Quo Vadis Ujian Nasional

(Berbahagialah anda yang pernah merasakan ujian sekolah lewat EBTA/EBTANAS dan juga sejenisnya)

Mulai senin, 20 – 24 April, ratusan ribu siswa sekolah menengah atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA), mempertaruhkan nasibnya agar lulus dalam Ujian Nasional (UN). Tahun ini standarnya kembali dinaikkan menjadi 5,5.

Tidak hanya pelaksanaan UNl yang menjadi kontroversi, standar kelulusan yang tahun demi tahun dipaksakan naik menjadi polemic berkepanjangan. Sebagian kalangan melihat standar itu telalu dibuat-buat. Akibatnya dilapangan, agar sekolahnya berpredikat lulus 100 persen, sejak UN ini diadakan, sekolah membuat semacam tim sukses agar para siswanya mampu mejawab pertanyan yang diujikan.
Dan tim sukses ini seperti hantu. Keberadaannya disangkal oleh pihak sekolah, tapi diaminkan oleh sebagian murid dan guru. Tak perlu diinvestigasi secara mendalam, tim sukses ini ada dengan tujuan membantu siswanya pada saat ujian dengan cara membocorkan jawaban bidang studi yang diujikan.

Tentu saja, kemurnian kelulusan dipertanyakan? Namun setidaknya bagi pihak sekolah tak ada jalan lain, karena kalau sekolah mereka, siswanya banyak yang tidak lulus apalagi sekolah negeri, tentu harus ada konsekwensi yang harus mereka tanggung.

Beberapa kalangan melihat, faktor nilai standar kelulusan inilah yang menjadi pemicu berbagai kecurangan yang terjadi. Sekolah tentu saja tak mau malu melihat siswanya banyak tak lulus, sementara siswa sendiri juga tidak mau mempertaruhkan nasibnya hanya dalam waktu beberapa hari. Segala upaya tentu mereka lakukan agar lulus.

Sementara itu bagi daerah sendiri, tentu saja Kepala Dinas sampai ketingkat Bupati/Walikota bahkan Gubernur, juga akan mati-matian menjaga predikat lulus 100 persen kalau tidak mau dianggap daerahnya tertinggal. Karenanya, sebagian besar daerah kemudian malah membentuk tim sukses sendiri yang akan mengkoordinir sekolah-sekolah agar sekolahnya sukses dalam ujian nasional, tentu saj dengan membocorkan jawaban saat ujian kepada siswanya.

Dengan kondisi ini tentu sja, sangat naïf untuk mengharapkan kemajuan dunia pendidikan kita. Padahal sejatinya Ujian Nasional adalah ujian kejujuran semua pihak disekolah. Tentu saja jika banyak yang tidak lulus berarti harus banyak yang diperbaiki. Namun kita ternyata memang masih suka mengambil jalan pintas, dann terjadilah apa yang terjadi saat ini.

Pengawasan yang sangat ketat saat ini yang melibatkan pihak kepolisian, mungkin tidak akan pernah kita lihat beberapa tahun lalu. Melibatkan pihak kepolisian dalam pengawasan membuat ujian sepertinya akan mengarah kepada tindakan kriminal, karena kalau guru atau pihak sekolah ketahuan membocorkan jawaban ke siswa mereka akan langsung digelandang ke kepolisian. Nah disinilah secara pskologis sekolah merasa sangat tertekan.

UN akan terus menerus menuai kontroversi jika pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kekuasaan. Sudah saatnya Ujian kejujuran yang menjadi standar, bukan hanya angka-angka. Jadi mau kemana Ujian Nasional?

(Muhammad Firdaus/Koordinator liputan trijaya FM Palembang)

    • Urangdiri
    • Februari 12th, 2010

    Ujian Nasional bg gue adalah ajang kmunafikan brjemaah… Sbb adk saya..Ponakan saya… Tetangga saya…..Smuanya bilang,DIAJARI kunci jawaban.. Dikasihtau bhkan ditulzkan dipapan tulz kunci jwbn….Itu sdah jd tradisi stiap UN…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: