Ko Afen, pemilik Afen foto studio, diusir pun pernah.

9 11 2009

Afen foto studio, untuk warga Palembang brand ini cukup dikenal, mungkin karena telah lama berdiri atau cabangnya yang berada dimana2. Namun siapa sangka, pemiliknya adalah seorang pekerja keras dan sangat terbuka dengan siapa saja.

Diundang sebagai bintang tamu dalam Program Profil Minggu ini edisi 6 Nov 2009, Pria berbadan besar ini dengan ramah mengatakan bersedia terbuka, bercerita ttg kehidupannya dan berbagi kiat sukses apa saja.

“saya ini melewati perjalanan yang cukup panjang dan tidak mudah” ujarnya.

Ko Afen, begitu beliau disapa, dilahirkan di kota Baturaja. “saya melihat hidup saya tidak bisa begitu begitu saja. Kami bersepuluh, dan hidup hanya mengandalkan satu toko saja, milik ayah, oleh karena itulah saya putuskan untuk hijrah ke Palembang pada saat usia 14 tahun.

Ko Afen mengawali usahanya dengan membuka toko kosmetik di sebuah pusat perbelanjaan. “Tidak langsung sukses, karena pusat perbelanjaan tersebut kebakaran” tambahnya.

Tidak menyerah begitu saja, ko Afen muda mencoba menekuni hobby fotography nya sebagai profesi, beliau mencoba untuk mencari objek objek foto. “Yang penting orang kenal dulu dengan saya, makanya saya gak segan waktu itu dipake gratisan, bahkan beberapa kali memberikan bonus untuk customer saya” ujarnya. Usaha tersebut berhasil, mulai sebagai foro wedding door to door, ko afen mencoba untuk menyewa tempat usaha, cuci foto sendiri “Beberapa kali saya diusir, karena saingan saya yang selalu mencoba untuk membayar sewa lebih mahal dari harga sewa saya, tapi saya pasrah saja. Saya yakin rejeki itu pati ada”

Saat Ini Afen Foto Studio sudah memiliki 5 cabang yang tersebar di kota Palembang. Bukan cuma itu, Afen berhasil mengajak semua keluarganya menekuni bidang usaha yang sama dengan total 16 foto studio serupa. “putri saya memiliki hobby tata rias, jadi saya izinkan dia usaha bridal ” tambahnya. Dan dalam waktu dekat, Ko Afen akan membuka Sekolah Fotography di Palembang.

Akan banyak sekali waktu yang dibutuhkan untuk berbincang panjang lebar dengan pria yang hobby bercerita ini. Sebelum menyudahi, Ko Afen hanya berpesan ‘Tetaplah Rendah Hati dan Ramah dengan siapa saja, karena sukses akan datang dari sana’

Satu Jam pun ditutup dengan bagi bagi 10 T- shirt untuk pendengar trijaya yang telah berpartisipasi (dinnaherly)





Memulainya sebagai penjual Mie Instan (Yoki Firmansyah, pemilik nyenyes.com)

2 11 2009

Ada dua pandangan tentang pendidikan yang berbeda pada setiap orang. Banyak yang berfikiran, pendidikan itu sangat sangat penting, untuk itu mereka rela mengaplikasikan pepatah, kejarlah ilmu sampai ke negeri cinta. Tapi tidak begitu berlaku untuk seorang Yoki Firmansyah, pemilik usaha nyenyes.com, kaos kaos khas bergambar animasi dan kalimat lucu khas Palembang.

Bukan menyepelekan pendidikan, tapi Yoki begitu beliau disapa, lebih suka menjadi wirausaha ketimbang melanjutkan kuliah di perguruan tinggi seperti semua saudara saudaranya. Diundang emnjadi bintang tamu dalam acara profil minggu ini, edisi Jum’at 20 Oktober 2009, pria kelahiran 1983 ini tidak segan membagi ceritanya.

“semua berawal dari kepindahan saya ke jogja, disanalah saya melihat dunia dalam kehidupan yang sebenarnya. Saya sekolah disana, mencoba menekuni dunia musik, menjadi seorang Gitaris, saya bisa namun saya hentikan seketika. Bagi saya musisi itu tidak bisa membuat say amenjadi kaya. Mereka Berkarya bukan mencari harta” ujarnya.

Pria yang mengidolakan keluarga pengusaha Yusuf Kalla ini juga mengaku, terpaksa memutar otaknya, dengan modal 18.000 rupiah saja. “saat itu saya berfikir bagaimana caranya agar tetap bisa bertahan dengan uang seadanya, saya jadi penjual mie instan dengan uang sisa di kantong, saya masak untuk mahasiswa yang suka nonton bola.. dari sana uang saya berputar, dan semangat usaha saya tumbuh.’

Benar saja, dari mie Instan, Yoki selalu mencoba menjual sesuatu yang baru, seperti Pisau, Ikat Pinggang, Tas HP, sampai Dasi Bekas. “tapi saya bukan sales, walaupun saya jajakan door 2 door, itu modal saya sendiri” tegasnya.

Lalu, bagaimana ceritanya sampai bisa menjadi pengusaha kaos khas Palembang?

“saat saya memutuskan kembali ke Palembang, kebetulan sedang ada acara akbar, KTNA, ketika para petani dari seluruh penjuru Indonesia berkumpul disini. Saya jalankan ide saya membuat kaos bergambar jembatan ampera, waktu itu warnanya hanya hitam dan putih,saya jajakan disana, luar biasa laku keras. Sisanya, di stock di beberapa toko toko pakaian” terangnya

Saat ini, Yoki yang tidak ingat dimana dia menyimpan ijazah SMA nya memiliki usaha kaos khas Palembang dengan 3 merk. Tujuannya untuk menjangkau tiga golongan masyarakat. Salah satunya adalah Nyenyes.Com yang outletnya dapat anda temui di Palembang Indah Mall

Semoga dengan keberadaan orang muda yang kreatif seperti ini, akan semakin banyak orang palembang yang merasa bangga menyebut dirinya WONG KITO (dinnaherly)





Cinta Yang Tidak Diperbaharui Adalah Perbudakan

17 10 2009

Palembang – Ia adalah sosok yang akhir-akhir ini sibuk melakukan release ke media-media mengenai polemik yang terjadi antara Carrefour dan PT BJLS. baru satu bulan ia bergabung di PT BJLS, ia harus sudah berhadapan dengan kasus ini “Ya saya hadapi saja, saya belajar dari tim, dan tim juga banyak mendukung saya,” ujarnya.

Liza Sako, perempuan keturunan Jepang dan bandung ini mengaku orang Palembang. “Saya lahir di Palembang, besar di palembang, Hidup di palembang dan punya sahabat-sahabat di palembang, saya orang palembang,” jawabnya ketika ditanya mengenai asal-usul darah campurannya yang Indonesia – Jepang.

Ibu dari dua orang putra dan satu orang putri yang punya hobi travelling, belanja dan pergi dengan teman-teman ini mengaku bahwa Ia sangat menikmati kesibukannya saat ini. “Saya kan singel fighter, jadi ya harus survive dan enjoy”.

menurut salah satu sahabatnya, Liza adalah orang yang tegar. menanggapi pernyataan itu, liza yang menamatkan pendidikannya di Universitas Sriwijaya jurusam manajemen ini mengaku bahwa ia memang harus tegar. “Gagal rasanya nggak enak banget, tapi menjalaninya dengan syukur lah yang bisa saya lakukan”.

Kelahiran 21 Juni tahun 1976, ketika datang ke Trijaya tampak lelah. “Ya, saya memang capek, tapi bersyukur akhirnya BJLS dan carrefour sudah memiliki kesepakatan siang tadi,” ujar Liza yang masih mengenakan setelan kerjanya sejak siang.

Cinta yang tidak diperbaharui setiap hari akan menjadi kebiasaan dan kemudian menjadi perbudakan. Adalah Quote yang dicantumkan oleh Liza di situs milik pribadinya. Apa pendapat Liza mengenai kalimat ini, “Pengulangan yang terjadi setiap hari membuat cinta yang awalnya luar biasa menjadi biasa saja kalau kita tidak ada upaya untuk membuatnya tetap luar biasa”. (vira)





Abdurrahman; menjadi perantau sejak usia 3 bulan

30 06 2009

Terbuka, kata yang tepat menggambarkan tokoh muda ini, terbukti ketika dengan sigap beliau menyetujui undangan radio Trijaya untuk mengisi acara profil minggu ini edisi 26 Juni 2009.

“Abe, orang orang biasa memanggil saya” ujarnya ramah. Abdurrahman, kelahiran 1974 adalah Branch Manager dari Rumah Zakat Indonesia Cabang Palembang setelah sebelumnya di Padang dan Pekanbaru.

“pertama kali saya datang kesini, saya melihat semangat yang luar biasa dari masyarakat Palembang” ujarnya ketika ditanya ttg pendapatnya ttg Palembang.

Rumah Zakat bagi seorang Abe, adalah pekerjaan yang selama ini di idamkan, cita cita yang sebenarnya.
“tadinya saya malu, harus mendatangi nasabah satu persatu, mengingatkan mereka membayar kewajibannya, tapi kemudian saya sadar ini adalah pekerjaan mulia, saya menyelamatkan mereka dari neraka” tambahnya

satu jam perbincangan dengan Trijaya Palembang, menyimpulkan bahwa, ayah 4 orang anak ini adalah sosok yang lembut tapi tegas dan mandiri,

“sudah sejak umur 3bulan, saya diasuh oleh nenek saya berganti gantian, dari satu kota ke kota lainnya, mungkin ini yang membuat saya mandiri dan terbiasa dengan lingkungan baru” ujarnya mantap
(dinnaherly)





Izzah Zen Syukri, mungkin saya agak kolot.

22 06 2009

Mengesankan, satu kata yang bisa dijadikan sebagai gambaran perbincangan Trijaya Palembang dengan Ibu yang memiliki 6 orang anak ini. Izzah Zen Syukri S.Pd M.Pd, hanya memakai gelar akademisnya ketika berada di tempat kerjanya saja. lalu hanya mencantumkan nama IZZAH ketika melamar pekerjaan atau berurusan dengan berbagai birokrasi.
“Saya tidak mau nama besar abah saya, dijadikan ukuran oleh orang lain untuk menilai siapa saya” ujarnya.

Hadir dalam Profil Minggu ini edisi 18 Juni 2009, Izzah Zen menginspirasi profesional muda yang sedang mendengarkan dengan kesederhanaannya.

“saya ini agak kolot! tapi biar saja, karena kita tidak boleh menjadi korban modernisasi. Ada aturan aturan lama yang diterapkan oleh ayah saya dulu yang samapi sekarang juga saya lakukan pada putera puteri saya, dan di rumah sayapun, kami tidak memilik Play Station.”ujarnya

Izzah kecil bercita cita menjadi seorang guru, “kata abah, itu adalah pekerjaan yang sangat mulia, dan cita cita itu tercapai, selain menjadi dosen bahasa dan sastra di Universitas Sriwijaya, saya juga mengelola sebuah pondok pesantren dan memimpin Madrasah Ibtidaiyah di kawasan 27 ilir” tambahnya.

Izzah Zen, putri tokoh agama terkenal di Sumsel ini, KH Ahmad Zen Syukri baru akan merampungkan 2 buku sastranya, sementara buku pertama yang bercerita ttg biografi sang ayah sudah masuk cetakan ketiga. “kalau ada pepatah -Gajah Mati Meninggalkan Gading, maka Dosen matipun harus meninggalkan tulisan’ ujarnya sambil tertawa.

Banyak hal yang bisa diambil dari perbincangan bersama Izzah, wanita yang cukup sibuk tapi tetap bisa membagi waktunya untuk keluarga.

“saya selalu memulai semuanya sebelum pukul 4 pagi, dan menyudahinnya jam 8 malam, tidak begitu tertarik dengan televisi”

dinnaherly





Terry Kuniadi, kembali ke Palembang juga

19 02 2009

Muda, energik dan mapan, tiga kombinasi kata yang tepat digunakan untuk menggambarkan sosok Terry Kurniadi, Manager Pertamina Retail, SPBU coco, lapangan Golf Palembang.

Memenuhi Undangan radio Trijaya, dalam acara Profil Minggu ini edisi 13 January 2009, kesederhanaan seorang terry semakin terpancar.

“saya ini orang Palembang asli, tapi ketika saya memasuki dunia kerja yang mengharuskan saya keliling Indonesia, saya bahkan jarang kembali ke kota kelahiran saya, sampai pada akhirnya, saya dipromosikan untuk sebuah jabatan yang mengharuskan saya kembali ke Palembang” ujar nya.

Menjalani semua jenjang pendidikan di Palembang, dengan modal disiplin dan keteraturan yang diterapkan oleh orangtua sejak dini, terry kecil terbisa dengan aturan aturan rumah yang diterapkan oleh orangtuanya.

” ketika tiba dirumah, saya harus membuka sepatu saya, makan tepat waktu dan mematuhi jam tidur siang. ada semacam pemberontakan yang juga saya lakukan saat itu, tapi sekarang saya benar benar menyadari manfaat dr semuanya.” ujar terry.

Posisi yang cukup lumayan di usia yang muda, tidak membuat manager Pertamina retail ini puas, masih banyak hal yang ingin di raihnya dalam karir dan kehidupan pribadi.(dina)





Muhammad Irvan, Pria itu Pemikat

20 01 2009

Ini kali pertama radio Trijaya berjumpa dengan pria ini. Sekilas tampak jelas pria berkulit putih ini sangat memperhatikan peampilannya, maka tidak heran beliau menjadi area manager dari perusahaan distributor produk kecantikan bermerk internasional.
Hadir memenuhi undangan trijaya sebagai profil edisi 9 January 2009, Muhammad Irvan, bercerita banyak hal tentang dirinya, masa kecil serta apa yang ingin diraih dalam hidupnya.

Ditanya apa yang membuatnya berkecimpung di dunia yang banyak dihuni oleh perempuan, M.Irvan menjawab sambil tersenyum lebar..
“Pria adalah daya tariknya, kalau yang menawarkan produk tersebut adalah pria pria seperti saya, pasti akan lebih banyak wanita yang menggunakan produknya..”

Jabatan sebagai Area Manager Oriflame dengan cakupan daerah Sumatera (Palembang, Padang, dan Medan) belum membuat pria ini merasa puas. “yang saya cari adalah tantangan, ketika saya tidak lagi tertantang .. maka saya akan mencari atau membuat sendiri tantangan tersebut.

Perbincangan menarik dengan Bapak dua anak ini ditutup dengan sebuah kalimat motivasi.. ” Biasakanlah menggunakan kalimat kalimat positive dalam kehidupan, (mis: mengubah kata “kendala” menjadi “tantangan”) karena kalimat anda akan sangat mempengaruhi. (dinnaherly)





Amidi SE, MSi “semua ada nilai ekonominya, kecuali istri saya”

10 11 2008

Amidi – singkat jelas dan terlalu sederhana, sebuah nama yang dikenal oleh banyak orang. Bukan cuma karena  terdiri dari tiga suku kata yang gampang diingat, melainkan juga sumbangsih opini yang  selalu hadir di setiap media,  tentang ekonomi.

Amidi SE, MSi adalah seorang akademisi juga pengamat ekonomi yang terkenal hangat dan ramah kepada rekan rekan media. Beliau menyempatkan untuk memenuhi undangan radio Trijaya Palembang, Jum’at 7 November 2008 sebagai narasumber dalamm program Profil Minggu ini.

“nggak bisa dipercepat acaranya, saya dari pagi belum sempat pulang ke rumah” Ujarnya.

Acara yang dimulai tepat pukul 19.00 wib ini dibuka dengan cerita masa lalu seorang Amidi, Pria yang lahir dan dibesarkan di Ogan Komering Ilir. “Saya suka masa kecil saya, saat itu saya menikmati semua yang serba sederhana, dan dari sanalah saya mulai belajar banyak hal”ujar pria yang mengaku pernah menjadi penjual Es Bon Bon keliling ini

Selesai Sekolah dasar, beliau hijrah ke Palembang. Niat mengenyam pendidikan tinggi untuk masa depanpun membawa dia datang, sekolah dan hidup sendirian di kota Palembang meskipun masih berusia belia. “bagaimanapun caranya saya mau sekolah, dan kualitas pendidikan yang lebih baik pada masa itu hanya bisa didapatkan di Palembang”. tambahnya.

Jalani saja semuanya, jangan berharap terlalu berlebihan. Kalimat ini adalah kalimat yang selalu disimpan oleh seorang Amidi, terbukti sampai dengan tamat SMU, dia belum juga memikirkan apa cita citanya. Kesukaannya terhadap ekonomi, mengamati dan menghubungkan apa yang ada di lingkungan sosialnya dengan ilmu dan nilai ekonomi membuat pria yang selalu tersenyum ini menuangkan hasil pengamatannya kedalam sebuah tulisan.

Semakin serius, Amidi remajapun melanjutkan pendidikannya di bidang ekonomi, bidang yang disukainya. Aktif memberikan kontribusi seputar analisa ekonomi di media cetak, membuat nama amidi cepat dikenal dan setring mendapatkan undangan undangan sebagai pembicara seminar atau apa saja yang dihubungkan dnegan ekonomi.

“saya tidak pernah sangka bisa seperti ini, dikenal banyak orang.” ujarnya sambil tertawa.

Ditanya apa yang menarik dari Ilmu ekonomi, dengan ringan dia menjawab “Ilmu ekonomi ada dan akan selalu ada di setiapa hal bahkan yang paling sederhana dari kehidupan kita” jawab Dosen dari Universitas Muhamadiya Palembang ini. “tapi bukan berarti, orang orang ekonomi itu pelit, mereka cuma menerapkan sesuai dengan ilmunya, dan memang harus seperti itu” tambahnya

Bagaimana dengan urusan asmara, apakah istri yang dipilih sekarang juga berdasarkan nilai ekonomisnya?

“Tidak, Ilmu ekonomi tidak berlaku untuk kasus ini. Istri saya terpilih karena dia adalah wanita tercantik di Sumatera selatan” ujarnya terbahak.  (dinnaherly)





Meirina Aminus, muda dan bersahabat

3 11 2008

Ina, demikian rekan rekan memanggilnya. Wanita 30 an, berperwakan besar tinggi ini terlihat sangat cantik malam itu. Saat ia memenuhi undangan dalam Program Profil Minggu ini di Radio Trijaya, Jum’at 30 Oct 2008.

Wanita berdarah Padang ini tampak pendiam, menjawab pertanyaan yang dilontarkan seperlunya tanpa berniat untuk sedikit berpanjang lebar.

“ya.. sama seperti yang lainnya mb, gak ada yang istimewa, biasa biasa saja” jawabnya untuk setiap pertanyaan yang harusnya memancing untuk bercerita.  Sesekali Nona ini melemparkan senyum malu malu ketika terlibat dalam guyonan lucu.

Meirina Aminus, adalah Manager Operasional dari Bank Syariah Mandiri Palembang. Lahir dan dibesarkan di Palembang, dengan pola didik yang agak sedikit militer. “Aturan waktu yang diterapkan oleh ayah, luar biasa, tapi so far, kami enjoy dengan semuanya. Kadang-kadang menggunakan ilmu kombinasi, bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain” ujarnya

Jebolan ilmu hukum ini, mengawali karirnya di dunia hukum, 6 bulan saja. Bosan dengan keadaan yang begitu begitu saja, beliau memutuskan pindah ke perbankan, Century Bank, di legal position. “satu tahun setengah saja, karena saat itu perusahaan harus ditutup, dan semua karyawan terpaksa harus keluar” jelasnya.

Bergabung di Bank Syariah Mandiri, sejak 6 tahun lebih kurang setelah sempat menjadi Marketing koordinator di sebuah lembaga pendidikan bahasa asing membuat wanita yang sangat tidak menyukai Ilmu biologi ini dapat mengenal lebih jauh ilmu dan seluk beluk dunia marketing.

“Marketing bagi saya sebenernya simple saja, It’s Networking. Kita bangun dan semua akan menjadi lebih mudah” katanya yakin.

Ilmu marketing memang tidak bisa dipisahkan dari kemampuan membangun networking. Dan inilah yang terlihat dari diri seorang Meirina Aminus. Buktinya, Hanum, keakraban tergambar ketika Hanum-teman satu kantornya, serta Kamil habibi-anggota KNPI Sumsel ikut bergabung dalam talkshow tersebut melalui telepon. (dinnaherly)





Devi Iskandar, Jenuh menjadi Area Manager..

21 09 2008

Untuk kota Palembang, khususnya dunia marketing, mungkin nama Devi Iskandar sudah tidak asing lagi. Pria 50an yang masih terlihat sangat muda ini menjabat sebagai Area Marketing Manager dari PT. Sampoerna, cab Palembang.

“itu dulu, satu bulan yang lalu, sekarang sudah enggak..” ujarnya sebelum kami memulai perbincangan dalam program profil minggu ini edisi Jum’at 19 September 2008. Begaya sporty, Devi Iskandar yang lebih suka disapa Kak Devi datang tepat pada waktu yang sudah dijanjikan.

“hari ini kita ngobrolin apa?” tanyanya antusias.

Selama satu jam biaography lelaki yang sudah 23 tahun mengabdi di PT.Sampoerna ini mengalir apa adanya. Mulai dari kisahnya yang tetap semangat pergi ke sekolah walaupun jarak yang di tempuh saat itu cukup jauh (kertapati – megahria, red) “Apalagi biasanya, setiapa jam 12 siang, jam saya pulang sekolah, jembatan Ampera itu diangkat ke atas, dan kami harus menunggu ber jam jam di atas jembatan, dibawah sengatan sinar matahari, baru kemudian berjalan kaki lagi menuju ke rumah” kenangnya.

Anak seorang pejuang yang bercita cita menjadi dokter, akhirnya malah terjebak dan menikmati dunia marketing. “ada yang menarik dari bidang ini, kita bisa memainkan strategi strategi yang kalau di teliti dan ditekuni akan membuat kita tidak ingin berhenti” tambahnya.

Kalau memang kenyataannya demikian, mengapa posisi tinggi di bidang marketing wilayah palembang untuk sebuah perusahaan besar malah ditinggalkan?

“Jenuh ya, saya ini pemain lama, dan marketing menjadi seperti itu itu saja di mata saya, apa lagi usia saya yang sudah tidak muda, cukuplah” ujarnya yakin.

Pensiun Dini, keputusan yang diambil dengan sangat mantap oleh Bp tiga anak ini walaupun ditentang oleh banyak kalangan. Lalu, selanjutnya apa yang seorang Devi akan lakukan?

“Menekuni kembali dunia politik yang pernah saya cicip ketika kuliah” jawabnya. Namun Devi Iskandar, tetap seorang marketing, tapi kali ini yang dijual adalah visi dan misi.

“dengan niat yang tulus, saya ingin yang terbaik untuk rakyat” Ujar Caleg Dapil Kertapati dan SU I ini. (dinnaherly)