Lewat Teater Bisa Jadi Penata Suara yang Handal dan Menyelipkan Pesan Dakwah

PALEMBANG – Usman C. Noor adik kandung Arifin C. Noer membeberkan pengalamanya saat bergabung di teater ketjil (baca: kecil) milik Alm. Arifin C. noer, yang disaat ini Us sapaan akrabnya dikenal luas sebagai Penata suara Film dan sinetron (di indosiar) yang handal, kontribusi Teater Film di program Movie trailer (1/11) hadir selama 1 ½ jam setiap minggunya. Dan Usman menjelaskan teater (Bahasa Inggris “theater” atau “theatre”, Bahasa Perancis “théâtre” berasal dari Bahasa Yunani “theatron”, θέατρον, yang berarti “tempat untuk menonton”) adalah cabang dari seni pertunjukan yang berkaitan dengan akting/seni peran di depan penonton dengan menggunakan gabungan dari ucapan, gestur (gerak tubuh), mimik, boneka, musik, tari dan lain-lain. Bernard Beckerman, kepala departemen drama di Univesitas Hofstra, New York, dalam bukunya, Dynamics of Drama, mendefinisikan teater sebagai ” yang terjadi ketika seorang manusia atau lebih, terisolasi dalam suatu waktu/atau ruang, menghadirkan diri mereka pada orang lain.” Teater bisa juga berbentuk: opera, ballet, mime, kabuki, pertunjukan boneka, tari India klasik, Kunqu, mummers play, improvisasi performance serta pantomim.

Dari teater-lah kebanyakan kita yang punya jiwa seni sejak lahir menemukan point emas seni kita apalagi saat ini saya berkecimpung sebagai peñata suara, maka banyak hal yang saya peroleh dari teater (ketjil) milik kakak saya itu. (ujar usman dengan nada sedih saat mengingat sosok arifin)

Sekarang ini banyak sekali teater film yang memberikan sumbangsi besar pada perfilm-an
namun saya cendrung memberikan catatan ketika saya bergabung di teater ketjil yang merupakan sebuah perkumpulan sandiwara atau drama, terutama yang bersifat eksperimental. Dengan komposisi-komposisi yang lengkap mulai dari seni peran, artistic, dan banyak hal yang kita dapat dari teater hingga mengenalkanya pada sebuah karya besar Film diungkapakan usman yang perah ikut produksi teater populer dan sudah memproduksi film budaya dari provinsi Riau yang di rilis dalam waktu dekat sekaligus mengakhiri obrolan hangat by phone sore itu.

Mengenai teater Film bisa dikatakan Sekolah Akting itulah yang diungkapkan Taufik Hidayat (Narsum 2) dan menjadi ketua teater Ar-rafah IAIN Raden Fatah Palembang. Lanjutnya taufik di teater ini lah kami dapatkan cara akting yang baik, akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak. Dialog yang baik mulai dari Volume suara kita hingga, artikulasi yang jelas. Dengan penghayatan dan penjiwaan yang matang dsb.

Bagian dari partnership teater dulmuluk (Lahat) dan muara enim taufik menuturkan teater Ar-rafah yang telah genap usianya 7 tahun dan telah memproduksi 2 film garapan sendiri yang satu di antaranya telah di tayangkan di TVRI sumsel tahun lalu. Lewat teater kami bisa berdakwah karena sesuai dengan background kampus kami sendiri dan karena teater kami bebas mengekspresikan jiwa seni kami dan menghidupkan kembali budaya local yang tidak terjamah oleh masyarakat luas, Salam Budaya taufik mengakhiri interview-nya sore itu. (Rifqi)

    • kusfandiari abu nidhat
    • Maret 9th, 2010

    Terima kasih atas info berita terkait teater. Berita ini, Insya Allah, saya pergunakan sebagai media pembelajaran : berita (fakta dan opini) dan seputar drama.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: