Oleh : Muhammad Firdaus*)
Saya teringat dengan sebuah talkshow yang Trijaya FM Palembang siarkan setahun yang lalu, tepatnya, 20 agustus 2008 di hotel Horizon Palembang. Topiknya tentang Matinya intelektual kampus.Tentunya ini yang terjadi di Palembang atau Sumatera Selatan. Judulnya cukup menggelitik dan menohok. Setidaknya itu pengakuan dari 3 orang narasumber yang kami undang malam itu. Profesor Amzulian Rivai (Guru Besar di Unsri), Al Fitri (Staf pengajar di Unsri) dan Hatta Wazol (Staf pengajar di UMP).
Ya, kenapa kami mengambil tema tersebut pada saat itu, tidak lain adalah keprihatinan dari kami melihat kurangnya stok narasumber dari kalangan akademisi yang bisa diajak berbicara dan peduli terhadap persoalan-persoalan yang sesuai dengan bidang keilmuannya. Tidak hanya kami yang merasakannya, mungkin kita juga jarang membaca tulisan mereka di media cetak yang menyoroti sebuah persoalan. Yang ada hanya itu lagi..itu lagi…atau dia lagi…dia lagi. Tapi disitulah persoalannya, kenapa media cetak dan elektronik selalu memasang orang yang itu-itu lagi, karena memang merekalah stok yang ada, mudah dihubungi, pengetahuannya uptodate dan bisa bicara dan menulis.
Lalu apa masalahnya. Saat itu kami berharap Cuma mati suri. Tapi ternyata saat ini, masih terjadi sampai sekarang. Jadi tidak hanya mati suri. Ternyata mati beneran (maaf kepada bapak dan ibu intelektual kalau tersinggung). Padahal PTN seperti Unsri dan IAIN Raden Fatah, dan PTS-PTS lainnya, pasti setiap tahun menghasilkan tenaga pendidik berkualifikasi S2 dan S3, bahkan Profesor.Menarik memang.
Saat itu Prof Amzulian, menyampaikan sebuah pernyataan, yang menurut saya : setengah menggugat juga. Menurutnya, harus dipertanyakan juga siapa intelektual kampus itu, apakah mahasiswa, dosen atau seluruh civitas akademika. Kalau yang menjadi sorotan dosen, dosen jurusan apa?Kalau yang menjadi sorotan ilmu-ilmu sosial, tentu tidak bisa memukul rata bidang lainnya.
Menurutnya, sebelum mengatakan mati atau tidak mati, maka harus dipahami dulu tugas utama intelektual kampus. Selalu yang menjadi tolak ukurnya adalah Tri dharma perguruan tinggi. Pendidikan, Pengajaran, dan Pengabdian masyarakat. Nah, lalu apakah jika intelektual kampus, kurang bisa berbicara tentang persoalan korupsi, dan persoalan lainnya yang tengah terjadi dimasyarakat, dianggap tidak kritis dan mati suri. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang berkecimpung di bidang lainnya (sains), misalnya pertanian dan teknik, yang lebih banyak dibelakang layar. Juga orang hukum yang seringkali diminta pendapatnya di berbagai hal. Jadi matinya itu tolak ukurnya apa? Menurutnya kalau kurangnya orang yang bicara dan menulis ,juga jangan intelektual yang disalahkan.
Sementara itu Al Fitri yang selama ini dikenal sebagai pengamat sosial dan politik, melihat bahwa intelektual harus bisa melihat tugasnya pada beban ilmu, yaitu pada sisi ontologi, epistemologi dan aksiologis. Dan ukuran intelektual itu ada di aksiologis atau kegunaan ilmu kepada masyarakat. Dia menyatakan, percuma kalau ilmu yang dimiliki tersebut tidak bisa digunakan pada masyarakat. Sebagai intelektual harus punya tanggung jawab itu. Tidak hanya ilmu sosial dan hukum, tapi juga ekonomi, pertanian dan sebagainya dan Intelektual harus mengawal idealismenya itu.
Hatta Wazol melihat kenapa terjadi kemandegan ini, karena ketika intelektual masuk ke birokrasi, mereka pun tidak luput dari perbuatan meyimpang, sehingga kemungkinan adanya apatisme dikalangan intelektual itu sendiri, ketika harus berbicara.
Tentu saja apa yang disampaikan benar semuanya. Lalu mengapa sampai muncul sebuah pertanyaan Intelektual Mati suri? Tentu saja, dari pihak media melihat, kekurangaktifan dari intelektual di Palembang atau di Sumsel terlihat dengan kurangnya mereka bicara atau menulis. Ini bisa ditanyakan kepada redaktur pengelola halaman opini di surat kabar. Rata-rata mereka akan mengiyakanminimnya tulisan yang masuk. Kalaupun ada, balik lagi, yang itu-itu lagi. Atau ada juga yang mengirimkan opini yang tidak up to date. Artinya persoalan yang disorot sudah lewat, dan bukan menjadi perbincangan hangat oleh banyak orang saat ini atau bukan sesuatu yang baru. Sementara di media elektronik (TV dan radio), kurang bisanya mereka bicara terhadap suatu persoalan yang ditanyakan, penyebabnya mereka kurang baca dan tidak mengikuti perkembangan yang terjadi.
Lalu apa yang menjadi persoalan para intelketual ini ‘malas” membuat artikel atau berkomentar di media. Dari talkshow tersebut, dapat diambil ditarik benang merah, ada beberapa hal yang menjadikan hal tersebut. Pertama, kesibukan mereka. Kalau kita berbicara soal akademisi, sebagian akademisi, selain mengajar, mempunyai proyek-proyek penelitian atau kerja sampingan lainnya yang tidak memungkinkan mereka membuat suatu tulisan. Kedua, keterbatasan pengetahuan mereka. Ketiga, tidak mengikuti perkembangan. Keempat memang tidak mau berkomentar ataupun menulis.
Kalau memang point keempat yang dijadikan alasan, mungkin sangat tidak beralasan. Pasalnya mereka memegang tanggung jawab untuk mencerahkan masyarakat dengan pengetahuan mereka. Bisa dibayangkan, berapa banyak misalnya Doktor dan Profesor yang dihasilkan, katakanlah karena biaya Negara, namun ternyata ilmunya tidak bermanfaat bagi masyarakat.
Yang terjadi memang, tradisi menulis di kampus-kampus di Palembang sangat minim. Kalaupun para dosen menulis, tidak lebih karena sebuah proyek yang mereka kerjakan, yang dinikmati kalangan sendiri melalui jurnal-jurnal terbatas. Sementara, tuntutannya sekarang sudah lebih dari itu. Bagaimana pemikiran-pemikiran kritis mereka bisa diterima oleh semua kalangan.
Namun disatu pihak juga, kadang kala media memang hanya menjadikan orang-orang tertentu sebagai narasumbernya. Tidak mau atau malas mencari orang-orang baru yang sebenarnya potensial. Tapi jawaban media juga masuk akal , bagaiman kami bisa mengetahui kualitas mereka kalau mereka tidak pernah menulis atau berbicara. Tapi itu juga bukan alasan, karena ada saatnya kita harus mencoba orang-orang baru.
Pengalaman saya di radio, seseorang yang berbicara dan analisisnya bagus, pasti menulisnya baik. Namun jika sesorang menulisnya baik, belum tentu dia lancar berbicara saat diwawancara langsung. Namun tentu semuanya perlu proses dan waktu. Tak jarang, beberapa intelektual, deman panggung ketika mereka baru tampil di berbicara di media elektroknik (TV dan radio). Namun kalau mereka imbangi dengan kemampuan yang mereka miliki, tentu semuanya akan tertutupi.
Harus dipahami juga, bahwa berbicara diseminar atau workshop atau pelatihan, berbeda dengan berbicara dalam sebuah talkshow baik di radio maupun TV, karena disitulah dieksplorasi bagaimana kemamampuan seseorang. Karena itu juga bisa dipahami mengapa tidak semua intelektual mampu berbicara baik, di media eleketronik.
Lalu apa peran inteletual sebenarnya..?
Mengutip sebuah tulisan dari MT Zen, Guru Besar ITB (Kompas, 29 maret 2008), dalam Sikap dan Suara kaum Intelektual, di tiap negara selalu ada tiga pilar yang mencirikan arah perkembangan negara itu, yakni politisi, wirausahawan, dan kaum intelektual. Yang terakhir ini selalu berfungsi untuk menyuarakan nurani rakyat. Lihat peran kaum encyclopaedists menjelang Revolusi Perancis, the Fabian Society di Inggris, dan pejuang Indonesia sebelum Revolusi Indonesia. Menjelang runtuhnya Orde Lama, muncul kelompok perjuangan baru.
Menurut MT. Zen, Masyarakat harus menyadari, pada kelompok intelektual itu terpendam kekuatan yang amat dahsyat. Pada saat krisis, suatu kultur yang sehat secara moral selalu dapat memobilisasi semua tata nilai, harga diri, dan semangat juangnya untuk dapat mempertahankan cita-cita moralitas yang mereka junjung. Yang diperjuangkan mati-matian bukan sekadar masalah ekonomi, masalah HAM, demokrasi, dan lainnya, tetapi masalah penyelamatan bangsa dari proses penghancuran diri secara menyeluruh.
Pada saat ini kaum intelektual, masyarakat kampus, dan profesional harus membuat satu front untuk menyuarakan nurani rakyat, memberi alternatif solusi. Zen menyarankan,agar tidak sia-sia bekerja, berbagai kelompok itu tidak bekerja sendiri-sendiri, tetapi membuat suatu gerakan yang tidak hanya bergerak satu kali, tetapi gerakan berlanjut, menyertakan semua kelompok yang peduli kepada nasib bangsa.
Karenanya mungkin saatnya, para Intelektual kampus mau menonjolkan dirinya. Ini bukan ajang narsis, tapi sudilah anda kiranya menunjukkan sedikit kebaikan membagikan pengetahuan anda kepada kita. Sumatera Selatan sudah saatnya lebih baik dibandingkan 5 tahun sebelumnya. Kalaupaun para intelektual ditarik ke birokrat, itu bukan berarti suara kaum-kaum cendekiawan ini dimatikan. Namun, setidaknya suara-suara itu akan menjadi lebih kuat. Apakah dia dalam kerangka mengkritisi suatu kebijakan, meluruskan suatu kebijakan atau juga menolak suatu kebijakan. Ditunggu pencerahannya!
*) Koordinator Liputan / Produser Trijaya FM Palembang
Komentar Terakhir