AMIN ABDULLAH AND FRIEND PASTIKAN HADIR PADA EVENT 7th RIAU HITAM – PUTIH WORLDMUSIC FESTIVAL 2009

27 06 2009

Amin Abdullah and friend pastikan diri untuk hadir pada event 7th RIAU HITAM – PUTIH WORLDMUSIC FESTIVAL 2009 yang akan digelar pada tanggal 23 – 25 Juli 2009 mendatang. Amin yang datang bersama beberapa orang musisi asal Kota Palu ini, direncanakan akan berkolaborasi dengan musisi – musisi muda Riau yang tergabung dalam Urban Rhythm.
Ketika dikonfirmasi melalui telepon genggamnya, Amin yang saat itu sedang berada di Solo menyatakan antusiasnya dalam mengikuti event worldmusik yang di taja Malay Music Institute ini. Amin juga menyatakan kesediaan untuk menjadi pembicara pada seminar worldmusic talk series (salah satu kegiatan pendukung, red) dan akan membicarakan tentang perkembangan Melayu di Nusantara. Menurut Amin, Melayu tidak saja berada di Sumatera namun juga ada di Sulawasi. Ini dibuktikan dengan adanya alat musik gong atau sejenis di Sulawesi.
Selain Amin Abdullah, beberapa grup yang telah menyatakan kesediaannya untuk berpartisipasi sebagai peserta antara lain, Songkhla Rajabhat University, Thailand Selatan, TENGKU RYO & THE MALAY BAND – Jakarta, Dendang Anak – Terengganu Malaysia, Topa – Tenggarong, Mahagenta – Jakarta, ZOMBE ETNICA – Aceh, BMC – Kepri, Riau Rhythm Chamber Indonesia – Pekanbaru, Fantasia Merideño – Venezuela, Barricada Sur – Mexico dan lainnya.
Sementara itu, Malay Music Institute sebagai pelaksana kegiatan, saat ini telah mengantongi rekomendasi izin kegiatan dari Kepolisian Republik Indonesia Daerah Riau dan dalam waktu dekat akan mengurus Izin pelaksanaan kegiatan di MABES POLRI demikian yang diungkapkan oleh saudara Nofriwisyah, Sekretaris Malay Music Institute saat ditemui di ruangannya.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Malay Music Institute (MMI) Jln. Jend. Sudirman Komp. Taman Budaya Riau Pekanbaru – Riau Tlp. 0761 7016227 /sdr. Hari 0761 7710719 (Eko Adji)





MEMPREDIKSIKAN MUSIK MASA DEPAN

27 06 2009

MEMPREDIKSIKAN MUSIK MASA DEPAN
Oleh: Amin Abdullah
Disampaikan pada
Festival Riau Hitam Putih – Malay Music Institute 2009

Saya memahami tema “new music for the next tradition” ini dengan futorologi atau ilmu memprediksikan masa yang akan datang. Ilmu ini sudah mulai berkembang di negara – negara maju dengan mengamati apa yang terjadi pada masa lalu dan masa kini untuk melihat masa yang akan datang. Olehnya, makalah ini mencoba melihat musik baru untuk tradisi yang akan datang dengan perspektif linear .

DEFENISI
Musik baru atau ada istilah lain lagi “musik kreasi baru” adalah nama yang aman untuk menyebut musik yang diciptakan saat ini. Istilah ini digunakan sebagai alternatif pengganti kata musik kontemporer atau musik modern yang cukup hangat permasalahannya ketika digunakan di Indonesia. Hal ini disebabkan dii Indonesia masih sering mempertentangkan antara tradisi dan modern. Seolah-olah, istilah itu berlaku tetap pada sesuatu.

Padahal, identifikasi tradisi atau modern terhadap sesuatu terbatas pada ruang dan waktu serta tidak tetap. Terbatas pada ruang, karena apa yang disebut tradisi pada sebuah wilayah, dapat dianggap sebuah hal yang baru pada wilayah lain. Misalnya, tradisi musik Barat dengan segala unsurnya yang telah berlangsung ratusan tahun di Eropa, dianggap hal baru dan modern di sebagian wilayah Indonesia. Terbatas pada waktu, karena apa yang dianggap tradisi hari ini, dulunya adalah sesuatu yang baru dan kontemporer. Keroncong misalnya, dulunya dianggap sesuatu yang trend. Namun, saat ini dianggap tradisi yang harus diselamatkan.

Olehnya, persoalan musik tradisi dan modern, baru dan lama selayaknya dipahami secara bijak dengan memperhatikan konteks penggunaannya pada sebuah musik. Yang lebih penting dari itu adalah bagaimana berusaha menyelami tradisi dengan hidup didalamnya dengan menghidupinya.

Ada dua point pemikiran yang coba diuraikan dalam makalah ini. Pertama, musik baru untuk tradisi yang akan datang adalah sebagai lanjutan masa lalu dan masa kini. Kedua, musik baru untuk tradisi yang akan datang mempunyai muatan yang tidak tunggal.

LANJUTAN MASA LALU DAN MASA KINI
Musik baru untuk tradisi yang akan datang tidak turun dari langit atau tidak terpenggal dan berdiri sendiri, lepas dari sejarah dan konteks yang melatarbelakanginya. Dia adalah sebuah proses dalam memaknai tradisi dan pengembangan selanjutnya diujung tradisi tersebut.

Dengan menyepakati tradisi sebagai sumber penciptaan seni, maka yang penting sekali dilakukan oleh tradisi yang akan datang untuk membuat musik-musik baru adalah kajian teks dan konteks yang seutuh mungkin terhadap tradisi tersebut. Olehnya, pendidikan kemudian menjadi salah satu kunci untuk calon-calon penggarap musik baru. Pendidikan yang dimaksud adalah bukan hanya pendidikan formal di instititusi pendidikan kesenian, namun juga pendidikan non-formal seperti workshop, belajar dari masyarakat tradisi dengan melakukan survey, berusaha menyelami dan hidup dalam tradisi, serta banyak menonton pertunjukan – pertunjukan lain sebagai bahan banding.

Menjadikan tradisi sebagai sumber penciptaan seni, akan menghasilkan warna karya yang beragam. Karena pengalaman dan cara pandang setiap individu berbeda – beda. Olehnya musik baru di masa yang akan datang semakin bervariasi dan kemungkinan besar semakin bergeser dari karya kolektif menuju konsep karya yang mementingkan kemandirian individu .

Karya – Karya multi media akan semakin marak kedapan. Karya multi media yang dimaksud adalah karya yang tidak mengkotak-kotakkan seni dalam ruang-ruang yang ketat seperti musik, tari, teater, senirupa, fotografi, film dll. Munculnya istilah dance-theater, music-theatre adalah contoh gejalanya. Hal ini juga ditunjang oleh seni pertunjukan tradisi kita yang bila kita amati tidak dapat dipisahkan yang mana musik, tari dsb.

Tehnologi masa depan akan semakin memudahkan penggarap berkarya, membuat karya lebih kaya alternatif dan meminimalisir anggaran pembuatan karya dan pementasan. Sehingga memungkinkan seorang komposer dapat pergi ke berbagai festival hanya seorang diri dengan peralatan yang canggih.

BERMUATAN BANYAK
Musik baru untuk tradisi yang akan datang tidak bermuatan tunggal, namun jamak. Dalam sebuah karya, dapat saja penekanannya pada salah satu muatan, namun tetap muatannya tidak sendiri.

Sejalan dengan isu identitas yang diperkirakan semakin marak pada abad 21 ini, maka karya – karya musik akan tetap mengusung identitas siapa dan dari mana seorang komposer berasal. Muatan identitas etnik / budaya sang penggarap tetap muncul dengan intensitas yang bervariasi.

Bahkan , yang akan sangat menarik adalah bila latar belakang sang penggarap yang berasal dari perkawinan silang antar etnik, misalnya Kaili di Sulawesi Tengah dan suku Melayu di Sumatra. Juga komponis yang mengalami phisical mobility (perpindahan secara fisik) dari satu tempat ke tempat lain, misalnya komponis dari etnik Madura yang tinggal lama di Solo.

Olehnya, karya baru tetap diperkirakan akan mempunyai muatan pendidikan kebudayaan. Hal ini disebabkan penontonnya dari komunitas yang sama akan tetap berusaha mengidentifikasi dirinya dalam karya tersebut, dan mencoba memahami kekontemporeran dalam karya. Penonton diluar komunitas tersebut akan mengidentifikasi sang komposer dan mencoba memahami konteks dan isu yang dibawa oleh sang komposer.

Musik baru juga akan diwarnai ekspresi aktual dari penggarap. Pendapatnya, reeaksinya pada masalah dilingkungan dia tinggal atau terhadap masalah ideologi, politik, ekonomi dan sosial budaya Indonesia saat ini akan menjadi sasaran kritik seniman dalam karyanya.

Sejalan dengan isu baru yakni ekonomi kreatif dimana kebudayaan diharapkan menjadi “mata uang baru”, karya – karya musik baru semakin banyak yang akan memperhitungkan muatan ekonomi. Penggarap akan menjadi seorang wirausahawan, enterpreneur, yang berkarya dan membuat CD / VCD untuk dipasarkan secara independen. Jaringan kerja skala lokal, regional, nasional dan internasional akan semakin terbangun untuk memasarkan karya baik berupa pertunjukan langsung maupun CD / VCD.

Fungsi seni pertunjukan sebagai hiburan akan tetap ada. Seberapa besar prosentasi unsur hiburan tersebut, sangat tergantung dari mazhab yang dianut oleh penggarap.

KESIMPULAN
Pendidikan dan sponsor (maecenas) tetap menjadi penting dan menentukan gaya, corak, mutu musik baru pada tradisi yang akan datang. Pendidikan yang memaknai tradisi, hidup dalam tradisi, menghidupi tradisi dan tetap menjadikannya sebagai sumber penciptaan seni akan membuat tradisi tidak stagnan atau bahkan mati.

Negosiasi antara independensi seniman dan sponsor dalam hal ini pemerintah atau maecenas swasta juga akan mempengaruhi karya. Ruang berekspresi seperti forum, festival, pergelaran dengan kuratorial yang beragam tetap menjadi laboratorium sekaligus etalase pencapaian artisitik penggarapan musik.

Akhirnya, musik baru Indonesia akan semakin kaya karena dua hal. Pertama, munculnya penggarap – penggarap dari berbagai wilayah Indonesia dengan warna yang beragam. Kedua, legitimasi eksistensi karya beserta penggarapnya tidak hanya terpusat pada satu wilayah, satu school of thought, satu gaya dan satu aliran tertentu.





RIAU HITAM – PUTIH WORLD MUSIC FESTIVAL

27 06 2009

World Music – punca karya kreatif pemusik populer yang mengkolaborasikan keragaman musik – musik, merupakan ciri utama pada kegiatan RIAU HITAM – PUTIH WORLD MUSIC FESTIVAL. Pengkolaborasian musik modern dengan musik tradisi tempatan, menjadi tujuan penampilan. Pada akhirnya akan melahirkan para musisi muda dengan musik yang berciri kental kedaerahan serta mempunyai daya kompetitif dan akan membawa warna tersendiri sebagai kekuatan diri. Event ini adalah event musik yang bersifat sosial budaya yang bertujuan guna :

1.1. Menumbuhkembangkan minat dan bakat para pecinta/insan seni musik dalam memahami tentang arti pentingnya melestarikan budaya khususnya musik tradisi dan membuka wawasan terhadap musik kekinian.

1.2. Terjadinya dialog antara musik tradisi dan musik modern yang dipertemukan dalam kolaborasi yang tercipta dari daya kreativitas peserta sehingga akan meningkatkan daya appresiasi bagi penonton dan peserta lainnya.

1.3. Adanya hiburan bagi masyarakat yang mempunyai nilai edukasi dalam mempertahankan musik tradisi untuk tetap eksis, sehingga pada saatnya nanti diharap Riau akan menjadi pusat perkembangan musik Melayu Dunia. (Eko Adji)





JAVA JAZZ 2009 “It’s Not Simply A Festival,It’s A Lifestyle”

8 03 2009

JAVA JAZZ HARI KE-3
img_3580

Hari ke-3 atau hari terakhir Java Jazz, Minggu 8 Maret 2009 dimulai tepat pada pukul 14.00 dengan menampilkan 3 grup dalam waktu bersamaan yaitu “Bayu+Tesla” dari KlabJazz komunitas jazz Bandung,”Jacket Potato” dan satunya berupa Music Clinic bersama “Veronica Nunn”.Sehabis Music Clinic Veronica Nunn juga tampil di stage assembly 3.Publik musik di Jakarta sebetulnya cukup mengenal penyanyi yang satu ini, karena sebelumnya sempat tampil bersama Michael Franks beberapa waktu lalu konser di Indonesia.Veronica Nunn sendiri telah merilis 2 album “American Lullaby” dan “Standard Delivery”,penampilannya di Java Jazz 2009 menjadi promo juga dari album barunya yang nanti akan beredar yaitu Tribute To Michael Franks selain juga proyek album rekaman jazz Brazil yang seluruh lagunya berbahasa Portugal.Penampilan lewat karakter vocal serta teknik improvisasi dalam scat singing menjadi kekuatan Veronica yang banyak mendapat decak kagum penonton.
Di stage Cendrawasih 3 yang diberi label World Music tampil grup “Gamelan Shockbreaker” penampilan grup yang anggotanya merupakan kolaborasi antara pemain flute Norwegia Patrick Shaw Iversen dan Ismet Ruchimat yang membawahi 10 pemain gamelan dari orkestra Samba Sunda,serta vokalis muda Rita Tila dan Euis Komariah menyajikan konsep paduan tradisional musik sunda dan electric sound dengan kemasan yang unik melewati batas sekat-sekat jenis musik dengan influence pada jazz.Selain itu juga tampil “Tropical Transit” dari Bali,”Parov Stelar (Austria), dan 2 grup dari India “Moon Arra” yang tampil dengan konsep paduan jazz dan musik tradisional hindu sehingga disebut dengan Jazz meets Hindustani satunya lagi “Something Relevant” tepatnya dari Mumbai grup ini asalnya,dan banyak bikin penonton enjoy serta goyang dengan irama dan aksi panggung yang nyeleneh mulai dari musik ska,fusion serta ragam corak musik lainnya dimainkannya.

img_3549

Musisi jazz Jepang kali ini yang tampil dan banyak ditunggu di Java Jazz 2009 adalah Isao Suzuki, tampil selama 1 jam, musisi jazz legendaris dari Jepang ini mendapat appreciate dari penonton.Isao Suzuki yang memainkan bass sangat peduli pada perkembangan jazz di negaranya,dia mendirikan komunitas jazz “Loft 6” penampilannya dengan membawa personil talenta-talenta musisi jazz muda Jepang memberi warna tersendiri di benak para penonton.
Di stage lain kelompok ‘Slank” tampil cukup unik di Java Jazz mereka membawakan komposisinya dengan cenderung ke sentuhan warna blues.Setelah itu di Plenary Hall tampil “Peabo Bryson”, pecintanya terpuaskan karena dapat melihat dan bernyanyi bersama Peabo dengan lagu-lagu hitnya yang sudah akrab seperti ‘Can You Stop The Rain’,’If Ever You’re my Arms Again juga ‘Beauty and The Beast’.

img_3586

Hari ke-3 Java Jazz ada 2 special show yang pertama adalah tampilnya ‘Brian McKnight’, penyanyi yang satu ini sebetulnya multitalenta karena juga seorang penulis lagu,penata musik,produser bahkan mampu memainkan beragam alat musik.Special dengan lagu-lagu hits romantis membuat penonton Java Jazz terbius bersama pasangannya masing-masing seperti saat lagu ‘One Last Cry’ yang special tentu adalah vocal latar pengiringnya saat Brian McKnight tampil adalah anak kandungnya sendiri.Special show ke-2 menampilkan dou asal Britania yang akrab dengan lagunya ‘Breakout’ yaitu “Swing Out Sister”.Di Java Jazz mereka tampil dengan format akustik, Corrinne Drewery dan Andy Cornell 2 personil dari Swing Out Sister ini tampil dengan beberapa lagu dari albumnya tahun 2008 ‘Beautiful Mess’

img_3599

Yang sangat ditunggu penampilannya tentu adalah “Roy Ayers” musisi jazz yang sudah berkiprah sejak tahun 60-an ini pernah gabung dengan Herbie Mann sebelum tahun 1970 membentuk Roy Ayers Ubiquity dan tahun 1990 pernah kerjasama dengan Guru dan Donald Byrd membentuk album Jazzmatazz.Penampilan Roy Ayers di Java Jazz sangat menghibur dengan ramuan musik R&B, Jazz Rock,Funk dikenal dengan konsep straight ahead jazz, aksi panggung dalam memainkan Vibraphone-nya dengan teknik improvisasinya pantas kita sepakat bahwa Roy Ayers-lah peletak batu pertama dari apa yang namanya Acid Jazz.

img_3613

Selama 3 hari sendiri penonton mencapai 70 ribuan ,pesta jazz benar-benar teraplikasi di Java Jazz 2009 ini selain tentunya tema pelestarian lingkungan yang dinamakan ‘We Do Green’ dan ‘Bike To Java Jazz Festival’.Ya Java Jazz telah mendunia dan menjadi life style bagian gaya hidup semua kalangan usia “ It’s not simply a festival, it’s a lifestyle “ .(Eko Adji)





Arumba Udjo “Angklung Rasa Jazz”

7 03 2009

JAVA JAZZ HARI KE-2
img_3485

Java Jazz 2009 hari ke-2 Sabtu 7 Maret ,pintu masuk sudah dibuka mulai pukul 14.00 dimana di Terrace Stage & VIP Parking Area penonton sebelum masuk gedung utama JCC sudah disuguhi dengan penampilan dari “Apple Pine” kelompok yang berasal dari Klab Jazz sebuah komunitas jazz di Bandung.Selanjutnya pada waktu yang bersamaan di Masima dan Lobby Stage 1 tampil “Endah & Resha bersama Animo” dari Bali serta “JDS”
Perhatian penonton sempat terfokus di hari ke-2 di Food Area,karena disini tampil sebuah kelompok asal Amerika yaitu “Student Loan” band ini membawakan beberapa komposisi beraliran bluegrass/newgrass non elektrik.Grup ini terdiri dari Chad Kimbler (mandolin/vocal),Liz Chibucos (gitar/biola/vocal),Mark Gerolami (banjo/gitar/vocal) dan Julio Appling (bas/vocal) kedatangan mereka di Java Jazz ternyata sebagai bagian dari keterlibatannya dalam US State Department and Jazz.

img_3506

Pada puku 17.00 penonton banyak terpusat di pertunjukkan “Harvey Mason Quartet” drummer yang terkenal ini sering mengiringi James Brown,Herbie Hancock,Sergio Mendes hingga London Symphony Orchestra.Publik pecinta jazz Indonesia lebih banyak mengenalnya sebagai drummer grup Fourplay.Penampilan mereka sangat impresif terutama saat masing-masing personil menunjukkan kemampuannya dalam solo alat-alat musik yang dimainkannya.
Yang menarik tentu penampilan “Kamal Musallam” permainan gitarnya paduan gaya George Benson,Al Dimeola serta pengaruh Rahabani dan Farid al Atrach.Sebagai orang Timur Tengah, Kamal Musallam ternyata lama mendalami ilmu musiknya di Eropa yaitu Perancis.Penampilan Kamal di Java Jazz didukung oleh Rony Afif dan Elie Afif dari Lebanon,Mounir Troudi dan Nawefel Manaa dari Tunisia dan Dan Trummell asal Amerika.
Dengan konsep world music Kamal memadukan irama timur tengah atau lagu tradisional Arab dengan sentuhan jazz sehingga terasa unik sajian musiknya.
Hari ke-2 Java Jazz pecinta jazz terlihat sejak awal sudah memenuhi stage di Exhibition Hall B dimana tampil kelompok yang punya banyak penggemar di Indonesia, mereka adalah “Chieli Minucci & Special EFX” ,Chieli sendiri dikenal luas juga sebagai composer lagu-lagu televisi,termasuk program yang familiar di Indonesia yaitu Dora The Explorer.Dengan kelompoknya Special EFX membius dan memuaskan dahaga jazz lover yang suka dengan konsep fusion dan jazzrock karena komposisi itulah yang dominan dibawakan.

img_3452

Special show hari ke-2 menampilkan kembali “Jason Mraz” yang tetap saja mampu memukau para anak muda yang mendominasi Plenary Hall.Sedang special show lainnya ada “Laura Fygi”.Penyanyi yang banyak sekali pecintanya di Indonesia ini memang termasuk produktif dalam merilis album,Album ke-11 nya ‘Rendez-Vous’ masih menonjolkan daya pikat dari karakter suaranya.Dan Laura Fygi menunjukkan itu dalam perfomance-nya
Dengan basic vokalis klasik dan pernah gabung dengan grup paling terkenal di Belanda Centerfold menjadi kekuatan tersendiri dalam setiap olah vocal penghayatan dan improvisasi dari setiap lagu yang dibawakannya yang lebih tertuju pada lagu-lagu standart dari Great American Songbook yang khas kadang dibawakan dalam bahasa ibunya,Perancis.Penonton banyak memberi applaus setiap kali Laura menyanyikan lagunya dengan suara empuk dan bening menyejukkan hati.

img_3516

Salah satu artis soul yang ditunggu penampilan di hari ke-2 adalah “Oleta Adams” yang tampil di assembly 3 stage.Dibesarkan dengan musik gospel.Oleta Adams menunjukkan kepiawaiannya di public Java Jazz sebagai penyanyi berkelas untuk jenis gospel,soul,R & B serta Jazz.Ruangan penuh sesak,karena memang baru pertama kali inilah Oleta datang ke Indonesia,terlihat beberapa penonton ikut bernyanyi hafal dengan lirik-lirik lagunya.

img_3475

Dari sisi jumlah penonton hari ke-2 Java Jazz dipadati hampir 30 ribu penonton.Dan Fokus untuk musisi dalam negeri layak diberikan kepada sebuah kelompok yang berasal dari Jawa Barat yaitu “Arumba Udjo” karena grup ini mengusung musik dan sound yang unik yaitu memadukan alat-alat khas sunda angklung,kendang,suling dengan elektrik sound dengan membawakan komposisi jazz yang sangat menarik dan mereka mampu berkomunikasi dengan penonton ditengah-tengah lagu membuat joke-joke segar.Masing-masing individu dari personil Arumba Udjo memang mempunyai skill yang menawan dalam memainkan angklung dalam konsep jazz.Dan yang menarik sebagai quest mereka dibantu “Candil” vokalis yang punya karakter suara ngerock, dan membuat semakin kaya warna dalam kolaborasi musik tradisional,jazz dan vocal rock yang kental.(Eko Adji)





Brazillian Jazz Mendominasi

6 03 2009

JAVA JAZZ HARI KE-1
img_3361
Event akbar Java Jazz 2009 kembali digelar di JCC-Jakarta Convention Center mulai 6-8 Maret 2009 ini.Tahun ini Java Jazz memasuki usia yang ke-5 dengan mengusung tema “Bringing the World to Indonesia”.Hal ini dibuktikan dengan banyaknya musisi dari manca yang tampil seperti dari Amerika Serikat, Jepang, Mexico, Austria, Chili, Uni Emirat Arab, Belanda, India, Norwegia, Italia, Inggris, Jamaika dan Malaysia. Chairman PT Java Festival Production (JFP) Peter F Gontha mengatakan,biaya penyelenggaraan festival ini mencapai Rp 40–60 miliar.
”Meliputi banyak aspek, bukan hanya para penampil, tapi juga stan, merchandise, serta makanan,” kata Peter. Sementara menurut Koordinator Program Eki mengatakan bahwa Java Jazz 2009 akan menghadirkan 19 panggung yang tersebar di seluruh kompleks JCC dengan total 210 pertunjukan (setiap harinya ada 70 show). ”Jumlah ini jelas lebih besar dari tahun lalu yang hanya 188 show, begitu juga soal penampil lebih beragam” lanjut Eki.
Java Jazz 2009 kali ini menampilkan 2.500 performer dalam rentang tiga hari,terbagi dalam 900 musikus internasional serta 1.600 musikus lokal.
Yang menarik, tahun ini Java Jazz seperti tahun sebelumnya juga ada program ramah lingkungan. Selain partisipasi sponsor seperti Go Green dan Medco Energi, juga ada beberapa program Bike to Java Jazz Festival sebagai wujud kepedulian terhadap pengurangan polusi.

img_3424
Hari pertama Java Jazz pintu utama pertunjukkan sudah mulai dibuka pada pukul 15.00 dan ada 19 panggung/stage dan menampilkan sekitar 60 pertunjukkan.Ada 2 Special Show hari pertama Java Jazz yakni JASON MRAZ, luar biasa respon penonton terhadap penampilannya.Jason mampu mengajak audience untuk bernyanyi dan bergoyang mengikuti irama komposisi lagu-lagu yang dibawakannya, seperti misalnya pada lagu first single yang juga dinyanyikannya yang berjudul ”I’m Yours”.Aksi panggung Jason mampu membuat histeria penonton yang didominasi anak muda.Konsep musik Jason Mraz sendiri sebenarnya lebih cenderung paduan antara pop,dance,fusion dan acid/nujazz. Sedangkan spesial show ke-2 menampilkan ’DIANNE REEVES’ penyanyi yang lewat albumnya ’The Calling’ memenangkan grammy award ini tampil sangat impresif di hadapan para penonton yang sudah merindukan untuk melihat kemampuan improvisasi vokalnya.Karena publik jazz Indonesia sangat mengenalnya terutama suara dan lagunya yang menjadi Theme Song di Film serial HBO yang terkenal ’Sex and The City’.Penonton banyak memberikan applause saat Dianne menyanyikan beberapa lagu dengan improvisasinya terutama pada nada-nada oktaf yang tinggi, selain dia mampu mengajak audience untuk berinteraksi dengan-nya.

img_34091
Sementara itu para pecinta jazz sejati banyak terfokus perhatiannya melihat penampilan ELIANE ELIAS pianis dan vokalis asal brasil yang tahun lalu merilis album yang kental dengan nuansa gaya bossa nova yang berjudul ’Bossa Nova Stories’ tampil sangat memikat di Java Jazz 2009 ini.Beberapa lagu khas brasil dibawakannya seperti ’Samba’.Permainan jari jemari di tuts tuts piano dengan scat singing-nya mampu membuat decak kagum penonton.

img_3368
Artis lain yang banyak mendapat perhatian dan ditonton adalah saat MATT BIANCO tampil di Plenary Hall.Mungkin ini bisa jadi menghapus kekecewaan dan kerinduan pecintanya, karena kita tahu sebetulnya Matt Bianco sudah dijadwalkan tampil di Java Jazz tahun lalu tapi batal tampil, dan akhirnya di Java Jazz 2009 inilah penonton terpuaskan dengan dapat menikmati secara langsung perfomance Matt Bianco yang malam itu tampil dengan beberapa lagu yang sudah akrab di telinga publik jazz Indonesia,meramu paduan musik ska,jazz dan soul mampu membuat penonton bergoyang dengan lagu-lagunya.

img_3457

Masih banyak artis musisi jazz yang tampil di hari pertama Java Jazz diantaranya Ivan Lins,New York Voices,Ron King Big Band,Mike Stern,Ledisi,Alex Ligertwood serta musisi Indonesia seperti Balawan,Dewa Budjana,Dwiki Dharmawan Global harmony Orchestra dll.Semua menampilkan apresiasi musikalitasnya secara optimal sehingga pesta jazz benar-benar terwujud, selain juga terjadi interaksi dari musisi yang terlibat dan tampil tentunya ini menjadi semakin menambah berkembangnya potensi musisi-musisi jazz lokal dari Indonesia sendiri.
Penonton di hari pertama mencapai lebih dari 20 ribu orang dan banyak juga diantaranya turis-turis asing dari luar negeri.Pesta Jazz di Indonesia memang sudah dimulai kiranya mulai malam ini hingga 2 hari berikutnya di Java Jazz 2009.(Eko Adji)





Indonesian Big Band tribute to Ismail Marzuki

22 01 2009

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menghormati dan mengenang jasa jasa pendahulu yang sudah banyak menorehkan kebanggaan untuk kita sebagai bangsa Indonesia. Dan ini bentuk apresiasi yang dilakukan oleh para musisi musisi jazz Indonesia yang tertuang dalam bentuk konser musik bertajuk Indonesian Big Band tribute to Ismail Marzuki.

Dihubungi Trijaya melalui telp, dalam program Jazz On Trijaya edisi Minggu 17 January 2008, Tohpati selaku ketua pelaksana dri event ini mengatakan bahwa Indonesian Big Band tribute to Ismail Marzuki di adalakan sebagai wujud penghargaan atas jasa beliau, memotivasi bangsa melalui lagu lagu perjuangan.

“di event ini kita melibatkan musisi musisi jazz muda, andien,Baim, Rieka Roslan, Rio Febrian, Kris Biantoro dan Gatot Soenjoto serta akan digelar pada hari Jumat tanggal 23 Januari 2009 mendatang. Bertempat di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI), Jl. HR. Rasuna Said Kuningan, Jakarta Selatan” ujar tohpati.

Sementara untuk anda yang berminat menyaksikan pertunjukan ini, tiket masuk yang harus anda beli seharga Rp. 300.000,-/orang (termasuk FREE cocktail) dan mulai dapat dipesan via WartaJazz Ticket Box di nomor telepon 021-8310769 atau email ke sales@wartajazz.net.

“ini adalah pertunjukan yang sayang kalau dilewatkan, seperti yang kita tahu Ismail Marzuki memiliki banyak lagu yang hampir semuanya perjuangan dan dikenal oleh semua orang, lagu lagu ini lah yang akan dibawakan oleh musisi musisi jazz ternama Indonesia, dengan aransement musik yang lebih modern” tambah tohpati.

Nah, tertarik? (dinnaherly)





Rieka Roeslan “Idealisme diantara 2 sisi”

15 01 2009

Jazz On Trijaya Edisi Minggu, 4 Januari 2009 Jam 19.00-21.00

Session pertama Jazz On Trijaya ngobrol dengan Rieka Roeslan.Tahun 2008 menurut Rieka , frekwensi pentas jazz makin marak tidak hanya di Jakarta, juga Semarang , Yogya dan daerah lain, mulai tumbuh penyanyi dan musisi-musisi muda berbakat. Walaupun mereka lebih cenderung memainkan popjazz. Dengan banyaknya sekolah musik, sisi musikalitas musisi juga semakin baik dari sisi teori musik.Tapi harafiah bahwa sisi alamiah feeling arti sebenarnya dari menghayati musik dengan berbicara secara alamiah,tentang apa yang harus dilakukan dipanggung dan diberikan kepada penonton, pemahaman itu untuk musisi muda masih agak kurang.Dari sisi industri rekaman, sebetulnya ada kemunduran dari mayor label terhadap rekaman-rekaman jazz.
Rieka selalu mengajak diadakan clinic music setiap kali dia pentas, agar ada pembelajaran dari sisi kualitas penciptaan lagu terutama dari sisi lirik-lirik lagunya.Industri musik sepertinya lebih cenderung dengan lirik-lirik yang tidak mendidik.Idealisme menurut Rieka konsep dari sebuah kehidupan.Sehingga sah-sah saja dia ada di 2 jalur sebagai musisi yang cenderung memainkan jazz, disisi lain sebagai pencipta lagu-lagu pop yang memang dipesan untuk penyanyi lain dan kepentingan market. Dan Rieka mengaku dia adalah pekerja musik yang tidak mengkotak-kotakan suatu jenis musik.Rieka Roslan mulai tahun 2005 pisah dengan The Groove dan lebih solo karier. Untuk album Triangle Of Life,cukup mendapat respon terlihat di facebook yang banyak memberikan respon. Albumnya bercerita tentang alam, rasa cinta terhadap Tuhan dan persahabatan. Album idealis tidak identik dengan sesuatu yang sulit,
tapi lebih menonjolkan ciri musisi/penyanyi yang bersangkutan, ya inilah gaya bermusik Rieka Roeslan yang sebetulnya lepas dari sekat-sekat corak musik apapun walaupun tidak bisa dipungkiri kelompok yang mengiringi Rieka yaitu Troubadors yang cenderung memang ke arah warna jazz dan world music.Rieka sendiri mengaku banyak menciptakan lagu dengan lirik-lirik yang bertutur sebuah cerita.Rieka berharap musisi jazz bisa mengeksplore kemampuan musikalitasnya dan terbuka dengan influence genre musik lain.
Dari sudut pandang sebuah komunitas . Niman dari Klab Jazz Bandung yang sejauh ini cukup eksis dalam sosialisasi dan menggelar event rutin jazz di Bandung menjadi teman ngobrol di session ke-2. Dia sepakat bahwa sebetulnya komunitas jauh dari kesan komersil, karena komunitas adalah sekelompok orang yang berkumpul untuk mewujudkan sesuatu gagasan yang sama,kalau jazz ya berarti bagaimana jazz bisa survive mulai dari sosialisasi, mengenalkan jazz, memberi wadah kumpul,membuat pertemuan dan saling apresiasi musik sesama musisi dan tentu membuat event-event jazz.Tapi itu semua kembali tergantung kepada siapa orang-orang yang ada dibalik komunitas ini, karena pada perkembangannya bisa menjadi sebuah pengelolaan yang profit oriented. Contoh seperti Komunitas Jazz Kemayoran, yang sekarang kegiatan rutin kumpul dan main jazz yang tadinya sifatnya pendanaan gotong royong dari kas anggotanya sekarang sudah mulai beberapa sponsor mau melirik mensuport kegiatan tersebut.
Sementara itu Ajie Wartono dari Wartajazz.com yang berdomisili di Yogya berkomentar bahwa Tahun 2009 jazz akan semakin semarak tidak hanya terpusat di Jakarta. Untuk itu perlu dibentuk forum komunitas antar daerah yaitu komunikasi antar komunitas di tiap kota di Indonesia dengan intens sehingga nantinya akan lebih punya kekuatan dalam saling sinergi dalam membuat event ataupun saling tukar informasi dan lainnya terkait dengan pengembangan jazz di masing-masing kotanya. (Eko Adji)





Devian Freedom Of Dream

4 01 2009

Jazz On Trijaya Edisi Minggu, 28 Desember 2008 jam 19.00-21.00

Perkembangan musik jazz di Palembang semakin baik, terutama banyak muncul player atau musisi muda Palembang yg mempunyai skill bermusik bermain jazz dengan baik.Dibanding era 80 an yang mana waktu itu di Palembang masih sangat terbatas musisi Palembang yang bermain jazz dan itupun hanya dimainkan di pub-pub pada waktu itu.”Memang tidak bisa disangkal sosok Om Erchink sebagai musisi jazz senior-lah yang banyak mempengaruhi musisi lain untuk mulai suka memainkan jazz” itulah pengakuan Bung Eko musisi lokal Palembang seorang pemain gitar yang diajak ngobrol di session pertama Jazz On Trijaya.Bung Eko sendiri mulai tertarik pada jazz sekitar tahun 90-an saat diajak bergabung bermain bersama grupnya Om Erchink sebagai pemain gitar.Dan profesi musisi sebagai pemain gitar memang menjadi pilihan profesi Bung Eko hingga sekarang.Selama ini sendiri Bung Eko bergabung sebagai band tetap di Pusri Palembang yang sebetulnya menganut format musik allround selain bermain jazz bersama Erchink band.Menurut Bung Eko musik jazz mempunyai daya magis dan itu membuat dia menjadi kecanduan untuk selalu mendengar dan memainkan jazz.Permainan gitar Bung Eko sendiri banyak mendapat masukan dari gitaris macam Donny Suhendra,Dewa Budjana tapi yang paling banyak memberikan influence adalah gaya permainan gitar dari Mus Mujiono, dan lebih cenderung suka dengan warna sound gitar yang natural dan sedikit ngerock.

Session ke-2 Jazz On Trijaya, ngobrol bersama pemain saxophone Devian Zikri yang sebetulnya sejak tahun 2002 sudah merilis solo album Spring Time.Pertama kali waktu usia 15 th sebetulnya Devian main gitar,dan baru di usia 21 th main saxophone.Kejadiannya waktu itu selagi masih main gitar sering bermasalah dengan amphly sound gitar.Hingga besoknya pergi ke Jamz kebetulan yg main Om Maryono lagi memainkan lagu Georgia My Mind dengan saxophonenya.Dari sinilah Devian mulai tertarik dengan saxophone, karena saxophone lebih personal dan besoknya langsung beli saxophone seharga 2,5 juta sekitar tahun 91-an. Pertama memang secara autodidak sebelum akhirnya serius belajar musik saxophone di Berkle of Music Amerika.Lulus dari Berkle kembali ke Indonesia dan memberikan banyak pemahaman baru bagi Devian tentang cara bermain musik ,interaksi dengan penonton dan musisi lain juga cara membangun emosi saat bermain musik selain manajemen musik.Sampai sekarang terus masih belajar saxophone dan diakui memang gaya main saxophone Devian lebih cenderung memainkan musik-musik bercorak fusion. Karena memang fusion menjadi salah satu musik favoritnya.Untuk album ke-2 “Freedom Of Dream” sendiri memang lebih banyak melibatkan penyanyi seperti Andine, Mawar, Nita Aartsen, kelihatanya Devian ingin melakukan pendekatan komersial, irama jazzy-pop ala kadarnya yang akrab dengan publik poplah yang ditampilkan, walau pada bagian ini Devian menunjukkan keterampilan mengisi tiupan saxophone secara mengalir sekaligus terasa sebuah kerjasama seimbang antara dirinya dan vokalisnya.Sedangkan di trek-trek instrumental, ternyata ada 2 bagian, karena disana Devian melakukan 2 pendekatan lagi dimana sisi satu menyajikan pendekatan pendengar kebanyakan, mengakibatkan pada bagian ini Devian kehilangan momentum dimana seharusnya Devian lebih bekerja keras untuk mendapatkan wilayah ini dengan aransemen yang lebih serius namun tetap popular seperti pada lagu-lagu Rendezvous, Ingin Kumiliki, Secret Passion.Tapi pada bagian trek instrumental lainnya, Devian lebih menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya, boleh dikatakan wilayah Smooth Jazz, Fusion Jazz mulai terwakili terutama pada lagu-lagu Ekspresi, Freedom of Dream, 126 Blues tentunya juga didukung musisi lain seperti Donny Suhendra (Guitar), Indro (bass) , Iwan Wiradz (percussion) , Glen Dauna (piano).Saat sekarang sendiri Devian masih juga sibuk terlibat membantu proyek rekaman album baru dari Sol Project. (Eko Adji)





SEJARAH SAXOPHONE EDISI – 2

27 12 2008

Pemain saxophone putih lainnya adalah Bud Freeman.Ia dilahirkan pada tahun 1906.Mula mula ia memainkan C melody saxophone,yaitu ketika temannya yang bernama Austin High membentuk New Orleans Rhythm King.Tahun 1925 ia pindah ke tenor saxophone,yang dimainkan hingga tahun 1970-an.Di antara rekamannya yang terkenal adalah “The Eel” yang diproduct pada tahun 1933.

Walaupun pada awalnya saxophone dimainkan oleh musisi putih pada umumnya,bukan berarti bahwa musisi hitam tidak ada yang memainkan alat tersebut pada saat sedini itu.Musisi hitam yang memainkan saxophone sejak awal,sebelum decade 20-an, antara lain Coleman Hawkins dan Lester Young.

Coleman Hawkins lahir di St.Josepth,Missouiri pada tahun 1904.Pada usia 5 tahun ia belajar piano,lalu cello dan pada umur 9 tahun ia belajar komposisi dan teori di Washburn College,Topeka.Tahun 1922 ia bergabung dengan Mamie Smith’s Jazz Hounds.Tahun 1934 ia melawat ke Eropa bersama June Cole dan Handerson sampai tahun 1939.Pada tahun 1939 itu di USA sedang muncul corak Body & Soul.

Coleman Hawkins membuat rekaman sebagai pembawa be bop pertama pada tahun 1944.Ia menggunakan musisi muda pada waktu itu,seperti Dizzy Gillespie (trumpet),Max Roach (drums),Leo Parker (sax) dan lainnya.Ia mulai banyak menggunakan chord daripada melody,sebagai basis dari improvisasi.

Hawkins telah membuat banyak sekali rekaman dengan berbagai musisi terkenal.Ia adalah seorang peminum berat.Ia meninggal dunia pada tahun 1969,karena livernya rusak akibat kebanyakan scotch whiskey.

Lester Young lahir di Woodville,Mississippi,tahun 1909.Tak lama kemudian keluarganya pindah ke New Orleans.Ayahnya bernama Billy Young,adalah seorang musisi yang bekerja untuk carnival atau show keliling dengan mendirikan tenda-tenda.Waktu itu Oliver dan Armstrong sedang jaya.Lester Young yang pada waktu itu masih kecil bersama abangnya,ikut ayahnya dalam show keliling.

Pada awalnya Lester Young belajar main drums,kemudian ia belajar saxophone.Mula-mula alto,lalu tenor,tapi kadang-kadang ia juga memainkan baritone dan clarinet.Ia mendapat pengaruh dari permainan Jimmy Dorsey dan Frankie Trumbauer.Ketika dia mulai belajar saxophone,ia membeli semua recording Trumbauer.Frankie Trumbauer memainkan C melody saxophone.Tapi Lester Young memainkan suara C melody saxophone itu dengan tenor.Ia menyenangi trumbauer dalam memainkan note yang terus menerus.

Lester Young berlatih secara mendasar.Ia kemudian mengikuti beberapa musisi terkenal seperti Bessie Smith,King Oliver,Handerson,John Hammond, dan lain lain.Pada tahun 1936 ia rekaman,dan pada tahun 1944 ia masuk milisi.Ia sangat berjasa terhadap rekaman-rekaman Billie Holliday seperti “This Year’s Kisses”, “I’ll Never Be The Same”, “If Dreams Come True” dan lainnya.

Juga dalam kerjasamanya dengan Benny Goodman Sextet dari tahun 1940 hingga tahun 1950-an.Banyak pemain saxophone yang meniru gaya permainannya,seperti Stan Getz,Wardell Gray,Paul Quinichette dan lain-lain, bahkan lebih baik dari Lester Young sendiri.Inilah problem yang dirasakannya.Dalam tahun 1959 ia jatuh sakit di sebuah Hotel di Paris.Ia kembali ke New York dan meninggal.(Eko Adji)