Archive for the ‘ Jazz On Trijaya ’ Category

Solo City Jazz ( hari ke-2 )

Penari kostum unik membuka hari ke-2 (foto by eko adji)

Kota Solo, 5 Desember 2009, sore hari sekitar jam 17.00 mendung sudah memayungi kota Solo, hujan rintik-rintik yang kemudian menjadi cukup deras akhirnya turun membasahi kota Solo, meskipun begitu ternyata hujan tidak menyurutkan untuk para penonton dan penggemar jazz tetap mendatangi Pasar Windujenar di Ngarsopuro untuk menyaksikan Solo City Jazz 2009 (SCJ 2009), penontonpun memadati kursi-kursi yang berada di bawah tenda, sebagian berteduh di stand-stand sepanjang jalan ataupun mereka memakai payung, acara dibuka dengan penampilan dari para musisi jazz Solo yang tergabung dalam Solo Jazz Society, mereka juga sempat berkolaborasi dengan kelompok perkusi, penampilan merekapun mendapat sambutan yang meriah dari para penonton. Komunitas ini menunjukkan bahwa jazz juga sudah mulai digemari dan salah satu bagian dari kegiatan seni di Kota Solo, salut untuk Solo Jazz Society.  Penampilan selanjutnya masih dari musisi yang berasal dari kota Solo tapi sudah lama menetap di ibukota, Bhayu bersama kelompoknya Heaven On Earth yang berformat trio (keyboards, drums, piano) membawakan musik yang rancak, menggebrak dengan lagu pertama “Drum Overture” mendapat sambutan dari penonton, dilanjutkan “Buenoz Diaz Mi Cielo (Good Morning My Love)” yang cukup unik dan kreatif, interaksi dengan penontonpun menjadikan suasana semakin hangat, Bhayu, Ossa Sungkar dan Franky patut diacungi jempol pada penampilannya kali ini.

Kelompok Fusion "Heaven On Earth" (foto by eko adji)

Hujan yang sudah mulai reda membuat pengunjung SCJ 2009 semakin banyak berdatangan memadati sekitar panggung, kelompok ketiga yang tampil adalah grup dari Yogyakarta, Agus Bing & Prabumi , grup yang mencoba memadukan antara jazz dan musik tradisi, eksplorasi yang cukup menantang, dengan memadukan alat musik modern (keyboards, electric bass, saxophone, drums) dan alat musik tradisional (kendang, gender, jembe, dll), etnik fusion mungkin bisa menggambarkan musik dibawakan oleh kelompok Prabumi ini, komposisi karya Agus Bing , “Journey”, “Fantasi” mengalun di awal penampilan mereka, lagu “Perahu Layar” karya Ki Narto Sabdo yang di aransemen cukup menarik juga dibawakn kelompok ini sebagai penghormatan kepada dalang legendaris tersebut, “Transit” menutup penampilan mereka, dialog drums, jimbe dan kendang yang atraktif mendominasi komposisi ini.

Sajian etnik dari "Prabumi" (foto by eko adji)

Warna etnik dari "Prabumi" (foto by eko adji)

Warna jazz yang agak lain muncul dari penampilan Dony Koeswinarno Quartet (Dony Koeswinarno, Eric Shondy, Doni Sundjojo, Sandy Winarta), , dengan berakar pada gaya mainstream jazz dan post bop, grup ini mengusung sesuatu yang lain, nafas jazz lebih kental, malah kadang musik mereka mengarah apa yang selama ini dalam istilah jazz disebut “modern creative”, improvisasi yang dikemas dengan aransemen yang rapi dan skill dari masing-masing pemain yang cukup bagus menjadikan karya-karya mereka seperti “Cheerful”, “My Inspiration”, “Tentative” dan “Sax Lips” cukup layak diapresiasi. Yang istimewa dari penampilan mereka pada kompoisi “Tentative”, Dony memainkan instrument EWI (Electronic Wind Instruments) dengan sangat bagus, instrument juga dipakai dan dipopolerkan oleh saxophonist (alm) Michael Brecker.

Dony Koeswinarno Quartet (foto by eko adji)

Clorophyl & The New Generation tampil pada sesi berikutnya, inilah formasi baru dari Clorophyl yang telah berdiri sejak 1992, Bagu “Jambronk” Pramono (keyboards), Timer Sagara (drums), David Q Lintang (gitar), Reno Revano (bass), Yessi Kristianto (synth) dan Marteza “Teza” Sumendra (vokal). Dengan mengusung gaya acid funk yang diselingi warna soul jazz, R’n B mereka mengebrak panggung SCJ 2009, gaya voklais Teza yang unik dan aggressive di pangung menjadi pertunjukan menarik tersendiri, alumni Indonesian Idol ini mampu berinteraksi dengan penonton, yang emanrik mereka juga membawakan dua buah komposisi instrument yang dianggap sebagai idnpirasi dari musik acid jazz yaitu “Chameleon” karya Herbie Hancock dan “Fredom Jazz Dance” karya Eddie Harris, disini amsing-masing musisinya menunjukkan eksplorasi musikalnya, teruatama eksplorasi sound dari Jambronk cukup unik mewarnai gaya Clorophyl, dan membuat antusias para penonton.

Clorophyl & The New Generation (foto by eko adji)

Setelah dipuaskan dengan penampilan Clorophyl, sampailah pada puncak acara SCJ di hari kedua ini, yaitu penampilan Yovie Widianto Fusion (YWF), musisi yang populer lewat grupnya Kahitna dan Yovie and The Nuno ini pada awalnya memang meniti karirnya justru dari sebuah kelompok jazz yaitu Indonesia Enam, mellaui YWF ini sepertinya Yovie memang ingin kembali ke jalur idealismenya, kelompok ini beranggotakan para musisi yang sudah tidak diragukan lagi kiprahnya di dunia musik jazz, selain Yovie pada keyboards, ada Adi Dharmawan pada bass, Dr, Bambang Purwono (keyboards), Kadek Rihardika (gitar), Gerry Herb (drums), Yoyok (saxophone) dan Iwan Wiradz (perkusi). YWF membawakan fusion progressive, komposisi yang mereka bawakan anatara lain, “6/8” , kemudian karya dari Dizzy Giliespie “A Night In Tunisia” , dimana pada komposisi ini solo perkusi dari Iwan Wiradz sempat memukau para penonton, penonton makin meriah ketika YWF membawakan karya dari Yovie Widianto yang pernah dipopulerkan oleh (alm) Chrisye, yaitu lagu “Untukku” yang diaransemen dengan warna jazz fusion, kompoisi dengan warna melayu-pun dimainkan oleh YWF dengan atraktif dan diakhiri dengan komposisi berjudul “Pinokio” , sebuah komposisi lama dari Yovie Widianto menutup penampilan apik dari YWF. Lewat tengah malam usai sudah perhelatan SCJ 2009, dari animo masyarakat yang menonton sepertinya SCJ mendapat sambutan yang baik dari masyarakat Solo, jazz sebagai tontonan rakyat sepertinya akan diteruskan di SCJ berikutnya, semoga perhelatan ini bisa menjadi salah satu acara tahunan di Kota Solo.(warta jazz/eko adji)

Yovie Widianto Fusion - YWF (foto by eko adji)

Iklan

Solo City Jazz ( hari ke-1 )

Penari Opening Solo City Jazz (foto by eko adji)

Kota Solo, sore hari tanggal 4 Desember 2009, Pasar Windujenar di Ngarsopuran yang sudah didirikan panggung dan tenda-tenda disekitarnya untuk para penjual mulai menampakkan kesibukan persiapan pembukaan Solo City Jazz (SCJ) 2009. Panggung utama yang dipenuhi hiasan batik berdiri dengan megah di depan Pasar Windujenar, dihiasi pula dengan penari-penari mengenakan pakian tradisional prajurit wanita lengkap dengan gandewanya berada di depan panggung, sesuai dengan tema Jazz Up Batik memang nuansa batik memenuhi SCJ 2009, seorang pembatik lengkap dengan kain dan cantingpun menjadi bagian artistik panggung, begitu pula sebagian besar penonton juga mengenakan batik. Sekitar pukul 19.30 acara dimulai dan dibuka oleh Walikota Solo Joko Widodo, dilanjutkan dengan penampilan oleh grup Notturno yang mengawali SCJ 2009 dengan lagu dari kelompok musik grunge Nirvana “Smell Like Teen Spirit” yang diaransemen dengan warna jazz modern dan langsung mendapat sambutan meriah dari para penonton, malam itu Notturno mengundang Karty Rosen, seorang gitaris untuk berkolaborasi, “Bemsha Swing” dari Thelonious Monk-pun yang dimainkan apik dan penuh improvisasi mengalir dari atas panggung mengawali kolaborasi mereka, “Story Of Dance Floor” salah satu komposisi baru mereka menutup penampilan Notturno & Karty Rosen.

Maya Hasan memainkan harpanya (foto by eko adji)

Kelompok musik yang unik dari Kota Solo yaitu I Wayan Sadra & Sono Seni Ensamble (SSE) tampil berikutnya, kelompok yang merupakan kebanggaan Kota Solo ini tampil sangat bagus, kolaborasi antar musik tradisi dan modern dengan penjelajahan musikal yang  sangat luas dan luar biasa mambuat decak kagum para penonton, kemampuan musikal para individunya saling mengisi, penampilan vokalis  Peni Chandra Rini membuat nuansa yang dibangun SSE semakin kuat, salah satu lagunya yang cukup unik adalah “Bedah.com”, yang menampilkan improvisasi dari masing-masing personilnya, lagu “Fantasia” yang terinnpirasi dari musik tradisi Makassar menutup penampilan SSE.

2D "Dian PP & Deddy Dhukun" (foto by eko adji)

Berikutnya adalah penampilan yang sudah ditunggu-tunggu para penonton terutama mereka yang ingin bernostalgia di era 80-an, Dian Pramana Poetra dan Deddy Dhukun (2D)yang berkolaborasi dengan Maya Hasan & Tiwi Sakuhachi Quartet tampil menghangatkan suasana malam itu, guyonan yang khas dan sapaan hangat 2D kepada penonton mendapat sambutan yang meriah, bahkan seringkali Deddy Dhukun turun ke penonton dan mengajak mereka bernyanyi, lagu-lagu lama mereka pun mengalun menghibur para penonton, lagu seperti “Melayang” dan “Keraguan” dinyanyikan bersama dengan para penonton, penampilan mereka berdua mampu meuaskan penonton sampai mereka turun dari panggung, Maya Hasan & Tiwi Sakuhachi masih meneruskna penampialn mereka, Maya hasan dengan Harpanya dan Tiwi Sakuhachi dengan piano dan alat musik akordeonnya membawakan musik-musik fusion karya meraka diantaranya karya Maya Hasan “Magnificent Seven” dan juga mereka sempat melantunkan tembang tradisi Aceh, dengan duet petikan harpa yang manis dan warna suara akordeon yang kental,menadapat apresiasi yang bagus dari para penonton.

Ivan Nestorman & Donny Suhendra Project (foto by eko adji)

Kelompok yang menamakan dirinya Akordeon yang dibentuk oleh pemain bas Bintang Indrianto tampil berikutnya, yang unik meskipun bernama Akordeon tapi justru tidak ada pemain akordeon di grup ini justru yang mewarnai adalah permainan rebab dan kendang dari Kiki Dunung, di SCJ 2009 ini Akordeon tampil dengan format unik yaitu mengusung 3 pemain bas di panggung, selain Bintang sendiri ada Roedyanto (dari kelompok Emerald) dan Rindra (dari kelompok Padi), juga berkolaborasi dengan Sinden asal Solo Sruti Respati, penampilan pangung juga cukup unik, Sruti tampil lengkap bersama juru riasnya, sehinga dia bernyanyi sambil di rias, lagu yang dibawakan antara lain “Ole Olang” dan “Walang kekek”, sebuah lagu legendaries yang dipolerkan oleh Sinden legendaries Waljinah, yang menarik penampilan grup ini ditutup dengan lagu karya Joe Zawinul yang dipopulerkan kelompok Weather Report yaitu “Birdland” tapi diaransemen cukup unik sesuai karakter cengkok bernyayi dari sinden Sruti Respati, jadilah “Birland” dengan rasa Indonesia/Jawa, acungan jempol rasanya patut diberikan pada kelompok Akordeon ini. Magnificent Duo, yaitu duet gitaris jazz paapn atas Indonesia Donny Suhendra (Krakatau, Java Jazz) dan Agam Hamzah (Ligro Trio) ditempatkan di penampilan berikutnya, duo ini seolah membuat suasana menajdi lebih “cool” dan mengajak penonton untuk rileks sejenak, dengan menampilka lagu-lagu karya Chick Corea seperti “La Fiesta” , “Senor Mouse” dan “Spain” mereka berdua menampilkan demontrasi skill yang luar biasa, percakapan melalu dawai-dawai gitar mereka berlangsung dengan sangat menarik, meskipun waktu sudah tengah malam, tapi aplaus penonton yang masih memadati tempat pertunjukan masih terdengar semangat. Setelah tampil duo Donny Suhendra tanpil bersama grupnya yang berkolaborasi dengan musisi asal Flores Ivan Nestorman (Nera), yang mengejutkan Ivan membawakan juga lagu berbahasa jawa selain juga lagu karyanya yang berbahasa Flores. Malam itu sebagai puncak dan penutup acara Donny Suhendra memanggil penyanyi Andien untuk tampilm dengan lagu dari kelompok The Police, “Roxane” membuka penampilan Andien yang juga telah ditunggu oleh para penonton, acarpun berakhir pada puluk 1 dinihari lebih, tapi secara keseluruhan SCJ 2009 malam itu mampu memberikan apresiasi bagi para penggemar jazz Solo dan sekitarnya, sebuah awal yang bagus bagi Solo City Jazz.(warta jazz/eko adji)

Andien & Donny Suhendra Project (foto by eko adji)

BANDUNG WORLD JAZZ 2009

HARI KE-2 ( 4 Desember 2009 )

Kelompok "Seratuspersen"

Untuk hari ke-2 , ada 2 stage yang main hampir berbarengan, adapun stage 1 yang diberi label The Soul Of Contemporary yang artinya memberi kesempatan grup-grup jazz yang memadukan konsep harmony dengan unsure lain seperti rock,pop,klasik bahkan tradisional.Secara berurutan tampil kelompok Sunda Underground,Traffic Jam On Sunday,Thx A Lot,Bad Boyz Blues dan Tika & The Dissident.

Dari Stage 2 yang diberi label The New Dialog adalah dikhususkan untuk perform dari perguruan tinggi atau sekolah musik,mereka diharapkan dapat unjuk kebolehan dan saling tukar menukar informasi dengan memberi ruang jam session antar musisi kampus dan musisi professional. Dari stage 2 ini muncul performance dari grup G/E/T ,RMHR atau Rumah Musik Hari Rusli,Sony Akbar,Sada serta kelompok asal Pekanbaru Riau yang kental mengusung paduan jazz dan melayu yaitu kelompok GELIGA.

"Harry Toledo & Friends"

Stage 3 yang diberi label A Voice Of A New World yang menjadi tema sentral dari Bandung World Jazz, yaitu grup-grup yang memang konsisten mengusung warna Wolrd Jazz Music dimunculkan di panggung utama ini. Dan diawali tepat pukul 4 sore dengan penampilan dari sebuah project “Aliens In Modjembe Land” yang mana ide cerita digarap oleh Aliya Khalida,Hilmy Ashary,Gillian Jansen dan Gilang Anom dan melibatkan performance dari Jendela Ide All Percussion,Perkusi SD St Yusup 2,Perkusi Melania,Perkusi SD Ursula,Bandung International School Percussion,Hip Hop Ursula,Komunitas Anak Jatiwangi,Beatbox dll.

Opening Ceremony "Jendela Ide All Percussion"

Malam terang purnama rakyat Modjembe mensyukuri kehadiran bulan yang telah menemani mereka dan seluruh mahluk alam semesta di saat malam sepanjang zaman kehidupan berlangsung,mereka menyambutnya dengan riang gembira bermain musik,menari dan bernyanyi,inilah saat yang dinanti oleh para seniman negeri Modjembe untuk mencipta,berkreasi dan berdoa mensyukuri kehidupan damai di negeri yang mereka cintai,seakan cahaya purnama memberikan energi lebih dan positif untuk menumbuhkan daya kreasi mereka.Itulah gambaran konseptual musik dan olah cerita dari Aliens In Modjembe Land.

Penampilan berikutnya adalah musisi dari Bandung Imelda Rosalin dan grup Suara Sama.

Kelompok "LIGRO"

Disusul musisi yang mengusung konseptual Brazillian Jazz yang tampil atas support Kedutaan Brasil di Jakarta yaitu Lica Cecato & Valtinho.Berikutnya tampil Koko Harsoe yang mengeksplore beragam bentuk suara dalam bahasa jazz yang unik,beberapa komposisinya bercerita tentang pengalaman hidup dan spriritual.Koko Harsoe sangat menikmati permainan dengan gitarnya dan sebuah alat bambu wukir (sebuah alat instrument yang dibuat oleh Wukir sahabat Koko Harsoe) dipadu personil lain yaitu Zerliana (piano/keyboard),Helmi Agustrian (double bass), Afan (perkusi) dan Sony (drum). Berikutnya tampil kelompok asal India Parikrama dan ditutup penampilan Riza Arshad dkk dengan grupnya Simak Dialog.Sepertinya tepat Bandung World Jazz 2009 it’s not only jazz, it’s world jazz.(Eko Adji)

Bandung Wolrd Jazz 2009 ( Hari ke-1 )

BANDUNG WORLD JAZZ 2009

Taal Tantra dari India

HARI KE-1 ( 3 Desember 2009 )

Bandung World Jazz Festival 2009 di Sasana Budaya Ganesha di hari pertama di stage 1 berada di luar gedung sabuga yang diberi tag line The Spirit Of Tradition yaitu panggung buat musisi yang berangkat dari musik tradisi dengan dikolaborasi beragam genre jazz menampilkan 5 grup, yaitu Castavaria dan Funk Zee 4 Brass asal Bandung.Kelompok asal Jogya Prabumi tampil memikat dengan unsure etnik jawanya dengan aroma fusion.Di session berikutnya LIGRO yang dimotori gitaris Agam Hamzah cukup banyak mendapat respon dari audience.Dengan komposisi yang cenderung ke warna jazz rock LIGRO meng-eksplore sound cukup unik dari set alat drum yang dimodifikasi dari  kendang sunda.Stage 1 ditutup dengan penampilan pianis berbakat David Manuhutu yang lebih banyak membawakan komposisi swing.

Stage 2 yang berada di dalam koridor pintu depan sebelum masuk ruang utama sabuga yang diberi tag line What Jazz Is It yang berarti menampilkan musisi jazz yang mengeksplore proses kreatifnya ke konsep world music.Anime String Quartet mengawali penampilan, disusul dari Nita Aartsen yang ditemani vokalis Steve Wilson mencoba meramu jazz dari lagu-lagu basic klasik.Kelompok 4 Peniti meramu instrument biola,gitar akustik,drum,bass akustik diantaranya mereka membawakan lagu Bad milik Michael Jackson dengan aransemn swing jazz.Perform berikutnya ada Archipelago yang khas membawakan lagu-lagu daerah di Indonesia dalam aroma jazz ,seperti lagu es lilin,prahu layar,ayam de lampe dalam aroma jazz.Harry Toledo tampil komunikatif dengan audience saat membawakan beberapa komposisinya,2 lagu yang dimainkan diambil dari album barunya yang akan dilaunching Januari 2010 yaitu Smile Again dan Stay Cool.Di stage 2 ini diakhiri dengan penampilan grup Seratus Persen yang daftar pemainnya ada 2 terompet,4 pemain gamelan sunda,bass,perkusi,kendang,ketipung dan drum.Mereka membawakan lagu etnik sunda dipadu dengan jazz.Pada lagu kedua dengan vokalisnya Bivi meramu rap gaya sunda,ada juga lagu Dirimu Hadir yang cukup menjalin koor interaktif dengan penonton,kolaborasi dengan pemain perkusi cilik menutup penampilan kelompok ini.

Pigalle dari Belanda

Stage Utama di dalam Gedung Sabuga mengangkat tag line A Voice Of A New World yang intinya musisi atau kelompok yang ditampilkan adalah yang mengusung konseptual kreasi warna musik baru dari unsur beragam tradisi di dunia dengan balutan jazz.

Dibuka dengan opening ceremony oleh Jendela Ide All Percussion yang menampilkan siswa-siswa SD di Bandung tidak kurang 30 lebih personil dengan harmonisasi beragam alat perkusi menghasilkan sound yang menarik.Disusul perform Karinding Collaborative.Karinding sendiri adalah instrument kecil terbuat dari bambu yang dimainkan secara berkelompok.Grup ini anggotanya Bintang Manira,Yudi Taruna,Wawan Kurniawan,Egon Firman dan Iman Rahman. Sound yang keluar dari alat kecapi dan zither dipadu musik elektrik lainnya menjadi sajian khas kelompok ini.Dari India grup TAAL TANTRA sangat ekspresif mereka memadukan warna musik tradisional India dengan jazz yang bernuansa Eropa.Sisi menonjol dari Taal Tantra adalah kekompakan dalam bermain dengan individu dan alat musik yang komplek seperti gong,tabla,perkusi,saxophone dank has alat tiup India yang memunculkan varian harmoni suaran yang indah dan memukau.Pigalle 44 dari Belanda dengan konsep jazz gipsi serta ramuan be bop,latin dan penerapan modern jazz menjadi daya tarik kelompok ini.Grup asal Solo I Wayan Sadra Sono Seni Ensembel perform berikutnya, grup ini berusaha menjembatani antara musik kontemporer dan musik mainstream,pop,jazz,rock dan bentuk-bentuk musik popular lainnya.Dengan instrument unik seperti jimbe,erhu,saruwan,saron,gender,gong,suling,kecapi membuat warna world music betul-betul tercermin di kelompok ini.Kelompok DEBU menutup Bandung World Jazz Festival hari pertama dengan konsep ramuan worl music dengan penonjolan dari genre musik padang pasir. ( Eko Adji )

Live perfomance dari DEBU

Live Report BANDUNG WORLD JAZZ & SOLO CITY JAZZ

Radio Trijaya 87.6 FM akan memberikan liputan terkini melalui program Live Report 2 event jazz besar yaitu Bandung World Jazz & Solo City Jazz
Berikut jam-jamnya bisa didengarkan :

PANDUAN LIVE REPORT
BANDUNG WORLD JAZZ FESTIVAL 2009
Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) Bandung

KAMIS / 3 DESEMBER 2009
19.15 : Spain – DAVID MANUHUTU
20.15 : Smile Again – HARRY TOLEDO
21.15 : On Fire – NITA AARTSEN QUATRO

PANDUAN LIVE REPORT
SOLO CITY JAZZ 2009
WINDU JENAR NGARSOPURO SOLO

JUMAT / 4 DESEMBER 2009
19.15 : La..ala..la – NOTTURNO
20.15 : Masih Ada – 2D
21.15 : Ole olang – AKORDEON

SABTU / 5 DESEMBER 2009
19.15 : Akulah Aku – DONNY SUHENDRA
20.15 : Forever Love – HEAVEN ON EARTH
21.15 : Bisik – CLOROPHIL

JAZZ ON TRIJAYA 87.6 FM PALEMBANG

JAZZ ON TRIJAYA 87.6 FM PALEMBANG
Streaming : http://69.73.140.13:8444/listen.pls
Program ini mengudara setiap minggu jam 19.00-21.00 di Radio Trijaya 87.6 FM Palembang dengan selalu memunculkan interview dengan musisi-musisi jazz papan atas Indonesia serta dialog dengan Palembang Jazz Community serta dengan beberapa crew wartajazz.com untuk mengetahui kabar terkini perkembangan dan kegiatan jazz baik di Indonesia maupun International.

Berikut beberapa catatan musisi-musisi jazz dan nara sumber yang on air di acara Jazz On Trijaya :
MINGGU 8 NOVEMBER 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “ARIEF SETIADI” about album philosophy & “IVAN NESTORMAN ” from nera & “DJADUK FERIANTO” & “AJIE WARTONO” about ngayogjazz
MINGGU 1 NOVEMBER 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “DONNY SUHENDRA” about new album Java Jazz & “DEMAS” from KulKul & “CITTA” about Jazz Goes To Campus
MINGGU 25 OKTOBER 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “BINTANG INDRIANTO” about new album Me and Cort Basses & “DEVI” Salamander Big band & “AGUS SETIAWAN BASUNI” WARTAJAZZ.COM
MINGGU 18 OKTOBER 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “GILANG RAMADHAN” & “ANDIEN” & “AGUS SETIAWAN BASUNI” WARTAJAZZ.COM
MINGGU 11 OKTOBER 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “SYAHARANI” & “BAYU WIRAWAN” & “AGUS SETIAWAN BASUNI” WARTAJAZZ.COM
MINGGU 4 OKTOBER 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “IMEL ROSALIN” PIANIS,VOKALIS,AKORDEONIS FROM BANDUNG & “AGUS SETIAWAN BASUNI” WARTAJAZZ.COM
MINGGU 13 SEPTEMBER 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “TENGKU RYO THE MALAY BAND” & “OTTY DJAMALUS” & “AGUS SETIAWAN BASUNI” WARTAJAZZ.COM
MINGGU 6 SEPTEMBER 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “OMEN-CHASEIRO” 30 TH INTELEKTUALITAS BERKARYA & “DENNY SAKRIE” BUBI CHEN ALBUMS
MINGGU 30 AGUSTUS 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “CLOROPHYL” ABOUT NEW ALBUM & “AGUS SETIAWAN BASUNI” FROM WARTAJAZZ.COM
MINGGU 23 AGUSTUS 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “MUS MUJIONO” THE JOURNEY ALBUM , “MASMO” NOTTURNO , “AGUS SETIAWAN BASUNI” FROM WARTAJAZZ.COM
MINGGU 16 AGUSTUS 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “RIZA ARSHAD” SERAMBI JAZZ , “DEVIAN ZIKRY” ASEAN JAZZ “AGUS SETIAWAN BASUNI” FROM WARTAJAZZ.COM
MINGGU 2 AGUSTUS 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “ZARRO & GILANG RAMADHAN” JAZZ @ FORT OF ROTTERDAM , “HENDRA SINADIA” CEO ONE NOTE “ANDI MANGARA” FROM MAKASAR JAZZ SOCIETY
LIVE REPORT RIAU HITAM PUTIH WORLD MUSIC FESTIVAL 23 S/D 25 JULI 2009 JAM 19.15 , 20.15 , 21.15 LANGSUNG DARI TAMAN BUDAYA PEKANBARU RIAU
MINGGU 12 JULI 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “YOKO MAHAGENTA” OPERA NEGERI FANTASY , “ANDEZZZ” DJ’AZZ SET “AJIE WARTONO” FROM WARTAJAZZ.COM ABOUT JAZZ GUNUNG
MINGGU 5 JULI 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “ALDY” BEST BEATBOX FESTIVAL , “HARRY TOLEDO” ABOUT NEW ALBUM AND “AJIE WARTONO” FROM WARTAJAZZ.COM