SERTIFIKASI RSPO OPTIMISTIS CIPTAKAN SAWIT LESTARI

PALEMBANG – Ketua Departemen Kampanye Sawit Watch, Jefrey Gideon Saragih mengatakan, pemberlakuan sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) optimistis menciptakan kebun sawit lestari di Indonesia.

Tetapi sampai kini dari ratusan perusahaan sawit di negeri ini baru empat saja yang telah bersertifikasi RSPO tersebut, katanya pada Diskusi Terbatas Menyibak Skenario di Balik Sertifikasi RSPO kerjasama Wahana Lingkungan Hidup Sumsel dan Perum LKBN ANTARA Sumsel, di Palembang, Senin.

Menurut dia, empat perusahaan sawit yang telah bersertifikat tersebut satu beroperasi di Sumatra Selatan, Sumatra Utara dan dua di Kalimantan Tengah.

Tetapi sampai sekarang meskipun telah bersertifikasi RSPO keempat perusahaan tersebut, cenderung belum melaksanakan delapan prinsip dan 39 kreteria sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam aturan RSPO, tambahnya.

Ia mengatakan, aturan yang tercantum dalam sertifikasi RSPO harus dipatuhi, sehingga setiap tahun harus diperbaiki dan dievaluasi.
Dengan evaluasi rutin tersebut pihaknya yakin sertifikasi mampu mendorong menciptakan kebun sawit lestari, tetapi pemerintah harus menjadi regulator penerapan aturan dan ketentuan yang berlaku dalam RSPO, katanya.

Dia menjelaskan, pemerintah diharapkan mampu memperkuat sistem regulasi, sehingga berperan aktif dalam berbagai aspek terkait dengan perkebunan sawit.

Bukan hanya menitik-beratkan peran dalam kepentingan ekonomi pekebun sawit saja, tetapi juga aktif dalam memantau kegiatan lainnya, termasuk nasib dan pendapatan buruh yang bekerja pada perkebunan sawit, ujarnya.

Dia menambahkan, sejauh ini sertifikasi RSPO tersebut menjadi harapan besar bagi masyarakat yang berkaitan dengan perkebunan sawit.
Dimana harga sawit bisa tetap tinggi dan dampak lingkungan pun dapat diminimalisir, sehingga mengurangi potensi konflik masyarakat dengan perusahaan, perusahaan dengan lingkungan, tambahnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Walhi, Anwar Sadat mengatakan, sampai kini pihaknya menilai sertifikasi RSPO kebun sawit berkelanjutan masih cenderung kontradiksi sosial dan ekologi.

“Kami tidak yakin sertifikasi RSPO mampu mendorong terciptanya perkebunan sawit yang ramah lingkungan secara sosial dan ekologi,” katanya.

Dia menjelaskan, karena watak perusahaan tetap akumulatif modal di dalamnya, sehingga dominasi terhadap hak buruh pasti terjadi.
Pengalaman selama 10 tahun advokasi permasalahan penindasan terhadap buruh dan hak azasi manusia, cenderung tidak bisa lepas dari perkebunan sawit meskipun juga menghasilkan dampak positif, ujarnya (Rep)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: