Gak Perlu Sekolah Film atau Ber-Budget Gede Untuk Bikin Film Dokumenter!!!!!!

PALEMBANG – Mendengar kata film documenter apa yang ada di benak anda???? bosen, jenuh, gak menarik atau apalah tentang hal buruk anda memaknainya, namun kalau anda ingin menjadi film maker yang handal sepertinya anda harus memulainya dari film dokumenter.

Film dokumenter adalah film yang mendokumentasikan kenyataan. Istilah “dokumenter” pertama digunakan dalam resensi film Moana (1926) oleh Robert Flaherty, ditulis oleh The Moviegoer, nama samaran John Grierson, di New York Sun pada tanggal 8 Februari 1926.

Agus Nugroho yang tergabung dalam komunitas film dokumenter yogya sekaligus masuk dalam jajaran kepanitian festival film documenter 2009, yang menjadi narasumber by phone di program movie trailer (30/8), mengatakan kalau mau bikin film documenter gak perlulah sekolah khusus film, karena pada dasarnya Ide film documenter itu, sesungguhnya bisa berasal dari manapun. Gagasan film dokumenter, dapat ditemui dari ketidaksengajaan. Secara tidak sengaja, siapapun bisa menemukan dan akhirnya membuatnya menjadi sebuah film. Gagasan film akan mempunyai potensi yang kuat, manakala di dalam ide tersebut mampu mewakili persoalan banyak orang. Penonton, akan terpesona dengan sebuah film jika ia merasa dirinya terwakili dalam film tersebut.

Membuat film memang sebuah proses. Upaya untuk bisa menemukan, menyeleksi dan mengungkapkannya kembali, beberapa pembuat film pada mulanya mengerjakan film dokumenter, atas nama kegelisahan atau kegundahan pada sebuah peristiwa. so film-maker di Palembang pun pasti mampulah menumakan ide-ide seperti itu dan saya tunggu karyanya di festival film documenter oktober mendatang, tutur agus mengakhir bincang-bincangnya.

Sementara itu Lilliek Edi (sutradara dari sinetron anak-anak yaho (skenario arswendo),saras 008, tv play pondok pak djon, infotainment reality,issue,kiss, desain pendirian televisi lokal dan komunitas,program dan produksi acara tv) membagi ilmunya tentang film dokumenter. ia mengungkapkan, Film dokumenter, awalnya berangkat dari satu gagasan. Yang lantas, melalui sebuah proses kreatif. Dunia gagasan akan menjadi sumber lahirnya beragam bentuk film dokumenter.

Ketika kita menikmati film dokumenter, maka yang ditonton adalah dunia gagasan. Pembuat film dokumenter, berupaya untuk mencoba mengkomunikasikan ide-idenya, lewat perpaduan antara gambar dan suara. Sebuah dunia cangkokan, yang rasanya, lebih lengkap. Ada gambar, ada suara dan karakter. Pembuat film dokumenter ingin memberikan sebuah peyakinan kepada penontonnya tentang apa yang ia rekam. film dokumenter biasanya dibuat dengan anggaran yang jauh lebih murah, Hal ini cukup menarik bagi perusahaan-perusahaan film sebab hanya dengan rilis bioskop yang terbatas dapat menghasilkan laba yang cukup besar. Bukti murahnya budget film documenter angkat aja masalah sampah (Recycle)sebagai ide garapan “simple and small budget” saya tunggu ide “gila & gokilnya” film-maker Palembang, tutup lilliek.(Rifqi)

movie trailer, 30 agustus 2009

  1. Ide yang menarik!
    Ayo kita terus berkarya.. Make a film not war.. Hehehe..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: