Petani Diimbau Tahan Stok Beras

PALEMBANG – Memasuki musim kemarau yang dibayangi paceklik, Badan Ketahanan Pangan (BKP) mengimbau agar pertani tidak menjual habis stok beras pasca panen menyusul harga di pasaran terjadi kenaikan Rp 5.200/Kg atau lebih tinggi dari harga beli Bulog saat ini Rp 4.600/Kg. Peringatan ini dikeluarkan agar saat paceklik, beras masih tersimpan di lumbung padi milik petani.

Hal ini dikatakan Kepala BKP Sumsel Qulyubi Nawawi kepada wartawan, Kamis (30/4). Imbauan ini dinilai layak disampaikan menyusul harga jual beras di kalangan petani membaik begitu pun dengan dengan harga beli Bulog dari Rp 4.300 per kg menjadi Rp 4.600 per kg. Dengan kondisi ini dikhawatirkan petani tergiur sehingga menghabiskan stok beras di lumbung padi. Sementara musim kemarau sudah di depan mata.

“Dikhawatirkan saat kemarau beras di petani kosong dan padi di lumbung habis terjual. Otomatis harga beras tinggi dan petani menderita,” katanya.

Untuk sementara, cadangan beras di Sumsel relatif masih banyak yakni 322.696 ton yang tersebar di rumah tangga petani 222.852 ton, di rumah tangga konsumen 17.500 ton, di area penggilingan 38.145 ton dan di tingkat perdagangan 41.199 ton.

Menurut Qulyubi, stok beras Sumsel tergolong aman bahkan target produksi di 2009 sebanyak 2 juta ton beras dengan lima kabupaten yang menjadi penyanggah beras provinsi. yakni OKU Timur, Banyuasin, OKI, Mura, dan Musi Banyyuasin (MUba). Kendati harga stabil, BKP masih tetap menyediakan alokasi dana Rp 500 juta sebagai dana pengaman harga beras, jika harga beras terjadi penurunan.

“Jika harga beras jatuh, BKP akan mengkatrol harga beli petani sehingga rakyat tidak dirugikan,” papar Qulyubi, seraya menambahkan pengelolaan keuangan sepenuhnya disalurkan melalui Lembaga Distribusi Pangan masyarakat (LDPM).

“Petani harus menahan berasnya sehingga musim paceklik, beras di tingkat petani masih ada,” katanya.

Hal senada juga dikatakan Kadivre III Bulog Sumsel Teddy Nulwadi. Pengadaan 2009, Bulog bakal membeli 423.500 ton dan baru terealisasi 100.000 ton. Beras ini selain digunakan untuk Raskin (beras untuk warga miskin, juga disiapkan untuk beras cadangan untuk bencana alam dengan stok beras di tingkat provinsi 200 ton dan di tingkat kabupaten 100 ton. Beras ini hanya bisa dikeluarkan saat terjadinya bencana alam.

Selain itu, lanjut Tenddy, beras Sumsel juga menyanggah kebutuhan beras di Bengkulu karena Bengkulu adalah Divre Konsumtif sedangkan Sumsel produktif.

“Semua gudang milik Bulog dan swasta yang kitab sewa dibuka untuk penyimpanan,” katanya.

Teddy mengatakan, beras yang dibeli Bulog hanya 8-10 persen dari total produksi beras di petani. Artinya, 90 persen beras dijual keluar. Misa ke Lampung dan provinsi tetangga lainnya. (Sripo)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: