Cupu Emas Anggota Dewan Baru Rp 3 Juta Per Orang

18 06 2009

PALEMBANG – Anggota DPRD Sumsel periode 2009-2014 yang direncanakan dilantik September 2009 mendatang, bakal langsung mendapat “hadiah” berupa cupu (pin) anggota DPRD Sumsel. Masing-masing cupu tersebut berkisar Rp 3 juta per buah.

Cupu tersebut terbuat dari emas 22 karat dan dibuat sebanyak 75 buah sesuai dengan jumlah anggota dewan periode 2009-2014. Cupu bakal langsung dipakai ketika pelantikan anggota dewan yang baru dilakukan nanti.

Sekretaris DPRD Sumsel Sofyan Machmud yang ditemui mengatakan, pagu anggaran yang disiapkan senilai Rp 200 juta dalam APBD Sumsel 2009. Saat ini tinggal menunggu proses tender pembuatan cupu tersebut.

“Setiap anggota dewan yang dilantik nanti diberikan cupu tersebut, tidak terkecuali anggota dewan periode lama yang duduk kembali menjadi anggota dewan,” kata Sofyan.

Cupu anggota DPRD Sumsel tersebut menggunakan logo Provinsi Sumsel yang diberi tambahan padi dan kapas di kanan dan kirinya. Cupu digunakan oleh setiap anggota dewan yang disematkan di dada masing-masing.

Selain cupu, anggota dewan periode yang akan datang juga menikmati fasilitas mebelair ruang paripurna yang baru. Kursi dan meja anggota dewan di ruang Rapat Paripurna juga baru. DPRD Sumsel telah mematok pagu anggaran Rp 700 juta untuk mebelair DPRD Sumsel.

“Rp 700 juta itu bukan saja untuk mebel di ruang rapat paripurna, tetapi juga untuk 10 ruang anggota dewan yang baru serta ruang fraksi,” jelas Sofyan.(Sripo/Jon)





Sumsel Harus swasembada daging

18 06 2009

PALEMBANG – Suasana ruang grand ballrom Aryaduta Hotel sontak hening, manakalah Gubernur Sumsel Ir H Alex Noerdin SH saat berpidato pada MoU Fasilitas Kemintraan Peternakan antara Pemprov Sumsel dengan Perkebunan, Kamis (18/6) mengebrak podium yang menimbulkan suara gaduh.

Kekesalan orang nomor satu di Sumsel ini dipicu lantaran MoU menuju Sumsel swasembada daging ini seharusnya sudah berjalan tujuh bulan lalu, tetapinyatanya baru dilakukan Juni ini.

Tidak biasanya Alex Noerdin berpidato dengan nada suara yang sedikit kencang. Namun itulah realitanya. Menurut Alex, pemerintah tidak lagi bicara soal sekolah dan berobat gratis karena kedua program ini sudah dijalankan. Sumsel kini sudah bicara soal swasembada daging yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan 12.000 ekor setiap tahun bahkan menjadi provinsi yang mampu menjual ke pasar luar (ekspor).
Alex juga mengkritik Perusahaan Perkebunan sawit yang tidak mau bermitra dalam pengembangan ternak sapi dengan pola kemitraan peternakan yang menjadi program nasional.

“Perusahaan sawit tidak cukup hanya mambayar pajak dan retribusi saja. Jumlahnya masih kecil dibanding dengan keuntungan yang sudah didapatkan,” katanya.

Dijelaskan, pemerintah tidak main-main untuk mewujudkan Sumsel sebagai swasembada daging karena sudah dianggarkan dana Rp 3,4 miliar untuk membeli 540 ekor sapi pedaging, bahkan Departemen Peternakan sudah menyiapkan dana bantuan Rp 10 miliar untuk Sumsel. Belum lagi fasilitas pinjaman dana dari Perbankan. Itu artinya, tidak ada alasan lagi untuk tidak melaksanakan program ini.

Menurutnya, luas lahan perkebunan sawit di Sumsel mencapai 600.000 hektare. Jika 100.000 haktare saja dijadikan kawasan kemitraan perternakan dengan rincian 1 hektar 2 ekor sapi, maka ada 200.000 ekor sapi yang dapat dikembangkan. “Satu tahun dan dua tahun, kita sudah mandiri dalam pengadaan sapi dan tidak butuh sapi luar lagi,” katanya.

Alex Noerdin memberikan waktu dua bulan bagi perusahaan sawit yang memiliki usia tanam diatas tujuh tahun untuk menjadi mitra pertenakan. “Kalau masih ada yang tidak mau, kita akan buat Perda untuk memaksa mereka,” kata Alex Noerdin yang manyebutkan Bengkulu yang kecil saja sudah mampu dan kini telah memiliki 100.000 ekor sapi.

Untuk pejabat Dinas Peternakan, Alex Noerdin memberikan waktu dua tahun sebagai ukuran keberhasilan. “Kalau dua tahun ini, Sumsel masih membeli sapi dari luar, saya ganti pejabatnya. Kalau pangkat dan golongannya tidak mencukupi, asal ia mampu bekerja bisa menjadi kepala dinas,” kata Alex Noerdin yang memberikan warning kepada dinas dan memberikan motivasi kepada staf lainnya. (Sripo/Fatur)





543 sopir daftar Conventer Kit di Dishub

18 06 2009

PALEMBANG – Sebanyak 543 pemilik dan sopir angkot di Kota Palembang mendaftarkan kendaraannya untuk dijadikan kendaraan angkutan kota (Angkot) berbahan bakar gas (BBG). Pemkot Palembang mulai mengubah bahan bakar minyak kepada gas untuk kendaraan angkutan umum.

Para sopir ini nanti akan dibantu masing-masing satu unit alat pengubah fungsi bahan bakar di kendaraan angkot mereka dari minyak ke gas. Nama alat itu disebut Converter Kit. Tahun ini, Pemerintah pusat memberikan sebanyak 500 unit converter kit secara gratis kepada sopir angkot di Kota Palembang.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Palembang H Edy Nursalam SE MsTr, didampingi Kepala Bidang Transportasi Jalan dan KA, Agus Supriyanto SE, ATD mengatakan pada tahun 2009 ini, sebanyak 10 kota yang mengajukan diri untuk dapat alat pengubah bahan bakar minyak ke gas hanya dua kota yang disetujui, yakni Palembang dan Bogor.

“Tahun ini Palembang dapat 500 unit alat Conventer Kit. Alat ini akan dibagikan kepada pemilik angkot yang tercatat di empat jurusan, seperti angkot Bukit Besar, Pakjo, Way Hitam dan Musi II-RRI. Karena jurusan itu bisa melewati stasiun BBG di Jl Demang Lebar Daun, “ungkap Edy Nursalam sembari menambahkan pemasangan alat Conventer kid ini paling lama menjelang akhir tahun 2009. (Sripo/Burman)





Dewan Anggarkan Rp 1 M untuk Gedung Baru

18 06 2009

PALEMBANG – DPRDSumsel menganggarkan Rp 1 miliar di APBDSumsel 2009 untuk membangun gedung anggota dewan yang baru. Sebanyak 10 ruangan tambahan bakal dibangun. Wakil Ketua DPRDSumsel Elianuddin HB yang ditemui Kamis (18/6) mengatakan, anggarannya sudah ada dan tinggal menunggu pelaksanaannya.

“Seharusnya segera dilaksanakan pembangunannya. Bila kurang dapat ditambah melalui APBDPerubahan Sumsel. Kalau menunggu dana cukup maka dikhawatirkan bakal lebih lama. Bisa-bisa di 2010 baru dibangun,” katanya.

Penambahan jumlah ruangan anggota dewan tersebut berkaitan dengan penambahan jumlah anggota dewan periode 2009-2014. Periode 2004-2009 jumlah anggota DPRDProvinsi Sumsel berjumlah 65 orang, sedangkan periode mendatang sebanyak 75 orang.

Dengan demikian dibutuhkan penambahan 10 ruangan pribadi anggota dewan.(Sripo/Jon)