Hubungan Musik Jazz dan DPR

TERDAPAT dua pesta demokrasi besar di Indonesia dalam kurun sebulan ini, yaitu Java Jazz Festival dan Pemilihan Umum atau Pemilu Legislatif 2009.Apa hubungannya?

Memang tidak ada.Tetapi jika dianalogikan,keduanya memiliki kemiripan, sebab jazz juga dikenal sebagai musik yang sangat demokratis. Sementara parlemen atau DPR bagian dari demokrasi sebuah negara. Dalam jazz setiap individu harus bertindak sesuai dengan yang ia inginkan berdasarkan kemampuannya dan norma-norma yang ada atau yang disepakati.

Personel sebuah grup band jazz bisa tiga orang,empat, atau lebih dan mereka berhak melakukan improvisasi. Tujuannya, menciptakan musik untuk disajikan kepada penonton. Pola ini praktis mirip dengan yang berlaku di gedung parlemen yang kita sebut saja: Senayan.

Anggota Dewan, sama dengan pemain musik jazz, harus memberikan pendapat sesuai dengan kemampuan (yang karena itu dia dipercaya dan dipilih) dan aturan yang disepakati, kemudian disatukan dengan pemikiran anggota lain untuk menghasilkan kebijakan. Hasil improvisasi atau pemikiran anggota Dewan dan musisi jazz ditujukan untuk penonton atau rakyat.

Sebagai contoh sajian musik jazz yang dimainkan dengan penuh demokratis, kita bisa merujuk pada penampilan Bubi Chen bersama Benny Likumahua, Jacky Pattiselano, dan Jeffry Tahalele ketika memainkan Billie’s Bounce dari Miles Davis. Arahkan telinga kita kepada permainan piano Bubi Chen yang meletup-letup, kemudian trombon Benny Likumahua, pukulan drum Jacky Pattiselano, serta dentuman double bass Jeffry Tahalele.

Masing-masing seakan jalan sendiri-sendiri, tetapi tanpa sadar pendengar atau penonton menerima sebuah kenikmatan dari sajian pemusik jazz tersebut. Sering penonton melihat antara pemain jazz satu dengan lainnya seperti tidak terkoordinasi, asyik dengan alat dan kemampuan masingmasing. Itulah jazz. Ini bisa kita lihat dengan jelas saat menyaksikan trio bersaudara Pattiselano, yaitu Ole, Jacky, dan Pery yang meninggal dihantam bom ketika main jazz di Yordania.

Performa mereka semakin terlihat ”egois” saat ditambah dengan pianis almarhum Didi Chia. Di atas panggung, keempatnya betul-betul tidak pernah berbicara, seakan tidak saling kenal.Lewat mata,kita seperti disajikan pertunjukan empat orang bisu bermain jazz, tetapi coba tutup mata dan nikmati dengan telinga, maka kita akan mendengarkan sebuah ramuan musik yang agung.Yang seperti ini banyak ditemui dalam dunia jazz sehingga terkesan musisi jazz egois.

Kesan tersebut salah,sebab pada kenyataannya musisi jazz merupakan kelompok yang bisa berbaur dengan siapa saja dan seketika. Berbaur, bergaul, berkomunikasi dengan setiap musisi lewat permainan musik, walau mereka belum saling mengenal—yang dalam jazz disebut jam session—, merupakan suatu kewajiban.

Sering terlihat,dalam sebuah festival jazz, ketika seorang musisi selesai main di sebuah panggung dan berjalan pulang sambil menenteng koper gitar, lalu melintasi sekelompok musisi lain yang tengah bermain di sudut panggung ekstra; jika hatinya tertarik, tanpa mohon izin dia akan buka koper, ambil gitar, langsung masuk dalam arena permainan, ber-jam session.

Yang seperti ini sering mengundang tepuk tangan penonton, menambah semangat dan semakin panjangnya jam festival. Acara jam session sering terjadi di pengujung festival,tidak ada dalam jadwal, sebagai bentuk keakraban dan uji kemampuan musisi antarnegara. Biasanya, sesama musisi tidak saling mengenal sebelumnya.

Kembali ke Senayan. Kaidah dalam musik jazz dan pergaulan jazz sesungguhnya berlaku di Senayan. Penampilan para anggota Dewan yang mengenakan setelan jas dengan sepatu berkilat, duduk ngobrol dan makan di hotel berbintang,mengingatkan kita pada kehidupan jazz era swing antara tahun 1925–1940.

Musik jazz yang sebelumnya ”hanya”dimainkan kalangan kulit hitam tiba-tiba menarik perhatian musisi kulit putih seperti Duke Ellington. Musisi kulit putih yang diakui sebagai pemusik sekolahan itu kemudian ikut memainkan jazz. Lewat big band mereka tampil rapi berdasi seperti anggota Dewan. Mereka juga main di lingkungan kaum borjuis,mengiringi pesta dansa.

Ketika film tidak lagi bisu, teknologi memungkinkan film bicara, musisi jazz tidak sekadar mengiringi, tetapi ikut masuk dalam bagian film. Bersamaan dengan era swing ini,radio sebagai sebuah teknologi baru muncul sehingga mengangkat pamor jazz.Pada masa inilah kemudian jazz dinobatkan sebagai musik pop Amerika. Bagaimana dengan anggota Dewan?

Jika jazz kemudian bukan hanya pelengkap sebuah film, tetapi ikut menjadi bintangnya, anggota Dewan juga sama. Anggota parlemen kemudian juga tidak sekadar membuat atau mengawal kebijakan, tetapi menjadi bintang.Wajah dan suaranya menghiasi televisi serta radio membicarakan semua ”kepentingan rakyat”.

Pendeknya,seperti jazz, anggota Dewan menjadi terkenal,menarik perhatian, dan tidak sekadar tukang merancang kebijakan. Jangan salah, jazz yang sekarang dikenal mahal dan hanya bisa ditemui di tempattempat terhormat,awal mulanya justru dimainkan di rumah-rumah bordil, di lokasi yang sering membuat onar seperti New Orleans.

Anggota Dewan juga tidak sedikit yang awalnya berangkat dari ”bawah”, jika tidak ingin dikatakan bermula dengan profesi ”tukang becak” atau ”kuli pasar”––walau bukan berarti profesi tersebut tidak baik. Jika ada yang tidak sepakat jazz disamakan dengan parlemen Senayan, boleh saja. Tidak sepakat juga bagian dari demokrasi.

Namun untuk kasus ketika ada anggota Dewan loncat meja, memperjuangkan pendiriannya, kemudian menjadi heboh dan tidak bisa diterima, analogi dalam jazz juga ada, yaitu bebop. Pada awalnya, bebop (1945– 1953), sebagai sebuah bentuk musik jazz yang muncul setelah era swing atau setelah Perang Dunia II, cukup mengagetkan kalangan musik swing.

Bebob yang kelahirannya dibidani pemain musik urakan Dizzy Gillespie dan Charlie Parker dianggap oleh para pemuja swing sebagai sebuah bentuk keonaran dan penghinaan terhadap tatanan musik. Bentuk musiknya yang ribut dianggap sebagai provokasi dibandingkan sebuah keanggunan. Dalam perkembangannya, bebop dengan keunikannya justru diterima penggemar jazz dan sebaliknya swing dianggap monoton.

Apakah ini bisa dianalogikan bahwa parlemen Orde Baru adalah swing, sementara parlemen zaman Reformasi tidak ubahnya sebagai bebop? Setelah era swing, bebop, dan fusion, kini muncul acid jazz, bentuk baru yang diproklamasikan anak muda Inggris, yang mengaitkan antara jazz dengan house music.

Fenomena acid jazz dianggap sebagai bentuk baru dalam jazz memang cukup mengejutkan dan memunculkan perdebatan di kalangan penggemar musik jazz.Kondisi ini lantas mengingatkan kita pada perkembangan di parlemen Indonesia. Senayan tidak lagi menjadi tempat berlabuhnya kaum pergerakan atau politisi muda yang merangkak dari bawah.

Senayan,saat ini, menjadi incaran kaum ”pengangguran” yang tidak memiliki latar belakang politik sama sekali. Kelompok ”politisi instan” tidak beda dengan musisi instan yang mencoba menempatkan diri pada panggung terhormat. Mereka kaum ”penjudi” layaknya kontes Idol.

Namun, walaupun samasama berdemokrasi, antara jazz dan DPR jelas beda nasib.Misalnya seorang musikus seperti Dulah Suweleh, yang hidupnya dibaktikan kepada perkembangan musik di Indonesia, meninggal karena kanker tanpa bantuan dari pemerintah.Bandingkan dengan anggota Dewan yang mendapat fasilitas serta kesejahteraan berlimpah dari pemerintah.

Perbedaan nasib yang cukup mencolok adalah ketika pemusik jazz Indonesia melakukan improvisasi sebagus mungkin untuk masuk dapur rekaman. Sebaliknya sebagian anggota parlemen ”berimprovisasi”, tetapi justru masuk penjara. Maka, jazz harus diputar di parlemen. Dengan kata lain, anggota parlemen kudu belajar mendengarkan dan menghayati jazz.(*)

Eddy Koko
(Penikmat jazz dan produser talkshow politik Trijaya FM)

Sumber : koran Sindo

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: