Periksa Kehamilan

27 06 2009

PALEMBANG – Pemeriksaan kehamilan sangat penting untuk menghindari kematian ibu dan bayi. hal ini disampaikan oleh Dokter Fauzia, Kasi Pelayanan Kesehatan dasar Dinas Kesehatan Kota Palembang. Sangat penting karena Kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat dan 15 % dari wanita hamil akan mengembangkan komplikasi yang berkaitan dengan kehamilannya dan mengancam jiwa.

Dalam Healthy Center (26/6), Dokter fauzia sangat menyarankan pemeriksaan kehamilan dilakukan paling minimal tiga kali. “Diperiksakan di tiga bulan pertama, trimester kedua dan trimester ketiga”. Hal ini dilakukan untuk melakukan pemantauan sehingga kesehatan Ibu dan Bayi dapat dipastikan berkembang dengan baik. Juga mempertahankan kesehatan ibu dan bayi serta mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi.

Pemeriksaan tentunya juga harus dilakukan oleh tenaga yang berkompeten untuk melakukan hal tersebut. “Di Palembang saja masih dapat ditemukan Ibu yang melakukan konsultasi bahkan melahirkan lewat dukun beranak. Hal ini sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan kecacatan bahkan kematian. Kita tidak tau tentang kebersihan dukun beranak dan sebagainya”.

Yang perlu diketahui oleh para ibu dalam pemriksaan kehamilan ini adalah 8T, Timbang berat badan, tekanan darah, tinggi fundus uteri, tetanus toksoid, tablet zat besi, tes penyakit menular seksual, temu wicara dalam rangka persiapan rujukan dan tatalaksana khusus. (vira)





AMIN ABDULLAH AND FRIEND PASTIKAN HADIR PADA EVENT 7th RIAU HITAM – PUTIH WORLDMUSIC FESTIVAL 2009

27 06 2009

Amin Abdullah and friend pastikan diri untuk hadir pada event 7th RIAU HITAM – PUTIH WORLDMUSIC FESTIVAL 2009 yang akan digelar pada tanggal 23 – 25 Juli 2009 mendatang. Amin yang datang bersama beberapa orang musisi asal Kota Palu ini, direncanakan akan berkolaborasi dengan musisi – musisi muda Riau yang tergabung dalam Urban Rhythm.
Ketika dikonfirmasi melalui telepon genggamnya, Amin yang saat itu sedang berada di Solo menyatakan antusiasnya dalam mengikuti event worldmusik yang di taja Malay Music Institute ini. Amin juga menyatakan kesediaan untuk menjadi pembicara pada seminar worldmusic talk series (salah satu kegiatan pendukung, red) dan akan membicarakan tentang perkembangan Melayu di Nusantara. Menurut Amin, Melayu tidak saja berada di Sumatera namun juga ada di Sulawasi. Ini dibuktikan dengan adanya alat musik gong atau sejenis di Sulawesi.
Selain Amin Abdullah, beberapa grup yang telah menyatakan kesediaannya untuk berpartisipasi sebagai peserta antara lain, Songkhla Rajabhat University, Thailand Selatan, TENGKU RYO & THE MALAY BAND – Jakarta, Dendang Anak – Terengganu Malaysia, Topa – Tenggarong, Mahagenta – Jakarta, ZOMBE ETNICA – Aceh, BMC – Kepri, Riau Rhythm Chamber Indonesia – Pekanbaru, Fantasia Merideño – Venezuela, Barricada Sur – Mexico dan lainnya.
Sementara itu, Malay Music Institute sebagai pelaksana kegiatan, saat ini telah mengantongi rekomendasi izin kegiatan dari Kepolisian Republik Indonesia Daerah Riau dan dalam waktu dekat akan mengurus Izin pelaksanaan kegiatan di MABES POLRI demikian yang diungkapkan oleh saudara Nofriwisyah, Sekretaris Malay Music Institute saat ditemui di ruangannya.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Malay Music Institute (MMI) Jln. Jend. Sudirman Komp. Taman Budaya Riau Pekanbaru – Riau Tlp. 0761 7016227 /sdr. Hari 0761 7710719 (Eko Adji)





MEMPREDIKSIKAN MUSIK MASA DEPAN

27 06 2009

MEMPREDIKSIKAN MUSIK MASA DEPAN
Oleh: Amin Abdullah
Disampaikan pada
Festival Riau Hitam Putih – Malay Music Institute 2009

Saya memahami tema “new music for the next tradition” ini dengan futorologi atau ilmu memprediksikan masa yang akan datang. Ilmu ini sudah mulai berkembang di negara – negara maju dengan mengamati apa yang terjadi pada masa lalu dan masa kini untuk melihat masa yang akan datang. Olehnya, makalah ini mencoba melihat musik baru untuk tradisi yang akan datang dengan perspektif linear .

DEFENISI
Musik baru atau ada istilah lain lagi “musik kreasi baru” adalah nama yang aman untuk menyebut musik yang diciptakan saat ini. Istilah ini digunakan sebagai alternatif pengganti kata musik kontemporer atau musik modern yang cukup hangat permasalahannya ketika digunakan di Indonesia. Hal ini disebabkan dii Indonesia masih sering mempertentangkan antara tradisi dan modern. Seolah-olah, istilah itu berlaku tetap pada sesuatu.

Padahal, identifikasi tradisi atau modern terhadap sesuatu terbatas pada ruang dan waktu serta tidak tetap. Terbatas pada ruang, karena apa yang disebut tradisi pada sebuah wilayah, dapat dianggap sebuah hal yang baru pada wilayah lain. Misalnya, tradisi musik Barat dengan segala unsurnya yang telah berlangsung ratusan tahun di Eropa, dianggap hal baru dan modern di sebagian wilayah Indonesia. Terbatas pada waktu, karena apa yang dianggap tradisi hari ini, dulunya adalah sesuatu yang baru dan kontemporer. Keroncong misalnya, dulunya dianggap sesuatu yang trend. Namun, saat ini dianggap tradisi yang harus diselamatkan.

Olehnya, persoalan musik tradisi dan modern, baru dan lama selayaknya dipahami secara bijak dengan memperhatikan konteks penggunaannya pada sebuah musik. Yang lebih penting dari itu adalah bagaimana berusaha menyelami tradisi dengan hidup didalamnya dengan menghidupinya.

Ada dua point pemikiran yang coba diuraikan dalam makalah ini. Pertama, musik baru untuk tradisi yang akan datang adalah sebagai lanjutan masa lalu dan masa kini. Kedua, musik baru untuk tradisi yang akan datang mempunyai muatan yang tidak tunggal.

LANJUTAN MASA LALU DAN MASA KINI
Musik baru untuk tradisi yang akan datang tidak turun dari langit atau tidak terpenggal dan berdiri sendiri, lepas dari sejarah dan konteks yang melatarbelakanginya. Dia adalah sebuah proses dalam memaknai tradisi dan pengembangan selanjutnya diujung tradisi tersebut.

Dengan menyepakati tradisi sebagai sumber penciptaan seni, maka yang penting sekali dilakukan oleh tradisi yang akan datang untuk membuat musik-musik baru adalah kajian teks dan konteks yang seutuh mungkin terhadap tradisi tersebut. Olehnya, pendidikan kemudian menjadi salah satu kunci untuk calon-calon penggarap musik baru. Pendidikan yang dimaksud adalah bukan hanya pendidikan formal di instititusi pendidikan kesenian, namun juga pendidikan non-formal seperti workshop, belajar dari masyarakat tradisi dengan melakukan survey, berusaha menyelami dan hidup dalam tradisi, serta banyak menonton pertunjukan – pertunjukan lain sebagai bahan banding.

Menjadikan tradisi sebagai sumber penciptaan seni, akan menghasilkan warna karya yang beragam. Karena pengalaman dan cara pandang setiap individu berbeda – beda. Olehnya musik baru di masa yang akan datang semakin bervariasi dan kemungkinan besar semakin bergeser dari karya kolektif menuju konsep karya yang mementingkan kemandirian individu .

Karya – Karya multi media akan semakin marak kedapan. Karya multi media yang dimaksud adalah karya yang tidak mengkotak-kotakkan seni dalam ruang-ruang yang ketat seperti musik, tari, teater, senirupa, fotografi, film dll. Munculnya istilah dance-theater, music-theatre adalah contoh gejalanya. Hal ini juga ditunjang oleh seni pertunjukan tradisi kita yang bila kita amati tidak dapat dipisahkan yang mana musik, tari dsb.

Tehnologi masa depan akan semakin memudahkan penggarap berkarya, membuat karya lebih kaya alternatif dan meminimalisir anggaran pembuatan karya dan pementasan. Sehingga memungkinkan seorang komposer dapat pergi ke berbagai festival hanya seorang diri dengan peralatan yang canggih.

BERMUATAN BANYAK
Musik baru untuk tradisi yang akan datang tidak bermuatan tunggal, namun jamak. Dalam sebuah karya, dapat saja penekanannya pada salah satu muatan, namun tetap muatannya tidak sendiri.

Sejalan dengan isu identitas yang diperkirakan semakin marak pada abad 21 ini, maka karya – karya musik akan tetap mengusung identitas siapa dan dari mana seorang komposer berasal. Muatan identitas etnik / budaya sang penggarap tetap muncul dengan intensitas yang bervariasi.

Bahkan , yang akan sangat menarik adalah bila latar belakang sang penggarap yang berasal dari perkawinan silang antar etnik, misalnya Kaili di Sulawesi Tengah dan suku Melayu di Sumatra. Juga komponis yang mengalami phisical mobility (perpindahan secara fisik) dari satu tempat ke tempat lain, misalnya komponis dari etnik Madura yang tinggal lama di Solo.

Olehnya, karya baru tetap diperkirakan akan mempunyai muatan pendidikan kebudayaan. Hal ini disebabkan penontonnya dari komunitas yang sama akan tetap berusaha mengidentifikasi dirinya dalam karya tersebut, dan mencoba memahami kekontemporeran dalam karya. Penonton diluar komunitas tersebut akan mengidentifikasi sang komposer dan mencoba memahami konteks dan isu yang dibawa oleh sang komposer.

Musik baru juga akan diwarnai ekspresi aktual dari penggarap. Pendapatnya, reeaksinya pada masalah dilingkungan dia tinggal atau terhadap masalah ideologi, politik, ekonomi dan sosial budaya Indonesia saat ini akan menjadi sasaran kritik seniman dalam karyanya.

Sejalan dengan isu baru yakni ekonomi kreatif dimana kebudayaan diharapkan menjadi “mata uang baru”, karya – karya musik baru semakin banyak yang akan memperhitungkan muatan ekonomi. Penggarap akan menjadi seorang wirausahawan, enterpreneur, yang berkarya dan membuat CD / VCD untuk dipasarkan secara independen. Jaringan kerja skala lokal, regional, nasional dan internasional akan semakin terbangun untuk memasarkan karya baik berupa pertunjukan langsung maupun CD / VCD.

Fungsi seni pertunjukan sebagai hiburan akan tetap ada. Seberapa besar prosentasi unsur hiburan tersebut, sangat tergantung dari mazhab yang dianut oleh penggarap.

KESIMPULAN
Pendidikan dan sponsor (maecenas) tetap menjadi penting dan menentukan gaya, corak, mutu musik baru pada tradisi yang akan datang. Pendidikan yang memaknai tradisi, hidup dalam tradisi, menghidupi tradisi dan tetap menjadikannya sebagai sumber penciptaan seni akan membuat tradisi tidak stagnan atau bahkan mati.

Negosiasi antara independensi seniman dan sponsor dalam hal ini pemerintah atau maecenas swasta juga akan mempengaruhi karya. Ruang berekspresi seperti forum, festival, pergelaran dengan kuratorial yang beragam tetap menjadi laboratorium sekaligus etalase pencapaian artisitik penggarapan musik.

Akhirnya, musik baru Indonesia akan semakin kaya karena dua hal. Pertama, munculnya penggarap – penggarap dari berbagai wilayah Indonesia dengan warna yang beragam. Kedua, legitimasi eksistensi karya beserta penggarapnya tidak hanya terpusat pada satu wilayah, satu school of thought, satu gaya dan satu aliran tertentu.





RIAU HITAM – PUTIH WORLD MUSIC FESTIVAL

27 06 2009

World Music – punca karya kreatif pemusik populer yang mengkolaborasikan keragaman musik – musik, merupakan ciri utama pada kegiatan RIAU HITAM – PUTIH WORLD MUSIC FESTIVAL. Pengkolaborasian musik modern dengan musik tradisi tempatan, menjadi tujuan penampilan. Pada akhirnya akan melahirkan para musisi muda dengan musik yang berciri kental kedaerahan serta mempunyai daya kompetitif dan akan membawa warna tersendiri sebagai kekuatan diri. Event ini adalah event musik yang bersifat sosial budaya yang bertujuan guna :

1.1. Menumbuhkembangkan minat dan bakat para pecinta/insan seni musik dalam memahami tentang arti pentingnya melestarikan budaya khususnya musik tradisi dan membuka wawasan terhadap musik kekinian.

1.2. Terjadinya dialog antara musik tradisi dan musik modern yang dipertemukan dalam kolaborasi yang tercipta dari daya kreativitas peserta sehingga akan meningkatkan daya appresiasi bagi penonton dan peserta lainnya.

1.3. Adanya hiburan bagi masyarakat yang mempunyai nilai edukasi dalam mempertahankan musik tradisi untuk tetap eksis, sehingga pada saatnya nanti diharap Riau akan menjadi pusat perkembangan musik Melayu Dunia. (Eko Adji)





PTBA Bantu Stadion Utama Sekundang Bara Rp 25 Miliar

27 06 2009

MUARA ENIM – PT Tambang Batu bara Bukit Asam (PTBA) Tbk membantu pembangunan komplek stadion utama Sekundang Bara di Kabupaten Muara Enim sebesar Rp 25 miliar. Direktur SDM dan Umum PTBA Tbk, Mahbub Iskandar, Jum’at (26/6) menyerahkan bantuan tahap IV sebesar Rp 10 miliar kepada pelaksana tugas (Plt) Bupati Muara Enim Muzakir Sai Sohar di kantor Pemerintah Kabupaten Muara Enim.

Menurut Mahbub Iskandar, sebelum bantuan tahap IV tersebut, PTBA Tbk telah memberikan bantuan sejak tahun 2006, bantuan tahap I, II dan III yang besarnya masing-masing Rp 5 miliar. “Jadi dengan bantuan tahap IV ini maka bantuan PTBA untuk pembangunan komplek olah raga di Muara Enim telah berjumlah Rp 25 juta.”

Mahbub juga mengungkapkan, peningkatan kontribusi PTBA Tbk untuk pembangunan komplek stadion utama Sekundang Bara tidak terlepas dari peningkatan kinerja keuangan BUMN tambang batu bara tersebut pada tahun buku 2008. Pada tahun 2008 laba PTBA Tbk meningkat menjadi Rp 1,7 triliun.

Direktur SDM dan Umum PTBA Tbk menjelaskan, bantuan ke Pemerintah Kabupaten Muara Enim ini merupakan bagian pelaksanaan program CSR bidang sosial dari BUMN yang berkantor pusat di Tanjung Enim tersebut.
“Pelaksanaan program CSR untuk bidang sosial ini terdiri dari bantuan pendidikan, pelatihan, kesehatan, pengembangan sarana-prasarana umum, sarana ibadah dan pelestarian alam. Untuk tahun 2008, dana yang telah direalisasikan pada bidang ini untuk wilayah Sumatera Selatan adalah sebesar Rp 15,89 miliar. Dari jumlah itu, 91 persen atau sebesar Rp 14,56 miliar direalisasikan untuk program bidang sosial di Kabupaten Muara Enim dan Lahat,” ujar Mahbub Iskandar.

Sementara itu Bupati Muzaki Sai Sohar mengatakan dengan laba PTBA Tbk tahun buku 2008 yang mencapai Rp 1,707 trliun jauh di atas APBD Kabupaten Muara Enim yang hanya Rp 1,06 triliun, diharapkan PTBA Tbk ke depan bisa lebih meningkatkan bantuannya baik melalui program CSR atau sumbangan pihak ketiga. (Rep)