Archive for the ‘ Jak Jazz ’ Category

Kolaborasi Lintas Generasi

JAK JAZZ 2008 ( HARI KE-3 )

Hari terakhir Jak Jazz 2008 penonton termanjakan dengan penampilan Andrae Crouch yang tampil di Concert Hall.Banyak audience penasaran dengan sosok Andrae,salah satu pelopor dari gaya bermusik gospel contemporary yang dipadukan dengan klasik lewat paduan suara.Salah satu tonggak perjalanan musiknya adalah ketika membentuk Andrae Crouch & The Disciples yang dianggap sebagai grup gospel pertama di era 60-an.Dengan penghargaan 9 Grammy Award dan nominasi Academy Award selain mendukung beberapa project film seperti The Lion King dan Free Willy.Penampilannya memuaskan dahaga pecinta lagu-lagu gospel di arena Jak Jazz 2008 yang kadang ikut larut bernyanyi,disela-sela komunikasi Andrae dengan penonton.

Andrae Crouch dengan gaya gospel-nya

Andrae Crouch dengan gaya gospel-nya

Dan inilah yang menjadi magnet penonton Jak Jazz 2008 di hari terakhir,yaitu performance dari Yellow Jackets.Salah satu grup yang sangat kreatif yang tampil rutin pada skema “Rhythm dan Jazz”. Banyak komposisi yang melekat di benak pecinta jazz Indonesia mulai dari album Samurai Samba,Dreamland dan Time Squared dan album live Twenty Five.Penampilan Yellow Jackets kali ini lebih banyak membawakan komposisi dari album barunya yang dirilis tahun 2008 ini yaitu Lifecycle. Tentu surprise dan ini yang ditunggu penonton yaitu kolaborasi mereka dengan gitaris Tohpati dalam salah satu komposisi lagu yang mereka mainkan.

Yellow Jackets dengan musical fusion

Yellow Jackets dengan musical fusion

Jak Jazz 2008 ditutup dengan penampilan Special Collaboration Jak Jazz 10th Edition Celebration yang menampilkan musisi lintas generasi sebagai cermin perjalanan jazz di Indonesia. Mereka berkolaborasi adalah Ireng Maulana,Idang Rasjidi,Margie Segers,Benny Likumahua,Syaharani,Yance Manusama,Didiek SSS,Tompi.Rudi Subekti dan Sam Panuwun. Boleh dibilang inilah jam session yang komplet karena latar belakang musik yang juga beda meskipun masih dalam satu nafas jazz.

Special Edition 10 th Jak Jazz perfomance Ireng Maulana & Friend

Special Edition 10 th Jak Jazz perfomance Ireng Maulana & Friend

Dalam penjelasannya Ireng Maulana selaku penggagas dan penanggungjawab event ini mengatakan “Saya cukup senang dan bersyukur akhrnya Jak Jazz 2008 ini dapat berlangsung dan berjalan dengan baik,kita harap tahun depan masih bisa terlaksana tentunya dengan bantuan semua pihak terutama untuk menutup cost produksi” (Eko Adji)

Sajian Unik ‘2’ Roland

JAK JAZZ 2008 ( HARI KE-2 )

Orion Stage banyak didatangi penonton di hari ke-2 Jak Jazz 2008, sewaktu tampil Roland Tchakounte.Pria keturunan Kamerun yang lahir di Perancis ini memadukan konsep blues amerika dengan tradisi afrika yang dikomposisi secara unik dengan bahasa bamileke.Kemampuan vocal dan permainan gitarnya terasa beda dengan melalui tempo afro-amerika.Komposisi yang dimainkan terpengaruh oleh gaya R&B Stevie Wonder,Aretha Franklin termasuk juga blues dan musik boggie dari John Lee Hooker bahkan Jimmy Hendrix dan musik-musik Rolling Stones cukup memberikan influence ke dalam komposisi yang diciptakan.Penampilannya di Jaz Jazz cukup ekspresif beberapa lagu yang dimainkan mengingatkan pada solo albumnya Afro Blues.

Ekspresi solo gitar Daniel Sahuleka

Ekspresi solo gitar Daniel Sahuleka

Sosok Daniel Sahuleka sudah sangat akrab buat public musik Indonesia,di Jak Jazz 2008 tampil di Skyline Terrace, Daniel cukup mendapat respon dari penonton yang terpesona dengan suara khas-nya.Tampil dengan solo gitar dan banyak membawakan komposisi hit-hitnya terdahulu dalam versi akustik seperti di album Colorfool.Dengan penghayatan dan penjiwaan setiap lagu mampu menyentuh nurani paling dalam penonton yang melihat performance-nya seperti pada lagu You Make My World So Colorful.

Barry Likumahua Project tampil dengan konsep jazz fusion

Barry Likumahua Project tampil dengan konsep jazz fusion

Tampil di Amphitheatre ,Barry Likumahua Project sukses menggiring penonton anak muda untuk berbondong-bondong melihat aksinya.Barry dengan alat musik bass yang dipegangnya mampu berinteraktif dengan baik dengan audience, setiap lagu yang akan dibawakan diberi sedikit komentar referensi proses penciptaannya juga makna liriknya.Dominan dengan format fusion dan funk soul dengan teknik memainkan bass tapping dan chopper penuh dinamis sesuai jiwa muda di diri Barry yang melibatkan sang bapak Benny Likumahua dalam repertoar lagunya juga surprise dengan tampilnya Utha Likumahua ikut menyanyi.

Pecinta Jazz banyak yang penasaran pada permainan Roland Van Straaten.Ini yang membuat penampilannya ditunggu penonton Jak Jazz 2008.Dengan harmonica di tangan,Roland menampilkan musik jazz,kontemporari musik,overtone singing dan teater experiment.Dengan pengalaman membuat komposisi lagu untuk teater,balet,musical dan film, semakin memberikan ruang lingkup yang lebih luas dalam explor solo harmonica yang dimainkannya. (Eko Adji)

Komunitas Jazz Mendapat Porsi Di Jak Jazz 2008

JAK JAZZ 2008 ( HARI KE-2 )

Abraham Laboriel dengan Open Hands Project

Abraham Laboriel dengan Open Hands Project

Hari ke-2 Jak Jazz 2008 (29 Nop) di panggung concert hall untuk special show ada penampilan Abraham Laboriel dengan bentukan band-nya yaitu Open Hands. Abraham Laboriel di mata pecinta jazz Indonesia sudah cukup akrab,bassist kelas dunia asal Mexico ini telah bermain di lebih dari 4000 rekaman dan soundtracks. Dia adalah pelopor mencuatnya kelompok Frienship dan Koinonia. Oleh The LA Chapter of Naras ditetapkan sebagai Most Valuable Player instrument bass selama 3 tahun berturut-turut selain juga penghargaan sebagai dokter musik di Barklee College of Music. Personil lainnya adalah Justo Almario yang memainkan saxophones sopran dan tenor,clarinet dan flute.Sedangkan pemain drum-nya adalah Bill Maxwell yang juga tergabung dengan Koinonia.Keyboard dipegang Greg Mathieson yang pernah bikin album dengan gitaris beken Larry Carlton.Keempat orang ini terlibat dalam proyek band Open Hands yang penampilannya banyak mendapat appreciate dari penonton Jak Jazz.Komposisi Fusion dengan sisipan rock,latin,samba,kadang blues tersaji dengan break-break yang memukau.

Gaya Impresif dari Michelle Nicolle Quartet dari Australia

Gaya Impresif dari Michelle Nicolle Quartet dari Australia

Penonton di panggung Jazz Bar sangat terpesona dengan permainan Michelle Nicolle Quartet.Namanya di Australia sebagai musisi jazz banyak mendapat pujian sehingga pernah mendapat National Jazz Award (1998). Keunikan Michelle adalah dia sering menggunakan suara sebagai instrumennya selain juga menguasai alat biola.Bersama quartet-nya Michelle dalam repertoarnya secara spontan selalu melakukan improvisasi dan mampu bernyanyi dengan hati.

Sesuai tema Jak Jazz 2008 ini ‘A Whole Lotta Jazz’ yaitu ditampilkannya beragam format musik dalam jazz.Penampilan DJ Shuya dari Jepang menjadi buktinya.Shuya Okino selain seorang DJ juga penulis lagu serta musik selector.Album solonya United Legends (2006) unik karena diciptakan melalui kolaborasi dengan 10 vokalis dan 10 produser dengan komunikasi via email.Jam terbang DJ Shuya di club-club jazz lumayan tinggi bahkan pernah menerbitkan buku (2005).Atraksi-nya di panggung skyline terrace mampu membuat penonton menggoyang badannya.

Indra Lesmana Reborn memukau dengan skill musikalitasnya

Indra Lesmana Reborn memukau dengan skill musikalitasnya

Hari ke-2 Jak Jazz 2008 musisi jazz Indonesia yang banyak mendapat apriciate adalah penampilan Indra Lesmana Reborn.Bahkan 1 jam sebelum tampil penonton rela duduk menunggu dalam Concert Hall.Bersama kelompoknya Reborn, Indra Lesmana menawarkan konsep musik dengan basic fusion dengan eksplorasi warna World Music.Skill Indra begitu dominan dalam harmonisasi memainkan keyboard,piano dan syntesezier dengan bunyi-bunyian yang unik.

Om Ireng Maulana selaku penanggung jawab event ini mengatakan “Penonton di hari ke-2 ini meningkat luar biasa dibanding kemarin,semoga sajian kolaborasi musisi-musisi jazz manca dan dalam negeri dapat menjadi influence skill musikalitas mereka”.Dengan melibatkan penampilan band-band dari komunitas jazz di Jakarta diharapkan juga menjadi komunikasi dan sosialisasi musik jazz itu sendiri.Menurut Om Ireng rencana tahun depan terbuka buat komunitas jazz luar jawa seperti Palembang Jazz Community untuk dapat terlibat dan tampil di Jak Jazz.(Eko Adji)

The Salamander Big Band Mempesona Dengan Vokalis Tunanetra

JAK JAZZ 2008 ( Laporan hari ke-1 )

The Salamander Big Band asal Bandung dengan vokalis tunanetra

The Salamander Big Band asal Bandung dengan vokalis tunanetra

Hari ke-1 Jak Jazz 2008 (28 Nop) yang rencana sesuai schedule akan dimulai jam 16.30 WIB akhirnya menjadi molor hampir 2 jam.Hal ini disebabkan hujan deras turun diseputar arena Jak Jazz, sehingga beberapa stage dan alat sound yang berada di outdoor menjadi basah dan perlu dibersihkan.Bahkan terlihat Ireng Maulana selaku pendiri dan penanggung jawab event ini terlibat langsung ikut membantu crew membersihkan beberapa kursi penonton yang basah.

Ada 8 panggung atau stage yaitu concert hall yang menampilkan Idang Rasjidi & The New Generation,Ray Harris & The Fusion Exp dan Kyoto Jazz Massive,panggung skyline terrace tampil disini Vidi Aldiano,Oele Pattiselanno Trio serta Tompi,panggung amphitheatre diisi Lica Cecato, Maliq D’essentials serta Dimi Fullhouse,sedangkan stage yang lain seperti jazz on green,jazz bar,orion stage,community stage dan welcome stage diisi rata-rata tiap stage oleh 3 grup.

Idang Rasjidi & The New Generation penuh improvisasi

Idang Rasjidi & The New Generation penuh improvisasi

Penampilan Idang Rasjidi dengan The New Generation-nya cukup mendapat apresiatif penonton.Selain musisi dia juga seorang entertainer mampu mengajak audience berinteraktif dengan keramahan dan kelucuannya.Idang sudah tidak diragukan lagi permainan jari jemarinya di tuts-tuts piano sesekali yang menjadi kelebihannya adalah kemampuan menirukan bunyi trombone dan trompet dari suara mulutnya.

Lica Cecato penyanyi asal brasil menunjukkan talentanya dibantu oleh gitaris asal Indonesia Zarro terjadilah kolaborasi yang impresif campuran antara jazz,multimedia stunts,musik brasil dan puisi. Permainan musik dan gaya bernyanyi Lica Cecato sendiri terpengaruh oleh beberapa musik yang mendunia seperti old boleros,italian canzone,english rock,jazz,american pop,juga membuat komposisi fusion dengan ritme yang berbeda.

Lica Cecato ekspresi dengan gaya brazillian

Lica Cecato ekspresi dengan gaya brazillian

The Salamander Big Band yang tampil di panggung jazz on green yaitu panggung out door yang berada persis di samping pintu masuk arena Jak Jazz 2008 adalah sedikit dari kelompok Big Band yang tetap eksis di Indonesia.Big Band dari Bandung yang anggota hamper 20 orang ini seperti layaknya Big Band banyak mengandalkan aransemen pada harmonisasi alat-alat musik tiup.Dan yang cukup unik dari kelompok ini adalah didukung oleh vokalis seorang wanita tunanetra yang mempunyai suara khas agak serak dan teknik menyanyinya sering menjangkau oktaf-oktaf nada tinggi.( Eko Adji )

Gundul Gundul Pacul Rasa Jazz dari KUNOKINI

JAK JAZZ 2008 ( Laporan hari ke-1 )

img_0626

Kunokini beraksi di Orion Stage

Hari pertama penyelenggaraan Jak Jazz 2008 , penonton lebih banyak terfokus pada penampilan Kyoto Jazz Massive, kelompok yang personilnya dari Inggris dan Jepang ini memang sudah banyak ditunggu pecinta jazz Indonesia, sehingga tidak heran apabila mereka tampil di Special Show Jak Jazz 2008. Selain itu juga tampil Lica Cecato, Ray Harris,Marina Xavier,Enrique Marcos sedang dari Indonesia ada nama Tompi,Indra Lesmana,Iga Mawarni,Zarro,Beben,Clorophil juga Salamander Big Band.

Penampilan Kyoto Jazz Massive, yang dimotori oleh dua orang DJ, Okino Shuya a.k.a. “Black Finger” dan Okino Yoshihiro a.k.a “Commander of Especial” dirasa selaras tema JakJazz kali ini, ”A Whole Lotta Jazz!” Mereka menyuguhkan kekayaan sekaligus esensi musik jazz, yaitu improvosasi. Dengan improvisasi, tidak ada yang baku dan kaku dalam musik jazz, semuanya bebas dan lepas demi mengapresiasi keindahan musik itu sendiri. Dan perfomance Kyoto Jazz Massive dengan beragam repertoire Nu-jazz yang dimainkan kental dengan broken-beat mampu membuat audience Jak Jazz bergoyang.

img_0495

Kelompok Jepang Kyoto Jazz Massive full konsep jazz on the beat

Di panggung yang lain Boi Akih cukup mendapat respon dari penonton musisi kelahiran pulau Haruku di Maluku yang sudah menetap lama di Amsterdam ini bermain bersama guitarist Niels Brouwer and vocalist Monica Akihary serta Mike Del Ferro. Konsep musik yang ditawarkan lebih cenderung ke world music dimana unsur jazz dipadukan dengan varian dangdut juga musik tradisional India dengan blues serta musik padang pasir arab dengan rhythm dari Afrika Selatan.

Musisi kelaharian Maluku Boi Akih kolaborasi dengan Mike Del Ferro

Musisi kelaharian Maluku Boi Akih kolaborasi dengan Mike Del Ferro

Ray Harris & The Fusion Experience tampil memikat, Raymond Harris jebolan The International Jazz Institute dengan piano, organ, clavinet, dan Rhodes-nya sangat harmoni dengan grupnya memainkan konsep jazz, soul, funk, rock, house, classical dengan balutan dance dengan banyak mendapat influence dari musisi jazz legendaris Thelonious Monk dan Dave Brubeck.

Aksi Ray Harris bermain keyboard dengan The Fusion Experience

Aksi Ray Harris bermain keyboard dengan The Fusion Experience

Musisi Indonesia yang tampil dan banyak mendapat respon karena keunikannya adalah kelompok KUNOKINI, ini adalah sekumpulan mahasiswa Universitas Paramadina Jakarta, mereka memainkan musik instrument tradisi lintas jaman, personilnya Adhi,Astari,Firzy dan Akbar memainkan alat musik etnik tiup dan perkusi seperti saluang,djembe,suling padang.Beberapa komposisi lagu jawa seperti gundul-gundul pacul,rasa sayange dan yamko rambe yamko menjadi unik diaransemen mereka.(Eko Adji)

Live Report Jak Jazz 2008 di Trijaya Palembang

2

Yellow Jackets yang akan kolaborasi dengan Tohpati di Jak Jazz 2008

Pecinta Jazz di Palembang yang tidak dapat melihat secara langsung Jak Jazz 2008 yang berlangsung di Istora Senayan Jakarta tidak perlu kawatir karena dapat mengikuti perkembangan event itu secara langsung di program Live Report Jak Jazz 2008 di Radio Trijaya 87.6 FM Palembang mulai 28-30 Nopember 2008 setiap jam 17.30 , 19.30 , 20.30 dan 21.30 melalui liputan langsung reporter Adji Soebijantoro langsung dari Jakarta.Program Live Report ini sendiri didukung oleh Palembang Jazz Community,Linus Air dan Bank Sumsel.

Event Jak Jazz Jakarta International Jazz Festival tahun 2008 ini memasuki usianya yang ke-10 atau Celebrating The 10 th Edition dengan mengambil tema “ A Whole Lotta Jazz “ yakni mempunyai arti bahwa pagelaran Jak Jazz tahun 2008 ini akan berwarna warni dalam arti konsep musik jazz yang ditawarkan akan sangat beragam mulai dari swing,soul,fusion,bossanova,cool,bebop,blues,funk,pop,nu jazz hingga experimental.

Jak Jazz 2008 sendiri akan digelar selama 3 hari mulai 28-30 November 2009 bertempat sama seperti tahun lalu yaitu di Istora Senayan Jakarta dengan konsep indoor dan outdoor stage/panggung sebanyak 7 buah. Seperti sebuah festival jazz besar lainnya Jak Jazz 2008 juga memanjakan pecinta jazz dengan beragam keunikan, mulai dari interior dan eksterior desain serta nama-nama stage/panggung , adanya session music clinic yang diisi musisi jazz manca,tributes atau penghargaan untuk tokoh yang berjasa dalam memajukan jazz di Indonesia, selain itu ada Vote Now Favourite Award atau pecinta jazz atau penonton dipersilahkan memilih artis jazz favoritnya dengan hadiah dari sponsor dan tiket nonton gratis, Jak Jazz juga membawa pesan peduli lingkungan dalam Think Green Program. Dan tentunya yang menarik buat musisi jazz muda adalah adanya kontes band jazz yang terangkum dalam New Breed Contest dimana para finalisnya akan tampil di panggung khusus di arena Jak Jazz.

Jak Jazz 2008 sendiri tidak lepas dari sosok Eugene Lodewijk Wilem Maulana alias Ireng Maulana sang pencetus ide event ini menurut Om Ireng panggilan akrabnya dia menjelaskan “ Saya tetap komitmen menggelar event ini meskipun tahun lalu rugi, ini semata tidak murni bisnis saja, tapi karena memang kecintaan dan kepedulian saya terhadap musik jazz untuk Indonesia tercinta ini “ Om Ireng terus terang mengatakan kepedulian Pemerintah masih kurang dalam mensupport kegiatan seperti ini, sedangkan dari pihak sponsor paling hanya bisa memback up hanya 50 % dari biaya produksi secara keseluruhan.

Dari schedule pertunjukkan selama 3 hari mulai 28-30 Nop 2008 beberapa musisi yang menjadi daya tarik utama dijadikan oleh panitia Jak Jazz untuk program special show, dalam arti penonton harus merogoh kocek lagi untuk melihat artis atau musisi ini, ada 3 musisi yang dijadikan jualan panita Jak Jazz dan masuk di Special Show yaitu Kyoto Jazz Massive kelompok asal Jepang ini banyak disukai anak muda dengan konsep jazz funk-nya, yang lainnya adalah bassit kenamaan Abraham Laboriel yang tampil bersama kelompoknya Open Hands , kemudian sebagai pemuncak special show terakhir yaitu penampilan kelompok Yellow Jackets kelompok yang terkenal sebagai salah satu dedengkot fusion ini akan berkolaborasi dengan gitaris Indonesia Tohpati. Selama 3 hari pecinta jazz bakal dimanjakan tidak kurang dari 100 musisi jazz manca dan dalam negeri seperti Indra Lesmana,Zarro,Harry Toledo,Idang Rasjidi,Tompi,Boi Akih,Lica Cecato,Garth Ploog,Daniel Sahuleka,Djabe,Andrae Crouch,Michelle Nicolle dll. ( Eko Adji )


MENJUAL JAZZ LINTAS GENERASI

Memasuki hari ke-3 (terakhir) event Jak Jazz 2007 yang bertepatan dengan hari minggu ada acara khusus yang berlangsung mulai pukul 09.00 s/d 12.00 di hall stage berupa penampilan beberapa musisi manca yg terlibat di Jak Jazz ikut bernyanyi dalam komposisi gospel yang berisi nyanyian-nyanyian pujian kristiani, tercatat ada Ruth Sahanaya serta Marlene & Lou G dari Belanda. Baca lebih lanjut