Inilah festival jazz yang mengusung konsep unik dibandingkan festival jazz yang sudah sering diadakan selama ini. Keunikan tersebut diantaranya adalah konsep acara yang betul-betul mendekatkan jazz ke level masyarakat yang paling bawah yaitu dengan digelar secara terbuka di Pasar Seni Gabusan Bantul Yogya dengan memadukan unsur jazz dengan para pekerja musik seni tradisional di kawasan Yogya.
Menurut Djaduk Ferianto penggagas Ngayogjazz, acara ini akan selalu terus diusahakan berlangsung setiap tahun dan gratis terbuka untuk siapa saja ikut terlibat baik dalam session clinic music maupun jam session dengan musisi-musisi jazz beken Indonesia dan Luar Negeri yang tampil di acara ini.
Hari pertama acara dimulai dengan adanya clinic music yang bertempat di Rumah Budaya Tembi yang letaknya tidak jauh dari pusat tempat acara Ngayogjazz. Rumah Budaya Tembi sendiri mempunyai konsep yg unik dengan back ground seperangkat alat gamelan serta bentuk ruangan joglo khas yogya, itu menjadi setting panggung yang diisi oleh seperangkat alat musik tempat para musisi memberikan clinic musik.
Acara clinic music dimulai jam 10.00 WIB dengan menampilkan seorang musisi jazz dari Austria yaitu Harri Stojka & Claudius Jelinek yang banyak memberikan pemahaman tentang bagaimana memainkan dan memahami musik jazz secara benar.
Session ke-2 clinic music menampilkan Albert Yap dari kelompok Bassgroove 100 asal Malaysia.

Mereka banyak menyampaikan materi tentang bagaimana membentuk grup/kelompok jazz dengan memberikan contoh permainan dari per item alat musik mulai dari bass,keyboard,drum,gitar hingga saxophone serta bagaimana itu semua dipadu dengan improvisasi vokalis dengan memberikan contoh beragam genre musik jazz itu sendiri dari mulai era ragtime,be boop,hard boop, swing, colol jazz hingga ke era electric jazz.
Session ke-3 clinic music, materi disampaikan oleh Dwiki Dharmawan pianis dari grup Krakatau.

Disini Dwiki mengambil setting cerita perjalanan karir musiknya dari mulai konsep awal Krakatau yang mulai lebih ke Jazzpop atau Jazzy kemudian ke fusion bahkan jazzrock hingga akhirnya bermetamorfosa menjadi Jazz Ethnic dengan mengkolaborasi paduan etnik sunda dengan elektrik jazz dengan memadukan unsur musik diatonis dan pentatonic bahkan hingga bagaimana konsep lagu-lagu sederhana dari daerah Aceh dan Flores dapat diaransemen menjadi sebuah komposisi orkestra dengan string ensemble dan warna jazz etniknya.
Sementara itu Ajie Wartono dari Wartajazz.Com selaku panitia acara mengatakan bahwa respon musisi-musisi muda untuk datang dan mendalami clinic music cukup bagus, terbukti dari jam 10 pagi hingga jam 5 sore acara selesai , para musisi semua dengan setia menyimak dengan serius , bahkan beberapa orang ikut terlibat dengan memainkan alat musiknya seperti pemain piano berbakat dari Yogya Andi Gomez.(Eko Adji)
NGAYOGJAZZ 2009 ( HARI KE-1 )
20 11 2009Komentar : Leave a Comment »
Kategori : Ngayogjazz
LIVE REPORT NGAYOGJAZZ
19 11 2009PANDUAN LIVE REPORT
NGAYOGJAZZ 2009
PASAR SENI GABUSAN BANTUL YOGJAKARTA
DENGARKAN LANGSUNG DI TRIJAYA 87.6 FM PALEMBANG ATAU VIA STREAMING http://69.73.140.13:8444/listen.pls
SCHEDULE LIVE REPORT
JUMAT = 18.15 ; 19.15 ; 20.15 ; 21.15
SABTU = 18.15 ; 19.15 ; 20.15 ; 21.15
RUNDOWN LAGU YANG DIPUTAR
JUMAT / 20 NOVEMBER 2009
18.15 : Tari Senggol – SILIR
19.15 : Cough – ABG
20.15 : Autumn Leaves – SYAHARANI
21.15 : Satu Yang Pasti – BEBEN JAZZ
SABTU / 21 NOVEMBER 2009
18.15 : Jangan Pura Pura – SILIR
19.15 : Gambir – ABG
20.15 : O La La – SYAHARANI
21.15 : Early Mornin’ – DEWA BUDJANA
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : Ngayogjazz
JAZZ ON TRIJAYA 87.6 FM PALEMBANG
14 11 2009JAZZ ON TRIJAYA 87.6 FM PALEMBANG
Streaming : http://69.73.140.13:8444/listen.pls
Program ini mengudara setiap minggu jam 19.00-21.00 di Radio Trijaya 87.6 FM Palembang dengan selalu memunculkan interview dengan musisi-musisi jazz papan atas Indonesia serta dialog dengan Palembang Jazz Community serta dengan beberapa crew wartajazz.com untuk mengetahui kabar terkini perkembangan dan kegiatan jazz baik di Indonesia maupun International.
Berikut beberapa catatan musisi-musisi jazz dan nara sumber yang on air di acara Jazz On Trijaya :
MINGGU 8 NOVEMBER 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “ARIEF SETIADI” about album philosophy & “IVAN NESTORMAN ” from nera & “DJADUK FERIANTO” & “AJIE WARTONO” about ngayogjazz
MINGGU 1 NOVEMBER 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “DONNY SUHENDRA” about new album Java Jazz & “DEMAS” from KulKul & “CITTA” about Jazz Goes To Campus
MINGGU 25 OKTOBER 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “BINTANG INDRIANTO” about new album Me and Cort Basses & “DEVI” Salamander Big band & “AGUS SETIAWAN BASUNI” WARTAJAZZ.COM
MINGGU 18 OKTOBER 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “GILANG RAMADHAN” & “ANDIEN” & “AGUS SETIAWAN BASUNI” WARTAJAZZ.COM
MINGGU 11 OKTOBER 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “SYAHARANI” & “BAYU WIRAWAN” & “AGUS SETIAWAN BASUNI” WARTAJAZZ.COM
MINGGU 4 OKTOBER 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “IMEL ROSALIN” PIANIS,VOKALIS,AKORDEONIS FROM BANDUNG & “AGUS SETIAWAN BASUNI” WARTAJAZZ.COM
MINGGU 13 SEPTEMBER 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “TENGKU RYO THE MALAY BAND” & “OTTY DJAMALUS” & “AGUS SETIAWAN BASUNI” WARTAJAZZ.COM
MINGGU 6 SEPTEMBER 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “OMEN-CHASEIRO” 30 TH INTELEKTUALITAS BERKARYA & “DENNY SAKRIE” BUBI CHEN ALBUMS
MINGGU 30 AGUSTUS 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “CLOROPHYL” ABOUT NEW ALBUM & “AGUS SETIAWAN BASUNI” FROM WARTAJAZZ.COM
MINGGU 23 AGUSTUS 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “MUS MUJIONO” THE JOURNEY ALBUM , “MASMO” NOTTURNO , “AGUS SETIAWAN BASUNI” FROM WARTAJAZZ.COM
MINGGU 16 AGUSTUS 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “RIZA ARSHAD” SERAMBI JAZZ , “DEVIAN ZIKRY” ASEAN JAZZ “AGUS SETIAWAN BASUNI” FROM WARTAJAZZ.COM
MINGGU 2 AGUSTUS 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “ZARRO & GILANG RAMADHAN” JAZZ @ FORT OF ROTTERDAM , “HENDRA SINADIA” CEO ONE NOTE “ANDI MANGARA” FROM MAKASAR JAZZ SOCIETY
LIVE REPORT RIAU HITAM PUTIH WORLD MUSIC FESTIVAL 23 S/D 25 JULI 2009 JAM 19.15 , 20.15 , 21.15 LANGSUNG DARI TAMAN BUDAYA PEKANBARU RIAU
MINGGU 12 JULI 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “YOKO MAHAGENTA” OPERA NEGERI FANTASY , “ANDEZZZ” DJ’AZZ SET “AJIE WARTONO” FROM WARTAJAZZ.COM ABOUT JAZZ GUNUNG
MINGGU 5 JULI 2009 JAM 19.00-21.00 INTERVIEW QUEST : “ALDY” BEST BEATBOX FESTIVAL , “HARRY TOLEDO” ABOUT NEW ALBUM AND “AJIE WARTONO” FROM WARTAJAZZ.COM (eko adji)
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : Jazz On Trijaya
S W I N G – EDISI 1
14 09 2009 Swing mulai memancar pada awal dekade 1930-an. Berbeda dengan ragtime,dixieland dan country yang menggunakan tempo 2/4,3/4,4/4 bahkan 6/8 dengan beat 8, maka swing dengan tempo 4/4 menggunakan triplet atau bahkan menggunakan beat 16. Pada swing, improvisasi dilakukan silih berganti, seperti suatu dengar pendapat layaknya.
Dalam era swing inipun banyak terdapat musisi yang berperan, misalnya pianist Teddy Wilson. Ia dilahirkan di Austin Texas pada tahun 1912. Ia belajar piano dan biola di Tuskegee selama 4 tahun, lalu beralih ke teori musik di Talladeg College. Teddy Wilson adalah satu-satunya pianist hitam beken yang meneruskan gaya Earl Hines. Yang tiga lainnya adalah pianist kulit putih Jess Stacy, Joe Sulivan dan Mel Powell.
Tahun 1963 ia bekerja pada Benny Carter Band yang memperkenalkannya pada musik dunia. Dua tahun kemudian, bersama Benny Carter membuat trio dengan seorang drummer amatir muda. Ia juga merasa cocok dalam trio bersama Benny Carter dan Gene Krupa. Kemudian Wilson bergabung dengan Benny Goodman sampai tahun 1939. Mereka sering mengiringi vocalist Billie Holliday hingga vocalist tersebut terkenal.
Ada lagi pianist lainnya, yaitu Mel Powell. Ia lahir di New York City tahun 1923. Ia mulai bermain bersama Eddie Condon. Pada usia 17 tahun (1941), ia bergabung dengan Benny Goodman. Sementara Perang Dunia I berlangsung, ia bermain bersama Glenn Miller Army Air Force Band yang terkenal saat itu. Sesudah perang selesai, Powell belajar komposisi pada Hindemith.
Mel Powell punya ciri permainan single note runs seperti Earl Hines. Tangan kanannya menunjukkan bahwa ia mempunyai teknik permainan yang tinggi. Latihan-latihan dengan dasar klasik Eropa menjadikan jari-jarinya dapat lari lebih rata bila dibanding dengan pianist-pianist lainnya saat itu.
Seorang trumpeter kenamaan dalam era swing ini antara lain Roy Eldridge. Ia dilahirkan di Pittsburgh tahun 1911. Sebagi musisi, ia banyak belajar sendiri dan tak belajar membaca (note) hingga menjadi musisi profesional yang autodidak dan main secara feeling. Pada umur 6 tahun sudah menunjukkan sebagai anak yang pandai main drum. Umur 16 tahun ia ikut band jalanan.
Dalam belajar trumpet, Roy Eldridge banyak mendengarkan Louis Armstrong. Hal ini dapat dilihat dari permainannya pada chorus lagu ”Florida Stomp” yang dimainkan bersama orchestranya sendiri dalam tahun 1937. Chorus itu mendapat pengaruh dari gaya Armstrong. Tapi ia juga mendapat efek langsung dari Red Allen (trumpeter saingan Armstrong).
Eldridge mempelajari kecepatan Red Allen. Sedang dari Armstrong ia meniru nafas biramanya. Selain itu ia juga belajar teknik dan mode saxophone untuk diterapkan dalam tiupan trumpetnya. Yang dipelajarinya adalah permainan saxophone gaya Coleman Hawkins dan Benny Carter. Misalnya dalam lagu ”Stampede” yang dimainkan oleh Hawkins dan Handerson.
Roy Eldridge menjadi pembentuk warna pada bandnya Gene Krupa dan Artie Shaw, yaitu pada era swing. Pada tahun 1936 ia rekaman bersama bandnya Teddy Wilson, dimana pada lagu ”Mary Had A LIttle Lamb” ia menyanyi.
Ia menjadi bintang trumpet pada era swing, bahkan hingga ke era be bop. Roy Eldridge menjadi bintang karena mau mempelajari teknik permainan musisi lainnya, bukan saja teknik permainan para trumpeter namun juga pada pemain saxophone seperti Benny Carter dan Hawkins.(Eko Adji)
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : The History of Jazz
BIG BAND – EDISI 3
12 09 2009 Ada lagi seorang pianist yang ikut menyemarakkan corak big band ini. Ia adalah Earl Hines, yang lahir tahun 1903 di Duquesne, Pennsylvania (sebuah kota kecil di pinggiran Pittsburgh). Ayahnya adalah pemain trumpet pada Eureka Brass Band, sementara ibunya adalah pemain piano dan orgen.
Earl Hines yang dikenal dengan sebutan Fatha itu mulai main di club sekitar Pittsburgh pada umur 14 atau 15 tahuan. Pada tahun 1923 ia tiba di Chicago, dan mulai main piano tunggal di rumah makan. Beberapa tahun kemudian, ia bekerja pada beberapa band hitam di Chicago, seperti Erskine Tate, Carroll Dickerson, Jimmy Noone dan terakhir adalah Louis Armstrong.
Dalam bulan Juni 1928 ia menggantikan Lil (isteri Armstrong) dalam menyelesaikan rekaman Armstrong seperti ”West End Blues”, ”Tight Like This” , ”Muggles”, bahkan ia sempat menyelipkan karyanya yanga berjudul ”Monday Date”, serta lagu duet terkenal antara Hines dan Armstrong yang berjudul ”Weather Bird”. Pada bulan Desember 1928, ia merampungkan 8 buah solo di QRS.
Efek dari semua recording itu, Earl ”Fatha” Hines menanjak sebagai jazz star. Ia punya big band yang selalu sukses, walau tidak seberhasil seperti Benny Goodman atau Bessie Smith. Band itupun bubar pada tahun 1948 bersama dengan runtuhnya era big band. Namun ia masih terus bermain hingga dekade 70-an.
Seorang tokoh yang karyanya banyak dibawakan dalam kancah big band, adalah arranger Billy Strayhorn. Ia lahir di Dayton, Ohio tahun 1916. Dibesarkan di North California dan sekolah di Pittsburgh. Ia belajar teori musik Eropa dan belajar piano klasik.
Pada tahun 1938 ia mencoba mengaransir lagu dan menemui Ellington dengan harapan lagu tersebut dapat diterima. Lagu ”Lush Life” tersebut diterima oleh Duke Ellington, dan tak lama setelah itu Ellington kembali merekam pula hasil arransir Strayhorn lainnya yang berjudul ”Something to Live For”.
Tahun 1939 Strayhorn masuk sebagai anggota musical familynya Ellington. Kadang-kadang ia mengisi piano pada Ellinton’s Orchestra serta membantu Ellington dalam mengaransir lagu. Lagu lagu Strayhorn yang sangat terkenal antara lain ”Take The A Train”. Lagu tersebut akhirnya menjadi lagu tema bagi bandnya Duke Ellington. Lagu lagu lainnya yang dbuat bersama Ellington adalah ”Chelsea Bridge” yang betul betul mood tapi berat dalam hal jazz idiomnya, lalu ’Such Sweet Thunder” dan ”A Dream Is A Woman”.
Strayhorn memang boleh dikata tak banyak merekam lagunya bersama Ellington. Namun dalam bermain bersama Ellington pada pesta-pesta, betul betul menciptakan duet yang sangat interesant. Billy Strayhorn meninggal pada tahun 1967, dan Ellinton menulis kenangan buatnya dengan judul ”His Mother Called Him Bill”.
Seperti dikatakan,bahwa era big band runtuh pada sekitar tahun 1948. Namun tidak semua big band musnah. Buktinya Count Bessie tetap mempertahankan bentuk big band pada dekade 50-an. Bahkan Duke Ellington dan Benny Goodman masih menyuguhkan big band dalam dekade 70-an.(Eko Adji)
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : The History of Jazz
BIG BAND – EDISI 2
12 09 2009 Duke Ellington lahir di Washington DC pada tanggal 29 April 1899. Ayahnya adalah kepala pelayan rumah tangga yang kadang-kadang bekerja melayani acara makan malam di Gedung Putih, kemudian menjadi tukang cetak untuk Angkatan Laut Amerika. Adiknya yang bernama Ruth Ellington, lahir ketika Duke Ellinton berusia 16 tahun.
Duke Ellington mempunyai kesukaan makan,minum dan mengagumi cewek serta pakaian. Ia kawin pada tahun 1918, setahun kemudian lahirlah anaknya yang diberi nama Mercer Ellington. Tahun 1922 ia pergi ke New York bersama Greer dan pemain banjo Elmer Snow.
Namanya yang sebenarnya adalah Edward Kennedy Ellington. Ia berhasil menggalang persahabatan dengan para musisi sera berkomunikasi secara luwes dengan masyarakat. Itulah yang menjadikan ia memperoleh gelar ”Duke”. Begitu besar jasa-jasa Ellington, hingga pada pesta ulang tahunnya yang ke 70, Presiden USA (waktu itu Nixon) berkenan menghadiri pesta tersebut. Pesta itu sendiri diadakan di Gedung Putih. Bahkan Presiden Nixon menyanyi untuk Ellington dan duduk berdampingan,hingga meriahlah pesta itu.
Pada tanggal 31 Januari dan 1 Pebruari 1972, Duke Ellington membawa 17 musisi (semuanya hitam) yang tergabung dalam Duke Ellington All Star, main di Jakarta dalam lawatannya ke Asia dan Australia. Pentas tersebut diselenggarakan atas kerjasama antara Lembaga Indonesia Amerika dan Pusat Kesenian Jakarta.
Pada show tersebut ditampilkan seorang trumpeter yang menyanyi dan main trumpet dengan gaya Louis Armstrong sebagai penghormatan dalam mengenang Armstrong. Dalam ketuaannya itu ia masih kelihatan penuh semangat. Main piano, berjoget di depan big bandnya, lalu bertindak selaku conductor. Dalam rombongannya itu terdapat pula sang anak Mercer Ellington yang menjabat sebagai trumpeter serta seorang cucunya yang gundul. Itulah hadiah buat para pecinta musik jazz di Jakarta, dua tahun sebelum meninggal.
Duke Ellington meninggal di rumah sakit Columbia Presbyterian Medical Center New York, pada hari Jumat 24 Mei 1974, setelah sebulan lamanya dirawat di rumah sakit tersebut karena menderita radang pernapasan. Selama hidupnya, ia sudah berhasil mencipta 900-an buah lagu. Ia merupakan seorang di antara pemimpin-pemimpin band yang paling berpengaruh dan berjasa dalam khasanah jazz di abad ke 20. (Eko Adji)
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : The History of Jazz
BIG BAND – EDISI 1
12 09 2009 Pada tahun 1927 saxophone mulai banyak digunakan alam kancah musik jazz. Banyak pemain cornet yang pindah ke alat saxophone. Pada masa itulah mulai tumbuh brass section yang terdiri dari saxophone,tenor,alto dan soprano,lalu trumpet alto dan tenor, ditambah beberapa trombone dan clarinet. Dengan demikian jumlah pemainnya menjadi banyak menyerupai orchestra.
Orchestra adalah sebuah kumpulan musik dengan bersetting komplet, yaitu instrument-instrument gesek,tiup,petik,pukul dan lain lain. Lebih kecil dari orchestra adalah ensemble. Pada waktu itu mulai timbul bentuk orchestra atau ensemble yang memainkan musik jazz, dan mempunyai para audience penggemar jazz. Inilah yang disebut sebagai awal mulanya Big Band. Bentuk Big Band kemudian dibuat lebih kecil dari ensemble,namun pemain brass sectionnya komplit. Aransemennya ditulis dalam bentuk partitur untuk masing-masing pemain.
Big Band dan Orchestra itupun kemudian berkembang dengan spesifiknya masing-masing. Ada yang tetap menganut aliran jazz (swing) seperti Duke Ellington Orchestra,Glen Miller, dan lain-lainnya. Ada yang menganut aliran sweet musik seperti Lawrence Welk dan ada yang menganut corak latin seperti Edmundo Ros,Xavier Cugat,Eddie Calvert dan sebagainya.
Para tokoh jazz yang bereksperiment dalam bentuk big band antara lain Fletcher Handerson,Don Redman,Duke Ellington. Juga Louis Russell yang lahir di Panama tahun 1902, dan merupakan anak seorang guru sekolah dan pelatih musik yang bernama Felix Alexander Russell.
Fletcher Handerson lahir tahun 1897. Ayahnya bernama Fletcher Hamilton Handerson Sr adalah kepala Rudolph Training School. Sedang ibunya Ozie Handerson adalah pianis dan guru musik. Sejak usia 6 tahun Fletcher Handerson belajar piano klasik.
Ia sekolah di Atlanta University, mengambil jurusan kimia dan matematika. Tahun 1920 ia pergi ke New York untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan kariernya sebagai ahli kimia. Namun kariernya itu tak pernah didapatnya. Waktu itu boleh dikata tak ada job bagi ahli kimia kulit hitam. Untuk menghilangkan rasa kecewanya, ia bekerja pada perusahaan penerbitan Pace-Handy Music Company. Tahun 1921 ia diminta oleh Black Swan (satu satunya black recording company pada waktu itu).
Pada tahun 1923 Handerson membentuk band untuk main di Alabam Club. Band tersebut awalnya bukan jazz band, tapi band pengiring ball room dance, dengan irama waltz,foxtrot dan lain-lain. Band tersebut beranggotakan para musisi yang dikemudian hari menjadi musisi ternama seperti Coleman Hawkins,Charlie Green, Joe Smith dan arranger Don Redman. Pada tahun 1924 Armstrong sempat bergabung dengan band ini, dimana band tersebut sudah berubah menjadi big band. Fletcher Handerson meninggal pada tahun 1967. (Eko Adji)
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : The History of Jazz
New Music For The Next Tradition
26 07 20097th RIAU HITAM PUTIH WORLD MUSIC FESTIVAL 2009
HARI KE-3 ( 25 Juli 2009 )
Hari terakhir Riau Hitam Putih World Music Festival 2009 dibuka dengan sebuah prosesi yang unik,yaitu prosesi arak-arakan membawa 2 plakat best performance yang dilakukan oleh anak-anak rata-rata masih bersekolah SD & SMP yang dipilih dari hasil Workshop Music Appreciation For Children sebagai bagaian kegiatan dari event ini.Mereka melakukan gerakan tarian koreografer yang memikat membawa 2 plakat best performance tersebut sampai akhirnya plakat di pajang di sisi kiri dan kanan stage dan diakhiri dengan membawakan sebuah komposisi lagu melayu yang liriknya bercerita tentang eksistensi dari acara Riau Hitam Putih World Music Festival ini yang sudah berlangsung berturut-turut untuk ke-7 kalinya.

ZOMBE ETNICA kelompok asal Aceh yang tampil di session awal memberikan konsep musik tradisi dipadu dengan musik modern rock. Diawal mereka membawakan didong musik tradisi dari gayo dimana ada vokal dan tepukan tangan sebagai beatnya, juga lagu-lagu rakyat Aceh seperti Musaresare yakni cerita tentang saat dimana kegembiraan dan syukur atas hasil panen. Lagu lainnya adalah Yangna bertutur keadaan sekarang yang damai dan dulu saat aceh konflik. Karya lain Resam masih lekat dengan mix paduan tradisional musik perkusi dan olah vocal dengan balutan konsep rock. Lagu berlirik tentang kepedulian pada lingkungan terutama kelestarian hutan tercermin di komposisi Burning Louser yang menjadi lagu pamungkas Zombe Etnica.

Penampilan berikutnya grup KEMUDI dari Dumai kelompok ini terbentuk tahun 2000, kali ini mereka dibantu 3 vokalis 2 wanita dan 1 pria dengan balutan kolaborasi musik elektrik seperti keyboard,bass,gitar dengan alat tradisional perkusi,rebana,tamborin.Lagu yang dibawakan berjudul Filosofi Melayu dengan lirik cinta damai dengan memasukkan beragam aransemen format musik mulai dari samba,latin hingga rock.
Dari Palu ada kelompok TO WANA grup ini beranggotakan orang wana, masyarakat suku adat terpencil penghuni hutan di Morowale Sulawesi Tengah. To Wanna membawakan sebuah sajian berjudul Folklive yang musiknya berintikan keseharian masyarakat adat terpencil To Wanna. Menurut Amin Abdullah pembina kelompok ini ada 3 tujuan menampilkan To Wanna yaitu memberi hak mempresentasikan budayanya sendiri terhadap masyarakat adat terpencil dan menarik perhatian publik terhadap tradisi suku terpencil serta memberi warna bagi seni musik pertunjukkan tradisi di Indonesia. Dengan mengenakan pakaian adat khas suku To Wanna dan alat-alat musik tradisinya perfomancenya memberikan warna tersendiri.

Hujan deras kembali terjadi di hari penutupan Riau Hitam Putih World Music Festival 2009 ini, yang akhirnya penampilan kelompok berikutnya dipindah dari stage utama outdoor ke dalam Gedung Olah Seni disamping kanan stage masih dalam lingkup Taman Budaya. Ada KOMUNITAS MUSIK KONTEMPORER dari Lampung yang membawakan sebuah komposisi berjudul Ragon Segata juga penampilan RIAU RHYTHM CHAMBERS dari Pekanbaru yang mengusung kolaborasi etnik melayu dengan musik rap dan rock dengan ditunjang tarian latar ala breakdance.
Congratulation untuk Riau Hitam Putih World Music Festival 2009. Apresiasi masyarakat terhadap sebuah perkembangan musik tradisi atau musik yang berakar pada nilai budaya setempat sangatlah diperlukan dan lebih daripada itu penting untuk disadari bahwa tradisi itu tidak hanya lestari namun juga harus diberikan ruang seluas luasnya untuk berkembang tanpa harus kehilangan nilainya.Tidak menciptakan tembok untuk sebuah sentuhan yang lebih kini atau daya capai sebuah pemikiran atas ide ide yang lebih segar dalam menyajikan konten lama hingga tidak hanya berkutat pada pakem yang ada untuk suatu proses kreatifitas yang bersifat inovatif . Seperti tema yang diusung yaitu New Music For The Next Tradition.
Seperti dikatakan Tengku Ryo bahwa keterbukaan wawasan dalam berbagai faktor dan menambah wacana dalam suatu proses kreatifitas dan belajar mengakui keunggulan orang lain adalah kunci dari kemajuan sebuah budaya, saat ini bisa dipastikan bahwa budaya kian bercampur padu dari satu kepada lainnya, masing masing saling mempengaruhi, bila hal ini kita sadari sepenuhnya bahwa bisa dikatakan tidak ada budaya yang berdiri sendiri.(Eko Adji)
Komentar : 3 Komentar »
Kategori : Riau Hitam Putih World Music Festival
TENGKU RYO & THE MALAY Pesona Gesekan Biola
25 07 20097th RIAU HITAM PUTIH WORLD MUSIC FESTIVAL 2009
HARI KE-2 ( 24 Juli 2009 )

Bertempat di Gedung Olah Seni komplek Taman Budaya Pekanbaru Riau Hitam Putih Wolrd Music Festival 2009 hari ke-2 dibuka tepat pada pukul 15.00 WIB dengan Workshop music appreciation for children yang berisi Drum Clinic.Apresiasi dari peserta yang didominasi anak-anak muda cukup banyak yang hadir dan tampak dengan serius menyimak penjelasan disertai praktek bagaimana teknik-teknik bermain drum secara detail dari beragam jenis musik yang disampaikan olah Bob Skunjes.
Ada sedikit tambahan properti dari sisi penataan setting tempat acara berlangsung di panggung utama,selain back drop stage yang memanfaatkan keunikan bangunan rumah-rumah adat Riau yang jadi latar belakang panggung dimana dengan permainan lighting cahaya lampu menjadikan suasana eksotis.Para penonton juga asyik dapat duduk dengan rileks di atas papan-papan kecil yang ditopang dengan potongan batang pohon dibuat sedemian rupa jadi tempat duduk yang nyaman.Ada beberapa jembatan dibuat diatas sungai kecil sebagai penghubung untuk penonton yang ada di area belakang.Selain itu banyak bambu-bambu kecil di seputar lokasi acara dimana diatasnya dikasih semacam senthir (obor kecil) sehingga menambah keindahan area Taman Budaya.

Acara utama sendiri dimulai tepat pada pukul 20.00 WIB dengan penampilan kelompok
BMC dari Kepulauan Riau yang membawakan 2 karya komposisinya yaitu Kerinduan dan Fun Within Blues.Mereka mencoba meramu musik melayu dengan musik modern dan musiknya didominasi oleh permainan perkusi yang cukup atraktif dipadu dengan harmonisasi dari alat-alat musik tiup tradisional.

Berikutnya adalah performance grup GALIGO asal Kabupaten Kampar.Mereka membawakan sebuah komposisi berjudul Musik Musiman yang digali dari musik tradisi dari 20 kecamatan di Kampar yang mempunyai ciri khas permainan musik sungai telok-telok yaitu musik yang dimainkan saat tiba musim ladang/panen yang dipadu dengan aransemen musik kekinian.Yang unik alat musik yang digunakan berasal dari daun.
Kelompok YANGNYONGSANG dari Dumai tampil di session berikutnya dengan sebuah karya berjudul Noktah (Titik Sebuah Perubahan) konsep musik special melayu edition, kolaborasi beragam musik menjadi sebuah noktah, sebuah titik perubahan, kebebasan dalam bermusik dari para pemain menjadi dasar utama dalam meramu beragam musik yang dimainkan dengan sisipan puitisasi lirik-lirik yang universal dengan satu landasan bermusik yaitu apa yg kau rasakan, rasakan apa yang kau mainkan.

Penampilan berikutnya dari SANGEETA ISVARAN dari India,wanita asal India ini tampil khas dengan baju identitas didominasi warna ungu dengan balutan alat kemericik di ke-dua kakinya.Dia bernyanyi sambil menari dan berkolaborasi dengan musisi dari Universitas Negeri Medan.Dengan iringan keyboard dan dominasi perkusi dengan penonjolan suara bunyi-bunyian dari mulut.Yang menarik adalah bagaimana sound musik yang dimainkan musisi pengiring saling bersahutan menyambung dengan Sangeeta Isvaran yang mencoba memainkan acapella dalam bahasa India.

BATHIN GALANG dari Kabupaten Kepulauan Meranti,menjadi penampil berikutnya.Mereka tergabung dalam sebuah sanggar yang menonjolkan ekspresi musik kesenian dari seniman kampung/dusun desa Hokon yang jauh dari kota dengan memainkan tradisi musik melayu ke musik modern tercermin dari kolaborasi alat musik tradisional seperti kendang ,tambor,kompang dipadu drum,gitar,bass elektrik.Karya mereka diberi judul Bele Kampong.

JOE BUNMARK gitaris dari Malaysia banyak mendapat applause dari penonton yang didominasi anak muda.Dia bermain solo instrumental dengan memasukkan unsur elemen tradisional melayu digabung dengan musik rock dengan ditemani 3 musisi lainnya pada drum,bass dan keyboard.Skill kecepatan jari-jemarinya pada dawai gitar dengan distorsi efek-efek sound yang kental rock dengan sisipan melodi-melodi melayu menjadi daya tarik tersendiri.

TENGKU RYO & THE MALAY BAND performance pemuncak di hari ke-2, grup ini beranggotakan Tengku Ryo (Biola), Badi (Elektrik Gitar), Edy (Bass), Bang Ai (Drum), Imat (Percussions), Yusrizal (Keyboard).Penampilan awal mereka dibuka dengan Hymne Tanah Melayu dimana Tengku Ryo mengajak semua penonton berdiri untuk memberikan rasa hormat terhadap kebudayaan melayu.Disusul dengan komposisi The Great Malay dengan beat tempo cepat dalam musikalitas permainan biola.Perpaduan musik tango dan zapin sangat menarik diaransemen oleh Tengku Ryo dimainkan karyanya Musake. Berikutnya ada lagu Sri Langkat yang diiringi oleh dancer penari Sinar Budaya Kesultanan Serdang komposisinya dimainkan dalam irama jive.Disusul komposisi Lagu yang dinyanyikan oleh musisi senior Atuk dari Tengku Ryo dengan lirik-lirik dan pantun jenaka yang membuat penonton tersenyum dan tertawa.Lagu Mak Inang Pulau Kampai menyusul dimainkan yang cenderung dominan sound eletrik gitar rock dipadu gesekan biola.Komposisi lagu The Spirit Of Rossana jadi klimaks penampilan atraktif dan komunikatif dari Tengku Ryo & The Malay Band dengan masing-masing individu personil bersolo memainkan alat musiknya.(Eko Adji)

Komentar : Leave a Comment »
Kategori : Riau Hitam Putih World Music Festival
Dendang Anak Sajian Khas Dari Malaysia
24 07 20097th RIAU HITAM PUTIH WORLD MUSIC FESTIVAL 2009
HARI KE-1 ( 23 Juli 2009 )

Event Riau Hitam Putih World Music Festival 2009 memasuki tahun ke-7 penyelenggaraan,yang berubah tentu saja dari tempat acara dilangsungkan,kalau tahun-tahun sebelumnya bertempat di Bandar Serai ( MTQ dekat Bandara ) untuk event tahun ini berpindah tempat ke Kawasan Komplek Taman Budaya di Jl.Jendral Sudirman Pusat Kota Pekanbaru Riau.
Puncak karya kreatif pemusik populer yang mengkolaborasikan
keragaman musik – musik, merupakan ciri utama pada kegiatan RIAU HITAM –
PUTIH WORLD MUSIC FESTIVAL. Pengkolaborasian musik modern dengan musik
tradisi tempatan, menjadi tujuan penampilan. Pada akhirnya akan
melahirkan para musisi muda dengan musik yang berciri kental kedaerahan
serta mempunyai daya kompetitif dan akan membawa warna tersendiri
sebagai kekuatan diri.

Menurut Hari Sandra salah satu penggagas acara, untuk tahun 2009 ini tagline atau tema yang diangkat adalah NEW MUSIC FOR THE NEXT TRADITION artinya
event ini adalah event musik yang bersifat sosial budaya yang bertujuan untuk
menumbuhkembangkan minat dan bakat para pecinta/insan seni musik
dalam memahami tentang arti pentingnya melestarikan budaya khususnya
musik tradisi dan membuka wawasan terhadap musik kekinian.
Diharapkan terjadi dialog antara musik tradisi dan musik modern yang
dipertemukan dalam kolaborasi yang tercipta dari daya kreativitas
peserta sehingga akan meningkatkan daya appresiasi bagi penonton dan
peserta lainnya. Tentunya juga sebagai hiburan bagi masyarakat yang mempunyai nilai edukasi dalam mempertahankan musik tradisi untuk tetap eksis, sehingga pada saatnya
nanti diharap Riau akan menjadi pusat perkembangan musik Melayu Dunia.
Hari pertama acara dimulai pukul 20.00 WIB menampilkan Dendang Anak dari Terengganu Malaysia,Galigo dari Kabupaten Kampar,Bathin Galang dari Kabupaten Kepulauan Meranti,Tasik dari Kabupaten Bengkalis,serta puncak acara hari pertama menampilkan Kito Siopo kelompok kolaborasi dari Inggris dan Jepang.

Opening acara seremoni dibuka kreasi multimedia dan lighting disusul terdengarnya suara gong 3 kali dilanjutkan tampilnya Dendang Anak dari Terengganu Malaysia yang membawakan sebuah karya berjudul Warisan Panji pada session pertama berikutnya jeda dengan layar screen di kanan-kiri stage muncul video profil kelompok ini berlanjut session kedua Dendang Anak menampilkan komposisi diberi judul Puja Puji.
Karena stage panggung utama bertempat di outdoor dengan setting seperti pertunjukkan di taman, ketika terjadi hujan dan semakin deras,memaksa panitia menghentikan acara seusai penampilan dari grup Dendang Anak. Dan perfomance dari grup berikutnya ditunda dan akan ditampilkan di hari ke-2. (Eko Adji)
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : Riau Hitam Putih World Music Festival
Komentar Terakhir