Jadilah Pendengar yang Bijak

31 10 2009

PALMEBANG – Setiap anak memiliki bakat sejak kecil, hanya terkadang kita sebagai orang tua kurang peka terhadap bakat yang dimilikinya. Apa bakat anak Anda? Menyanyi? Bermain sepak bola? Menulis puisi? Menggambar? Bila hingga saat ini Anda belum memiliki gambaran apa bakat anak anda, segera cari tahu. Mengenali bakat anak memang butuh kecermatan. Jangan juga bakat disamakan dengan pintar. Berbakat berarti memiliki potensi. Psycho Family bersama Ridwan Ya’kub dari Yayasan Islam Terpadu Auladi, kamis (29/10) dengan topik ”Hargai Kembangkan dan Wujudkan Bakat Anak”.

Eksplorasi dalam menemukan sendiri bakat anak dan jangan disertai dengan paksaan, urusan akhlaq dan moral orang tua di depan namun soal potensi para orang tua harus di belakang anak atau sebagai fasilitator. Jadi didiklah anak mu sesuai dengan zamanya ini yang harus di pegang oleh orang tua/praktisi pendidikan, guru dan sebagainya dalam mendidik anak dan harus memperhatikan rambu-rambu yang harus diikuti dalam mengembangkan bakat anak seperti jangan terlalu oteriter dalam mendidik atau kata kuncinya ”Jadilah Pendengar yang Bijak”.

Sebagai penutup Ridwan memberikan renungan bersama :

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, dia akan belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia akan belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia akan belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia akan belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia akan belajar menyenangi diri sendiri.
Jika anak dibesarkan dengan kasih, dia akan belajar menemukan cinta dalam hidupnya. (Rifqi)





Marah

16 10 2009

PALEMBANG- Psycho Family (15/10) bersama Pepen Ali dari Auladi Islamic School sore itu membhasa mengei kemarahan. Pepen membuka program sore itu dengan menceritakan keprihatinannya tentang adanya anak yang membunuh ibunya, juga ada seorang bapak yang melindaskan kaki anaknya ke rel kereta apa. “Sanking marahnya, hal itu terjadi, marah itu harus wajar,” ujar pepen.

Kebiasaan marah atau kontrol emosi yang tidak baik juga bisa terjadi karena lingkungan yang memang begitu adanya. Orang tua yang kerap marah-marah akan menjadi contoh bagi anak-anaknya, sehingga si anak menjadi pemarah. Memiliki anak yang pemarah tentu tidak dikehendaki oleh semua orang tua, namun, emosi sebetulnya penting dan boleh-boleh saja diekspresikan, akan tetapi anak anak hendaknya diberikan contoh yang benar mengenai mengatasi kemarahan.

Anak-anak sangat mudah menangkap, memori berkembang sejak masa kanak-kanak awal, orang tua hendaknya selalu mengusahan agar aak lebih dapat mengingat hal-hal atau aspek yang dapat menimbulkan kemarahan sehingga orang tua dapat mewaspadai situasi-situasi atau pola interaksi yang dapat memicu kemarahan si anak.

bahasa yang baik tidak hanya verbal namun juga non verbal harus diajarkan kepada anak-anak agar mereka dapat mengkomunikasikan emosi mereka. Selain itu juga kontrol diri, “memang kontrol diri belum dimiliki oleh anak-anak, namun orang tua hendaknya membimbing agar dasar anak-anak dapat mengontrol emosinya, sudah ada,” ujar pepen.

bagaimana agar anak dapat memahami dan mengelola kemarahan?, yaitu ciptakan iklim di rumah yang nyaman. orang tua hendaknya menjadi contoh yang baik, selalu membimbing anak-anak untuk mengontrol diri, mengembangkan kemampuan mengenali perasaan-perasaan marah dan dengarkan lah anak-anak kita, mereka pun juga ingin didengarkan. (vira)





Silaturahmi Yuk

12 09 2009

PALEMBANG – Hari raya idul fitri selalu dihiasi dengan silaturahmi. Sayangnya ritual saling kunjung mengunjungi itu, beberapa tahun belakang, mengalami degradasi. Ada apa? Pepen Ali, dari Auladi Islamic School dalam Psycho Family Kamis (10/09) menyebutkan alasannya. “Kemungkinan karena orang-orang lebih suka dengan pola hidup hedonis. Liburan bukan berkunjung ke sanak keluarga tapi malah ke mal-mal”.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Ridwan Yaqub Ketua yayasan Auladi Islamic School bahwa sebetulnya saat ini keengganan orang-orang untuk bersilaturahmi dipengaruhi oleh banyak faktor, selain pola konsumerisme, keadaan yang kurang menyenangkan saat kumpul-kumpul keluarga juga jadi faktor keengganan itu “Misalnya kita kumpul-kumpul keluarga, yang terjadi adalah ada beberapa keluarga yang sibuk menceritakan keberhasilan dan kesuksesannya sehingga membuat orang lain menjadi rendah diri”.

Silaturahmi ini sangat penting karena jika tidak dilakukan bisa menyebabkan kehilangan kontak, jaringan dan lain-lain “Tak urung bahwa kerap kali anak-anak kita tidak mengetahui sana keluarganya sendiri karena orang tuanya jarang mengajak anak-anak nya untuk berkunjung,” papar Ridwan.

Momen lebaran menjadi sangat penting untuk menjalin tali silaturahmi karena kemungkinan pada hari-hari biasa, kita sulit sekali untuk bertemu diakibatkan oleh kesibukan. terutama bagi anak-anak, momen Idul Fitri dapat dijadikan ajang untuk mengenalkan keluarga besar. Meskipun anak-anak belum melakukan interaksi dalam pertemuan tersebut, dengan berkumpul bersama keluarga besar, anak akan melakukan penyesuaian diri dan beradaptasi untuk melakukan interaksi terhadap yang lain. (vira)





Bicaralah Agar Tak Ada KDRT

6 08 2009

PALEMBANG – Kekerasan domestik, atau lebih dikenal dengan KDRT di palembang saat ini mulai mengemuka. Novian Pranata, Ketua Himpunan sikolog Indonesia Wilayah Sumatera Selatan menyatakan bahwa kasus KDRT bermunculan di ruang publik karena saat ini semakin banyak hal dijadiakn ruang komunikasi. Selain itu KDRT ini juga menjadi pembahasan sejak adanya UU KDRT 23 Tahun 2004.

Anak yang sering menyaksikan orang tuanya sering berantem akan mengakibatkan dampak psikologis di keudian hari. Misalnya membuat seseorangmemiliki tingkat agresifitas yang tinggi dan berpikir bahwa kekerasan adalah problem solving yang tepat. “Ada yang bisa jadi agresif, ada juga yang tidak karena ia akan berpikir berseberangan. Misalnya bahwa ia tidak boleh melakukan kekerasan. jadi bekas yang ada akan menimbulkan efek yang tidak sama pada semua anak,” ujar Novian.

KDRT memiliki spketrum yang sangat luas. penyebabnya isa beragam. Misalnya Laki-laki yang punya masalah di kantor, stress dengan pekerjaan sehari-hari dan rutinitas yang berulang kemudian stress tersebut dilampiaskan kepada keluarga. Atau juga bisa jadi KDRT karena adanya permasalahan ekonomi.

“Yang jelas KDRT terjadi karena adanya kegagalan dalam mencari problem solving.” Jalan keluar yang paling benar adalah bicara dengan tenang dan tanpa emosi. Jika memang permasalahan yang ada sangat pelik, jangan terburu-buru membawanya ke ruang publik, misalnya dengan melakukan pengaduan ke polisi, tetapi selesaikan terlebih dulu melalui komunikasi antarkeluarga. (vira)
4





Jiwa Usaha

24 07 2009

PALEMBANG – Dian Aryogo, Humas Himpunan Psikolog Indonesia Wilayan sumatera Selatan, hadir kamis sore (23/07) pukul17.00WIB ke studio Trijaya untuk menjadi narasumber psycho family. Dian Aryogo, yang kerap bikin saya nggak mudeng, karena saat memaparkan sesuatu suka tiba-tiba diem. Tiba-tiba diem karena beliau rupanya sedang berpikir.

Dian Aryogo kali ini membahas tentang psikologi kewirausahaan. Psikologi Kewirausahaan ini sendiri merupakan ilmu psikologi terapan yang mencakup pola perilaku, karakteristik kepribadian pewirausaha. “tentunya berbeda dengan management entrepreneurship, psikologi kewirausahaan lebih menekankan pada aspke-aspek indvidual misalnya ketahaanan pewirausaha menghadpi kompetisi, menghadapi tekanan,” ujar Dian.

Dian sendiri tidak sepakat dengan wacana yang banyak dikatakan orang megenai seorang pewirausaha bersifat ‘genetik’ “Kalau ada jiwa usaha, baru bisa berhasil berusaha, saya nggak setuju dengan itu. Karena sebetulnya menjadi seorang pengusaha yang handal itu bisa dipelajari. Semua orang bisa asal memiliki minat dan mau melakukannya”.

Apakah seorang bisa menjadi pengusaha karena dipengaruhi faktor lingkungan? bisa jadi, karena behavior rumusnya individu + lingkungan. Maka kalau memang seseorang berada di lingkungan yang banyak pengusaha nya, kemungkinan besar juga ia menjadi seorang pengusaha. tapi hal ini harus dikaji lebih ketat, jangan sampai dipelintir bahwa kalau orang tua jahat, anaknya pasti jahat.

Perlu ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan pewirausaha di sini ialah siapapun yang memiliki karakter kewirausahaan dalam konteks yang luas, sesuai dengan definisi kewirausahaan sebagai kapasitas kreatif-inovatif dalam mewujudkan produk atau jasa. (vira)





Orang Tua Harus Mengerti

19 07 2009

PALEMBANG – Psycho Family bersama Lembaga Pendidikan Islam Terpadu Auladi, Kamis (16/07) menghadirkan narasumber Ketua Yayasan LPIT Auladi, Ridwan Yakub dan Pepen Ali, guru di SDIT Auladi. Sore itu, Ridwan memberikan informasi kepada para pendengar Trijaya mengenai fenomena pendidikan saat ini dimana terdapat batas yang kabur antara keinginan orangtua dan anak.

Orang tua kerap suka memaksakan hal-hal yang sebaiknya belum dilakukan oleh anak-anak. “Anak yang seharusnya TK dulu, waktu mainnya banyak, sudah dipaksa masuk SD,” Hal ini sebetulnya tidak baik untuk kejiwaan seorang anak-anak karena dikhawatirkan anak akan cepat mengalami kejenuhan dalam belajar.

Di Auladi sendiri, dijelaskan oleh Ridwan, memerlukan jasa psikolog untuk melakukan pemetaan ketika penyaringan masuk baik itu di TK IT maupun SD. “Penyaringan melalui psikotes ini untuk mengetahui kadar kematangan anak dan untuk mengetahui bagaimana pola yang pas untuk melakukan pengajaran”.

Sementara itu, menanggapi program akselerasi yang terjadi, Ridwan juga mengungkapkan bahwa para praktisi pendidikan memang harus melihat ini secara ketat. “Program akselerasi ini untuk memfasilitasi anak-anak yang memang memiliki kemampuan di atas rata-rata, sehingga diberikan pengajaran yang lebih tinggi agar mereka tidak merasa bosan,” tapi, lanjut Ridwan, program akselerasi ini jangan sampai dijadikan sebagai ajang ‘prestisius’. “Ini yang bahaya, karena anak akan dipaksakan padahl ia tidak memiliki kemampuan akan itu”. (vira)





Psikotes

9 07 2009

PALEMBANG – Psikotes adalah tes psikologi. Psikotes hanya boleh dilakukan oleh orang yang berkompeten melakukannya. “Saat ini bukan hanya lulusa S1 di bidang psikologi, tetapi lulusan tersebut harus sekolah kembali agar dapat melakukan psikotes,” ujar Herlina, Psikolog pendidikan dari HIMPSI.

Ia mengatakan bahwa psikotes ini sesungguhnya bukan untuk melakukan ’scoring’ ataupung ranking, jika psikotes dilakukan kaitannya dengan bidang pendidikan. “Psikotes dalam bidang pendidikan digunakan untuk melakukan eksplorasi terhadap kemampuan dan bakat yang dimiliki,”. Herlina memberikan komentarnya terhadap sms yang masuk tentang kemampuan seseorang menginterpretasikan watak dalam waktu 5 menit saja.

“Saya pikir hal tersebut tidak bisa dilakukan. Karena pembacaan karakter itu melewati beberapa tahapan dengan melakukan pembacaan data-data, baik itu hasil psikotes maupun daftar riwayat hidup”. Apakah psikotes bisa diajarkan melalui buku-buku yang saat ini banyak beredar? “Tidak masalah untuk dipelajari, asalkan memang buku buku tersebut memang valid dibuat oleh orang-orang yang berkompeten. Jika hal ini berkaitan dengan tes kerja, pelajari aja, toh nantinya akan ada banyak data yang akan di cross cek.”

Yang jelas, untuk menghadapi psikotes kita harus mempersiapkan fisik dengan baik. Kondisi fisik yang sehat dan prima akan turut menentukan hasil psikotes. (vira)





Auladi Islamic School

19 06 2009

Palembang – Anak merupakan aset terbesar, investasi termahal sekaligus harta yang tak ternilai harganya. Memberikan pendidikan yang terbaik bagi mereka, berarti orang tua telah menunaikan salah satu kewajibannya terhadap Sang pencipta jiwa dengan penuh tanggung jawab.

Auladi Islamic School mengakomodir kebutuhan pendidikan saat ini dengan nuansa Islami. Menerapkan sistem pendidikan dengan Singapore Learning dan Lembaga Pendidikan At Tamimi Malaysia. Namun, meskipun mengimplementasikan pendidikan dari luar negri, lembaga pendidikan auladi tetap berada di bawah koridor kurikulum Diknas di Indonesia.

Metodologi pembelajaran yang kreatif, inovatif dan teknik yang interaktif dengan landasan mengajar 3R : Reading, Writing dan Aritmatic. Ratio yang kecil antara jumlah murid dan guru yakni 1:12, teknologi sebagai alat dalam proses pembelajaran yang mudah dan menarik.

Apa kompetensi yang dimiliki oleh lulusan SDIT Auladi ? Yakni memiliki hafalan Alquran 1-2 Juz, memiliki hafalan 20 – 40 Hadist. terbiasa menggunakan bahasa Arab dan Inggris, mengenal dasar Outbond, komputer dan dasar olahraga renang yang baik (vira)





Anak Bidadari

15 05 2009

PALEMBANG – Autisme adalah ketidakmampuan seseorang dalam melakukan komunikasi dengan orang lain. Hal itu didefinisikan oleh Psikolog dari Himpunan Psikolog Indonesia Wilayah Sumatera Selatan, Safra Dhaini, S.Psi, yang lebih akrab disapa Ibu Nini. Mengapa bisa autisme? apakah autisme bersifak genetik?

“Tidak. Autisme tidak bersifat genetik, meskipun hingga saat ini belum ada penelitian lebih lanjut yang dapat menjelaskan penyebab autisme,” ujar Nini menjawab sms yang masuk dalam bincang bincang tiap Kamis pukul 17.oo tersebut. Autisme adalah kegagalan komunikasi, karena itulah penanganannya harus benar-benar intensive. Mengobati autsime harus bersifat sinambung. Dilakukan oleh person to person.

Pada anak yang menderita Autisme, mereka akan sangat senang dengan keteraturan, menyaksikan sesuatu yang teratur, mereka akan dapat menghabiskan waktu ber jam jam tanpa lelah “Kasus yang saya tangani, pernah ada anak yang sangat senang dengan hujan dan dengan suara yang dihasilkan ketika memotong kuku, hingga akhirnya setiap hari ia ingin selalu memotong kuku”.

Anak autisme juga diistilahkan sebagai anak bidadari karena mereka memiliki kulit yang sensitif, juga reaksi tubuh yang sangat peka terhadap makanan-makanan tertentu “Namun hal ini sifatnya sangat subjektif terhadap amsing-masing anak, ada yang harus diet protein, diet glukosa .” ungkapnya.

Autisme bisa ’sembuh’, asal orang tua telaten membimbing anak yang menderita autisme ini agar dapat bergaul secara normal. Gejala autisme harus dideteksi sejak dini, misalnya jika anak batita kita tidak melihat kita ketika diajak bicara, jika ia asyik sendiri dengan sesuatu selama ber jam jam, haruslah segera dikonsultasikan kepada ahlinya. (vira)





Identifikasi Masalah

8 05 2009

PALEMBANG – Agar Keluarga tidak menjadi musuh. Itulah yang menjadi tema Psycho Family, Kamis (7/9) Sore bersama Kepala Sekolah SD Auladi, Yanti. Kontradiktif memang, namun hal itulah yang seringkali terjadi. Kekerasan dalam rumah tangga adalah salah satu contoh kasus dimana keluarga yang seharusnya dicintai, malah menjadi musuh.

Tidak hanya antara suami istri saja, tepai relasi orang tua dan anak juga seringkali menunjukkan sikap bermusuhan. “Musuh itu secara umum kita artikan sebagai orang yang tidak menyenangkan, atau lebih jauh orang yang kita perangi, alangkah seramnya jika keluarga sendiri mau kita perangi,” Ujar Yanti.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena ada dua hal, yang pertama yaitu setiap anggota keluarga gagal dalam melakukan identifikasi masalah. Yang kedua yaitu akibat dari kegagalan meng identifikasi masalah tersebut, maka jalinan komunikasi antara anggota-anggota keluarga menjadi tidak sehat.

Seperti salah seorang penelpon sore itu yang mengungkapkan bahwa pernikahannya sangat tidak menyenangkan padahal baru berumur 5 bulan pernikahan, namun Sang suami kerap kali marah-marah, Ia pun merasa bahwa himpitan ekonomi juga sepertinya menjadi salah satu pemicu hubungan tidak harmonis tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Yanti mengungkapkan bahwa tak ada jalan lain selain membicarakan hal ini dengan terbuka terhadap pasangan. Katakan kepada pasangan kita bahwa kita tidak suka dengan perangainya yang kasar, namun menyampaikannya juga harus dengan hati-hati dan santun. Selain itu, jika masalahnya berhubungan denan himpitan ekonomi, Yanti menjelaskan “Rezeki itu ada di tangan Allah SWT, kita berusaha sebaiknya, maka ia akan memberi.” (vira)