Pemerintah Buka Kran Ekspor Pupuk Urea

PALEMBANG – Pemerintah akhirnya membuka kran ekspor pupuk urea. Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Dadang Heru Kodri, membenarkan sudah adanya izin ekspor pupuk oleh produsen pupuk dalam negeri.

Dadang Heru yang dihubungi Republika, Jum’at (25/9) mengatakan, “Pemerintah memang telah memberi izin produsen pupuk untuk melakukan ekspor pupuk urea. Namun ekspor tersebut boleh dilakukan dengan syarat stok pupuk di lini 3 atau di gudang-gudang kabupaten setiap saat harus tidak boleh kurang dari 500.000 ton.”

“Izin ekspor diberikan karena stok lini 3 aman. Dengan adanya ekspor tersebut pemerintah telah membantu agar arus kas perusahaan bisa membaik. Kepada produsen pupuk setiap minggu harus mengevaluasi stok sesuai tujuan utama produksi pupuk untuk dalam negeri. Setiap bulan stok pupuk di gudang tersebut harus dilaporkan. Apa bila stok pupuk kurang dari 500.000 ton maka otomatis ekspor distop,” ujarnya.

Posisi stok pupuk urea saat ini menurut Dadang Heru, di atas 1,5 juta ton. “Stok di lini 3 lebih dari satu juta ton, di masing-masing pabrik stok diatas 500 ribu ton.”

Dengan stok pupuk secara nasional yang ada sekarang telah mencapai 1,5 juta ton lebih, Dadang Heru menjelaskan, ekspor keluar negeri tersebut tidak mempengaruhi kebutuhan dalam negeri.”

Negara tujuan ekspor pupuk asal Indonesia selama ini adalah Thailand, Vietnam, India, dan negara Asia Tenggara lainnya. Sementara harga jual pupuk keluar negeri tersebut diperkirakan antara 260 hingga 270 dolar AS per ton. “Mengenai harga ekspor pupuk urea ini persisnya sesuai dengan hasil tender yang ditetapkan nantinya,” tambahnya.

Stok Menumpuk

Sebelumnya dihadapan Komisi III DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Direktur Keuangan PT Pusri Wiyas Yulias Hasbu mengatakan, PT Pusri berkeinginan untuk melakukan ekspor pada tahun ini mengingat stok pupuk urea di gudang produsen pupuk itu sekarang menumpuk.

Menurut Wiyas, menumpuknya stok pupuk urea tersebut, karena rendahnya daya serap terhadap pupuk tersebut. Seperti di Sumsel, sampai Agustus 2009 pupuk urea yang terserap baru 40 persen “Berdasarkan SK Menteri Pertanian kebutuhan pupuk urea pada tahun ini sebanyak 5,5 juta ton, dari total alokasi itu untuk PT Pusri sebanyak 1,8 juta ton,” ujarnya.

Wiyas Yulias menjelaskan, rendahnya penyerapan pupuk itu sebenarnya terjadi karena SK Menteri Pertanian kebutuhan relatif besar dibandingkan dengan tahun 2008 yang hanya dialokasikan 4,8 juta ton, sekarang 5,5 juta ton. Rendahnya penyerapan juga karena adanya kemarau panjang sehingga stok pupuk menumpuk. baik di gudang maupun di daerah di lini 3.(Republika)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: