Pemprop serahkan kasus korupsi bantuan dana pendidikan kepihak kepolisian

PALEMBANG – Pemprop Sumsel menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian kasus dugaan korupsi dana bantuan dinas pendidikan nasional Sumsel.

Wakil Gubernur Sumsel, Edi Yusuf mengatakan, pihaknya tetapa akan menggunakan asas praduga tak bersalah kepada oknum yang terlibat, sampai ada keputusasn tetap dari pengadilan. Menurutnya, hal ini terungkap akibat laporan dari masyarakat dan dia berharap ini tidak dipolitisir.

Sebelumnya, kasus ini terungkap karena bantuan dana APBD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) 2008 sebesar Rp38,6 miliar yang diperuntukkan bagi anggaran program bantuan SMA/MA dan SMK untuk keluarga tidak mampu diduga telah disalahgunakan.

Bahkan, polisi telah meningkatkan laporan polisi (LP) untuk penanganan kasus ini ke tingkat penyidikan,. Dari hasil penyidikan yang dilakukan tim penyidik Unit Tipikor Poltabes Palembang, diketahui jika ada penyimpangan penyaluran anggaran yang diduga dilakukan oknum di Diknas Sumsel.

Sebab, jika dilihat dari anggaran yang disediakan sebesar Rp38, 6 miliar, ternyata dana yang disalurkan hanya Rp37,3. Berarti ada dana yang mengendap sebesar Rp1 miliar lebih. Sisa dana inilah yang kini ditelusuri pihak kepolisian. Terkait kasus ini, pihak kepolisian bahkan telah melakukan pemeriksaan terhadap 80 kepala SMA,SMK,dan MA dari 767 kepala sekolah seluruh Sumsel.

Pasalnya, dana sebesar Rp37,3 miliar tersebut memang telah disalurkan ke sekolah- sekolah melalui rekening sekolah dan dilakukan lewat Bank Sumsel. Dari pemeriksaan Kasek inilah, selanjutnya diketahui jika dana yang disalurkan tidak sesuai sasaran. Sebab, Diknas Sumsel menyalurkan dana tersebut pada Agustus 2008, sedangkan siswa kelas tiga sudah lulus pada Juli 2008.

Penyimpangan lainnya,uang bantuan itu disalurkan melalui rekening sekolah, padahal seharusnya disalurkan ke rekening masingmasing siswa yang berhak mendapatkan bantuan. Sekadar diketahui,setiap siswa tidak mampu mendapat bantuan pendidikan sebesar Rp300.000 dari pemerintah setiap bulannya.

Dalam penyalurannya, jumlah siswa penerima dana bantuan setiap sekolah berbeda-beda dan yang paling besar 240 juta per sekolah. Yang mengherankan, dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap kasek,mereka mengaku tidak mengetahui pasti dana apa yang disalurkan Diknas.Bahkan,mereka tidak mengetahui jika terjadi penyimpangan karena mereka hanya menerima. (Fatur/SI)

    • Budi Santoso
    • Mei 15th, 2009

    Parah sekali merampok dana dari anak miskin. Kapan Indonesia akan membetukan diri dan bilang tidak kepada korupsi?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: