perkawinan silang antar etnik, misalnya Kaili di Sulawesi Tengah dan suku Melayu di Sumatra. Juga komponis yang mengalami phisical mobility (perpindahan secara fisik) dari satu tempat ke tempat lain, misalnya komponis dari etnik Madura yang tinggal lama di Solo.

Olehnya, karya baru tetap diperkirakan akan mempunyai muatan pendidikan kebudayaan. Hal ini disebabkan penontonnya dari komunitas yang sama akan tetap berusaha mengidentifikasi dirinya dalam karya tersebut, dan mencoba memahami kekontemporeran dalam karya. Penonton diluar komunitas tersebut akan mengidentifikasi sang komposer dan mencoba memahami konteks dan isu yang dibawa oleh sang komposer.

Musik baru juga akan diwarnai ekspresi aktual dari penggarap. Pendapatnya, reeaksinya pada masalah dilingkungan dia tinggal atau terhadap masalah ideologi, politik, ekonomi dan sosial budaya Indonesia saat ini akan menjadi sasaran kritik seniman dalam karyanya.

Sejalan dengan isu baru yakni ekonomi kreatif dimana kebudayaan diharapkan menjadi “mata uang baru”, karya – karya musik baru semakin banyak yang akan memperhitungkan muatan ekonomi. Penggarap akan menjadi seorang wirausahawan, enterpreneur, yang berkarya dan membuat CD / VCD untuk dipasarkan secara independen. Jaringan kerja skala lokal, regional, nasional dan internasional akan semakin terbangun untuk memasarkan karya baik berupa pertunjukan langsung maupun CD / VCD.

Fungsi seni pertunjukan sebagai hiburan akan tetap ada. Seberapa besar prosentasi unsur hiburan tersebut, sangat tergantung dari mazhab yang dianut oleh penggarap.

KESIMPULAN
Pendidikan dan sponsor (maecenas) tetap menjadi penting dan menentukan gaya, corak, mutu musik baru pada tradisi yang akan datang. Pendidikan yang memaknai tradisi, hidup dalam tradisi, menghidupi tradisi dan tetap menjadikannya sebagai sumber penciptaan seni akan membuat tradisi tidak stagnan atau bahkan mati.

Negosiasi antara independensi seniman dan sponsor dalam hal ini pemerintah atau maecenas swasta juga akan mempengaruhi karya. Ruang berekspresi seperti forum, festival, pergelaran dengan kuratorial yang beragam tetap menjadi laboratorium sekaligus etalase pencapaian artisitik penggarapan musik.

Akhirnya, musik baru Indonesia akan semakin kaya karena dua hal. Pertama, munculnya penggarap – penggarap dari berbagai wilayah Indonesia dengan warna yang beragam. Kedua, legitimasi eksistensi karya beserta penggarapnya tidak hanya terpusat pada satu wilayah, satu school of thought, satu gaya dan satu aliran tertentu.

RIAU HITAM – PUTIH WORLD MUSIC FESTIVAL

World Music – punca karya kreatif pemusik populer yang mengkolaborasikan keragaman musik – musik, merupakan ciri utama pada kegiatan RIAU HITAM – PUTIH WORLD MUSIC FESTIVAL. Pengkolaborasian musik modern dengan musik tradisi tempatan, menjadi tujuan penampilan. Pada akhirnya akan melahirkan para musisi muda dengan musik yang berciri kental kedaerahan serta mempunyai daya kompetitif dan akan membawa warna tersendiri sebagai kekuatan diri. Event ini adalah event musik yang bersifat sosial budaya yang bertujuan guna :

1.1. Menumbuhkembangkan minat dan bakat para pecinta/insan seni musik dalam memahami tentang arti pentingnya melestarikan budaya khususnya musik tradisi dan membuka wawasan terhadap musik kekinian.

1.2. Terjadinya dialog antara musik tradisi dan musik modern yang dipertemukan dalam kolaborasi yang tercipta dari daya kreativitas peserta sehingga akan meningkatkan daya appresiasi bagi penonton dan peserta lainnya.

1.3. Adanya hiburan bagi masyarakat yang mempunyai nilai edukasi dalam mempertahankan musik tradisi untuk tetap eksis, sehingga pada saatnya nanti diharap Riau akan menjadi pusat perkembangan musik Melayu Dunia. (Eko Adji)