Berkurban

PALEMBANG – Baiklah saya akan menulis tentang hari raya kurban. Menantang juga, karena saya pribadi cenderung tidak menyukai sejarah yang ada di baliknya. masalahnya adalah, saya seorang ‘host’ yang harus lebih banyak netralnya.

Akhirnya Ustad Mugiono Abu Afifah yang juga adalah pengajar di IAIN menangkap kegalaun saya, saat siaran dia mengatakan seperti ini “Bahwa perintah tuhan kepada nabinya memang tidak bisa kita lihat lewat akal polos. Peristiwa pengurbanan yang terjadi antara Ibrahim dan Ismail harus dilihat sebagai metafor, bahwa kita harus lilahita’ala,” ujar Ustad.

hari raya kurban juga harus dilihat sebagai hari dimana Ukhuwah Islamiyah ditegakkan. Umat Islam saling berbagi kebahagiaan di sana. Yang tidak pernah makan daging akhirnya bisa mencicipi daging. Dipandang lewat hukumnya sendiri, Ustad Mugiono mengatakan bahwa berkurban ini sifatnya sunnah muaakad, sebuah anjuran yang hampir wajib.

“Jika seseorang memiliki kelebihan, maka ia wajib untuk berkurban,”. Selain itu, dalam berkurban ini juga hendaknya diperhatikan ketentuan fiqihnya. Seperti berkurban adalah dilakukan dalam hari-hari tasyrik dan juga jangan lupa untuk meniatkan pengurbanan untuk Allah. Selain itu juga, ini yang penting, pastikan alat untuk menyembelih itu tidak karatan dan tajamnya bukan main, sehingga hewan kurban tidak merasa tersiksa.

Well, selamat hari raya Idul Adha, semoga semua yang baik-baik dilimpahkan kepada semua umat manusia tanpa pandang apapun itu, baik ras, agama, pekerjaan, apalagi tampang. Selamat berkurban! (vira)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: