Pemkot Patenkan 22 Motif Songket

PALEMBANG – Pemerintah Kota Palembang telah mendaftarkan 71 motif kain songket asli Kota Palembang ke Departemen Hukum dan HAM melalui Dirjen Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) guna mendapatkan Hak Cipta.

Dari 71 motif tersebut baru 22 yang disetujui.Sedangkan 49 motif tenunan kain songket lainnya masih dalam proses pematenannya. Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Palembang,Wantjik Badaruddin menuturkan, Pemerintah Kota Palembang sudah mengajukan permohonan pengajuan hak paten kain songket ini,kepada Departemen Hukum dan HAM melalui Dirjen HAKI,sejak 2004 lalu. Hasilnya, baru diterima Pemkot Palembang pertengahan tahun lalu.

“Dari 71 motif yang diajukan ternyata baru 22 yang disetujui. Untuk 49 motif lainnya masih diproses untuk mendapatkan hak paten. Kalau 71 motif ini sudah dipatenkan, baru kita akan menggali lagi motif-motif songket khas Palembang yang lain,” tuturnya, di sela-sela acara halal bihalal dirumah dinas Wali Kota kemarin. Motif songket yang saat ini sudah mendapatkan pematenan dari Departemen Hukum dan HAM melalui Dirjen HAKI tersebut,diantaranya motif bungo intan, lepus pulir, tabur burung kecil (paku berkait), limar tigo negeri terwelu betangkup, nampan perak dan lainlain.

“Untuk motif yang belum dipatenkan di antaranya lepus bintang berakit,tigo negeri tabur intan,tigo negeri cantik manis,limar cempuk, kapal kompeni, nago besaung dan lain-lain. Saat ini 49 jenis motif ini sedang diproses hak patennya,” sambungnya.

Pasca pematenan motif songket, imbuhWantjik,Pemkot Palembang akan kembali melanjutkan untuk mendapatkan hak paten makanan khas Palembang. Seperti pempek,engkak kecut,engkak medok, laksan, burgo, tekwan, model dan lain-lain. “Kita saat ini masih menginventarisir data-data masakan khas Palembang. Selanjutnya setelah itu baru akan diajukan ke Depkum HAM,”imbuhnya lagi.

Sementara Wali Kota Palembang Ir H Eddy Santana Putra MT mengatakan,dipatenkannya motif songket ini merupakan salah satu cara untuk menghindari adanya pengambilan karya oleh negara lain. ”Ini juga sebagai bentuk apresiasi pemerintah terhadap karya yang diciptakan. Sehingga, harus dijaga dengan baik kelestariannya,” jelas Eddy. (SI/Burman)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: